Malili – Produk kuliner khas Luwu Timur bukan lagi sekadar jajanan pasar. Sejumlah produk UMKM daerah ini sudah dibawa ke panggung nasional melalui Apkasi Otonomi Expo (AOE) 2026 yang berlangsung 27 sampai 29 Agustus 2026 di Hall 3 dan 3A Indonesia Convention Exhibition, Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Expo bertema “Jelajahi Ragam Komoditas Indonesia Tanpa Batas” itu dibuka Wakil Menteri Dalam Negeri RI, Bima Arya.
Yang dibawa bukan barang acak. Ada Terasi Malili, Sagumi, Dange Juara, Crispy Pangkilang, Abon Ikan Bandeng, Keripik Nangka, Lada Batara, Matano Rice, sampai kerajinan tangan khas daerah. Daftar itu memperlihatkan satu hal penting bagi pariwisata lutim: kekuatan rasa lokal Luwu Timur sudah punya bentuk produk yang bisa dibeli, dibawa pulang, dan diceritakan ulang oleh wisatawan.
Pariwisata Lutim dan Kuliner sebagai Daya Tarik
Wisatawan yang datang ke Luwu Timur datang untuk danau, pantai, dan pegunungan. Namun hampir setiap perjalanan wisata menyisakan waktu untuk makan dan membeli oleh-oleh. Di titik itulah kuliner bekerja sebagai daya tarik kedua yang tidak bisa dipisahkan dari destinasi.
Bagi daerah yang jarak tempuhnya panjang seperti Luwu Timur, produk kuliner punya nilai strategis. Wisatawan bisa menikmati terasi atau keripik saat berkunjung, lalu memesan lagi setelah pulang. Rasa yang khas membuat produk daerah bertahan di ingatan, jauh setelah kunjungan berakhir.
Deretan Kuliner Khas Luwu Timur
Terasi Malili dan olahan hasil laut
Malili dikenal sebagai kawasan pesisir, dan terasi menjadi salah satu produk yang paling sering disebut ketika orang membicarakan oleh-oleh dari Luwu Timur. Dari hasil laut juga lahir produk lain seperti abon ikan bandeng dan Crispy Pangkilang. Kombinasi ini menunjukkan bahwa pengolahan hasil tangkap nelayan tidak berhenti di pasar ikan, tetapi berkembang menjadi produk bernilai tambah.
Bagi wisatawan, produk olahan seperti ini punya keunggulan praktis: masa simpannya lebih panjang dibanding ikan segar sehingga aman dibawa dalam perjalanan jauh.
Sagumi dan Matano Rice
Sagumi dan Matano Rice mewakili kelompok produk berbasis pangan pokok. Kehadiran keduanya di expo nasional menunjukkan bahwa Luwu Timur tidak hanya membawa camilan, tetapi juga produk pangan yang bisa masuk ke pasar lebih luas. Matano Rice bahkan memakai nama kawasan danau sebagai identitas produk, sebuah pilihan yang secara tidak langsung memperkenalkan destinasi kepada pembeli di luar daerah.
Dange Juara
Dange adalah kue tradisional masyarakat Luwu Raya yang dibuat dari bahan lokal. Nama “Dange Juara” dipakai produk Luwu Timur yang dibawa ke AOE 2026. Kuliner berbasis tradisi seperti ini punya posisi khusus: ia bukan hanya makanan, tetapi juga penanda identitas daerah. Wisatawan yang mencobanya sedang berkenalan dengan tradisi dapur masyarakat setempat, bukan sekadar membeli camilan.
Keripik Nangka dan Lada Batara
Dua produk ini menunjukkan keragaman hasil pertanian daerah. Keripik nangka mengolah buah menjadi camilan yang tahan lama, sedangkan Lada Batara mengangkat rempah menjadi produk olahan. Kehadiran rempah dalam daftar produk unggulan penting dicatat, karena Luwu Timur punya tradisi pertanian yang kuat di sejumlah kecamatan.
Dari Festival Sungai Malili ke Panggung Nasional
Jalur promosi produk lokal ini bukan hal yang tiba-tiba. Festival Sungai Malili (FSM) 2026 yang dibuka Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, pada 30 Mei 2026 di Andi Nyiwi Park menjadi ruang pertama bagi produk daerah bertemu masyarakat luas. Festival yang digelar delapan hari, 30 Mei sampai 6 Juni 2026, itu menghadirkan lomba perahu naga, pameran benda pusaka oleh Komunitas Pompessi Lutim, karnaval budaya, hingga expo UMKM.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga sekaligus Ketua Panitia FSM 2026, Muhammad Safaat DP, menyebut festival itu dirancang untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menjadi penggerak ekonomi. Usai pembukaan, Bupati meninjau stand expo UMKM dan mencicipi produk kuliner serta kerajinan dari berbagai kecamatan, termasuk produk yang kemudian dibawa ke AOE 2026.
Perjalanan dari expo daerah ke expo nasional memberi keuntungan nyata. Di AOE 2026, produk Luwu Timur bertemu pembeli, mitra dagang, dan investor dari luar Sulawesi. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Luwu Timur, Agus Thobrani, menyebut keikutsertaan itu sebagai upaya menunjukkan bahwa produk lokal tidak kalah bersaing dari sisi kualitas maupun inovasi, sekaligus membuka peluang kolaborasi lebih luas.


