Danau Matano, salah satu ikon destinasi Luwu Timur yang berada di Kecamatan Nuha, kembali menjadi perhatian setelah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan mengumpulkan pemerintah, perusahaan, dan lembaga terkait dalam satu forum di Hotel Mireya, Sorowako, Rabu (23/9/2026). Forum itu disiapkan sebagai jalan menuju deklarasi bersama kolaborasi multipihak untuk pengelolaan Danau Matano yang berkelanjutan.
Bagi warga Luwu Timur, pertemuan ini bukan sekadar agenda seremonial. Matano adalah danau terdalam di Asia Tenggara dan menjadi salah satu alasan utama orang datang ke Sorowako, baik untuk penelitian, wisata minat khusus, maupun kunjungan singkat ke kawasan Nuha.
Destinasi Luwu Timur Danau Matano dan Persoalan Koordinasi
Kepala Bidang Teknis BBKSDA Sulsel, Eru N. Dahlan, mengakui persoalan utama pengelolaan Danau Matano selama ini bukan pada ketiadaan program, melainkan pada minimnya koordinasi antarlembaga.
Ia mencontohkan berbagai kegiatan pelestarian yang berjalan terpisah berpotensi tumpang tindih, atau justru meninggalkan celah yang tidak tergarap sama sekali.
“Kami coba undang semua stakeholder yang terkait untuk sama-sama sampaikan pandangan, apa yang sudah dilakukan, dan apa rencana ke depan,” kata Eru seperti dikutip dari pemberitaan Karebata.id.
Dalam kerangka pariwisata, temuan itu relevan langsung. Ketika program konservasi berjalan sendiri-sendiri, kawasan wisata di sekitar danau bisa kekurangan fasilitas dasar, penataan akses, maupun kesepakatan soal batas aman aktivitas pengunjung.
Pada titik inilah forum multipihak menjadi penting: menyamakan peta kerja antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pengelola kawasan konservasi, perusahaan, dan masyarakat pemilik aktivitas ekonomi di tepi danau.
Program Konservasi yang Menyentuh Ekonomi Warga
Sebagai pihak yang beroperasi di sekitar kawasan, PT Vale Indonesia Tbk memaparkan sejumlah program konservasinya dalam forum tersebut. Perusahaan menyebut pendekatan yang dipakai tidak berhenti pada aspek lingkungan, tetapi juga menyentuh manfaat ekonomi warga.
Senior Coordinator PTPM Livelihood PT Vale Indonesia, Sainab Husain Paragay, menjelaskan salah satu program yang berjalan adalah Program PPM Konservasi Matano Iniaku. Cakupannya meliputi pengembangan agroforestri dan nursery komunitas, rehabilitasi daerah aliran sungai, pengembangan ekowisata, penguatan ekonomi kreatif, hingga peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.
“Upaya konservasi tidak dapat berdiri sendiri. Kita membutuhkan keterlibatan masyarakat dan dukungan berbagai pihak agar program yang dilakukan dapat memberikan dampak yang berkelanjutan,” ujar Sainab.
Selain itu, perusahaan memaparkan pemanfaatan tanaman invasif Hydrilla sebagai bahan baku pupuk kompos. Ada pula pemanfaatan ikan invasif seperti sapu-sapu dan louhan menjadi tepung ikan atau pakan ternak. Program itu melibatkan kelompok pemuda peduli lingkungan, nelayan, serta kelompok spearfishing.
Dari sisi operasional, Specialist Biodiversity PT Vale, Andri Ardiansyah, menyebut perusahaan memiliki sistem pengelolaan air limpasan tambang sebelum dilepas ke badan air, dengan pemantauan agar sesuai baku mutu lingkungan. Rincian program itu juga dipaparkan dalam pemberitaan Lutimterkini pada hari yang sama.
- Pengendalian tanaman invasif di badan danau dan kawasan sekitar.
- Pengolahan ikan invasif menjadi produk bernilai ekonomi bagi kelompok warga.
- Pengelolaan air limpasan tambang dengan pemantauan baku mutu.
- Penguatan ekowisata sebagai jalur pendapatan alternatif bagi warga.
Catatan Transparansi untuk Pembaca
Penting dicatat, klaim-klaim tersebut disampaikan secara sepihak oleh perusahaan dalam forum yang turut didukung pendanaannya oleh PT Vale sendiri. Karena itu, capaian program sebaiknya dibaca sebagai keterangan pihak yang menjalankan, bukan hasil audit independen.
Untuk destinasi luwu timur yang sebesar Danau Matano, keterbukaan data menjadi syarat kredibilitas. Wisatawan, peneliti, dan warga yang bergantung pada kunjungan perlu bisa mengakses informasi kondisi perairan dari sumber yang dapat diverifikasi.
Kabar baiknya, forum BBKSDA Sulsel memberi ruang bagi pihak lain untuk menyampaikan pandangan, termasuk apa yang sudah dilakukan dan rencana ke depan. Ruang itu sebaiknya tidak berhenti pada pertemuan tunggal.


