Selasa, 29 September 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Pariwisata Lutim: Laawaa River dan Wisata Warga Matano

28 September 2026 • Admin • 14 kali dibaca
Laawaa River, destinasi pariwisata lutim di Desa Matano, Kecamatan Nuha, Luwu Timur
Gambar: PELAKITA.ID (dokumentasi kawasan wisata Laawaa River, Desa Matano, Luwu Timur).
ASM Group
Iklan

Pariwisata Lutim tidak selalu dimulai dari proyek besar. Di Desa Matano, Kecamatan Nuha, sebuah kawasan sungai bernama Laawaa River tumbuh menjadi tujuan kunjungan akhir pekan yang dikelola langsung oleh warga. Destinasi ini berada sekitar satu jam perjalanan dari Sorowako dan kini dikenal sebagai salah satu pilihan wisata alam lokal di Kabupaten Luwu Timur.

Yang membuat Laawaa menarik bukan hanya panoramanya. Kawasan ini dikelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Matano bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dengan dukungan program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale Indonesia, khususnya pada aspek penguatan kapasitas pengembangan masyarakat dan lingkungan. Pola pengelolaan seperti ini menempatkan warga sebagai pemilik sekaligus penjaga destinasi.

Pariwisata Lutim: Laawaa River dan Pesona Sungai Menuju Danau

Laawaa menawarkan pengalaman berwisata yang sederhana. Suasana sejuk dan tenang menyambut pengunjung begitu memasuki kawasan. Gemericik air sungai, hembusan angin, dan riak ombak danau berpadu dengan kicauan burung serta suara satwa hutan di sekitarnya.

Karena karakter itulah kunjungan ke Laawaa lebih banyak diisi kegiatan santai: menikmati panorama sungai, berjalan menyusuri tepian, duduk bersama keluarga, atau sekadar melepas penat dari rutinitas. Kawasan ini juga menjadi alternatif bagi warga Sorowako dan sekitarnya yang ingin menikmati alam tanpa menempuh perjalanan jauh.

Tata Atur
Iklan

Pengunjung perlu tahu satu hal penting: hingga saat ini belum ada informasi resmi yang terverifikasi mengenai tarif masuk, jam operasional, maupun nomor kontak pengelola. Informasi tersebut sebaiknya dikonfirmasi langsung kepada pemerintah desa atau pengurus BUMDes dan Pokdarwis setempat agar tidak keliru saat merencanakan kunjungan.

Dikelola Warga: Peran BUMDes dan Pokdarwis

Pengelolaan Laawaa menunjukkan bagaimana pariwisata lutim bisa bertumpu pada kelembagaan desa. BUMDes Matano mengambil peran dalam tata kelola kawasan, sementara Pokdarwis menggerakkan kesadaran warga akan nilai wisata di lingkungan mereka. Dua lembaga itu bekerja bersama pemerintah desa.

Dukungan yang datang bukan hanya dari perusahaan. Sejumlah pihak pernah berkunjung ke kawasan ini, mulai dari kementerian, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), perguruan tinggi, hingga Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa destinasi kecil berbasis desa bisa diperhitungkan dalam peta wisata daerah.

Mengapa model pengelolaan ini penting

  • Pendapatan kunjungan berputar di desa, bukan keluar dari wilayah.
  • Warga mendapat peran langsung sebagai pengelola, penjaga kebersihan, hingga penyedia jasa.
  • Kelestarian lingkungan lebih terjaga karena penjaga utama destinasi adalah orang yang tinggal di sekitarnya.
  • Destinasi menjadi ruang belajar bagi desa lain yang ingin mengembangkan potensi serupa.

Bagi Kabupaten Luwu Timur, keberadaan destinasi seperti Laawaa melengkapi wajah pariwisata daerah yang selama ini identik dengan tiga danau besar. Wisata alam skala desa memberi nilai tambah pada ekonomi lokal tanpa menuntut pembangunan besar.

Laawaa di Tengah Sistem Danau Malili

Laawaa berada di kawasan yang secara geografis bertaut dengan sistem Danau Malili, kompleks tiga danau purba: Matano, Mahalona, dan Towuti. Kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 274/Kpts/Um/4/1979 tanggal 24 April 1979, dengan pengelolaan berada di ranah Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan.

Danau Matano dikenal sebagai danau terdalam di Asia Tenggara dengan kedalaman sekitar 590 meter. Kawasan hutan Cagar Alam Faruhumpenai di sekitarnya berperan penting menjaga kestabilan debit air danau melalui sungai-sungai yang mengalir ke dalamnya. Air dari Matano kemudian mengalir ke Mahalona dan Towuti dalam satu sistem hidrologi yang saling terhubung.

Karakter itulah yang membuat kawasan ini diminati wisatawan minat khusus. Aktivitas seperti menyelam dan menjelajah kawasan hutan menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi pengunjung yang mencari pengalaman alam yang berbeda dari wisata pantai biasa.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga