Sembilan desa pesisir di Luwu Timur sedang berubah wajah lewat proyek Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Pembangunan fisik baru rampung rata-rata seperlima dari target atau sekitar 20 persen, tetapi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui Dinas Perikanan sudah mengajukan usulan baru: perluasan titik lokasi KNMP dan program budidaya tematik untuk tahun anggaran 2027 kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia.
Usulan itu mengemuka saat Penasihat Menteri KKP RI, Y. Paonganan, meninjau langsung titik-titik pembangunan KNMP di tiga kecamatan, yakni Malili, Wotu, dan Burau, pada akhir pekan lalu.
Luwu Timur dan sembilan titik Kampung Nelayan Merah Putih
Sembilan desa yang menjadi lokasi proyek adalah Harapan, Pasi-Pasi, Wewangriu, dan Lakawali Pantai di Kecamatan Malili; Lampenai, Bawalipu, dan Balo-balo di Kecamatan Wotu; serta Mabonta dan Burau Pantai di Kecamatan Burau. Semuanya desa pesisir yang selama ini menggantungkan penghidupan pada hasil laut.
Pilihan lokasi menunjukkan arah kebijakan yang berbasis potensi wilayah. Kawasan pesisir Luwu Timur memiliki garis pantai panjang dan tradisi nelayan yang kuat, tetapi juga menghadapi keterbatasan sarana, akses pasar, dan kepastian harga hasil tangkapan.
Sisi personal kunjungan penasihat menteri
Dalam kunjungan tersebut, Y. Paonganan menyambut positif inisiatif Pemkab Luwu Timur dan berjanji mengawal proses pengusulan ke kementerian.
“Segera masukkan pengusulan titik untuk tahun depan, kami siap bantu prosesnya,” katanya di hadapan jajaran dinas, penyuluh, camat, kepala desa, hingga pengurus Koperasi Desa KNMP.
Ia mengaku memiliki ikatan emosional dengan Luwu Timur karena pernah bersekolah di Kalaena Kiri pada 1971. Bagi Paonganan, hal itu menjadi alasan tambahan mendorong percepatan pembangunan pesisir di daerah ini. Sisi personal semacam itu jarang muncul dalam kunjungan kerja, tetapi setidaknya memberi gambaran bahwa komunikasi antara daerah dan kementerian berjalan.
Progres 20 persen dan usulan perluasan tahun 2027
Menurut laporan yang dihimpun dari pemberitaan Karebata.id, pembangunan fisik KNMP di Luwu Timur baru selesai sekitar seperlima dari target. Kondisi ini bukan hal ganjil untuk proyek yang dikerjakan serentak di banyak titik, sebab pekerjaan menyangkut penyiapan lahan, konstruksi fasilitas, hingga penataan kawasan.
Sekretaris Dinas Perikanan Luwu Timur, Heriwanto Manda, menyebut kehadiran proyek strategis nasional ini sebagai berkah bagi daerah.
“Program ini sangat sejalan dengan visi Bupati Irwan Bachri Syam dalam mewujudkan Luwu Timur Maju dan Sejahtera, khususnya dalam menaikkan taraf hidup para nelayan di sepanjang pesisir,” ujarnya, Sabtu (26/9/2026).
Bersamaan dengan peninjauan itu, daerah menyampaikan dua usulan ke pusat: perluasan titik KNMP dan program budidaya tematik untuk 2027. Budidaya tematik yang dimaksud diarahkan pada komoditas yang sesuai karakteristik perairan setempat, meski rincian jenis dan lokasinya masih menunggu pembahasan lanjutan bersama kementerian.
KNMP sebagai proyek strategis nasional berbasis koperasi
Paonganan menegaskan KNMP masuk daftar Proyek Strategis Nasional. Tujuannya, mengubah kawasan pesisir menjadi pusat ekonomi modern berbasis koperasi. Karena itu ia meminta seluruh pihak, termasuk masyarakat, ikut mengawasi jalannya proyek agar sembilan titik di Luwu Timur bisa menjadi contoh nasional.
Skema berbasis koperasi memberi konsekuensi tersendiri. Bukan hanya bangunan fisik yang dibangun, tetapi juga kelembagaan warga: pengurus koperasi, administrasi keuangan, dan tata kelola usaha yang harus berjalan setelah proyek selesai. Tanpa penguatan kelembagaan, fasilitas yang dibangun berisiko tidak termanfaatkan optimal.
Di tingkat nasional, KKP menegaskan aspek keberlanjutan program ini. Pembangunan KNMP pada 2025 menyasar 100 kampung, lalu dilanjutkan dengan 1.000 kampung lainnya pada 2026 hingga 2027. KKP juga menyiapkan sejumlah kampung untuk mulai beroperasi pada awal 2027.


