SUARALUTIM.COM, MALILI — Perbincangan soal tambang luwu timur biasanya berputar pada produksi, investasi, dan lapangan kerja. Namun di Perpustakaan Daerah Malili, ada ruang lain yang dibangun untuk memperkenalkan industri nikel dari sisi pengetahuan: Vale Nickel Corner. Fasilitas ini menjadi pintu masuk bagi pelajar dan masyarakat umum untuk memahami rantai kerja pertambangan, mulai dari batuan, pengolahan, hingga praktik keberlanjutannya.
Tambang Luwu Timur dan Ruang Literasi di Perpustakaan Malili
Vale Nickel Corner menempati area seluas sekitar 70 meter persegi di Perpustakaan Daerah Malili. Di dalamnya tersedia beragam materi edukasi, mulai dari koleksi audio visual, contoh batuan mineral, produk olahan nikel, hingga informasi mengenai praktik pertambangan berkelanjutan. Pengunjung juga dapat memperoleh penjelasan mengenai prinsip environmental, social, and governance atau ESG yang menjadi bagian dari operasi industri modern.
Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Luwu Timur, Noviya Syahriani Syam, menilai kehadiran fasilitas itu memberi nilai tambah bagi layanan perpustakaan. Menurutnya, Nickel Corner menjadi wadah untuk memperkenalkan literasi pertambangan kepada anak sekolah, mulai tingkat dasar hingga sekolah menengah atas.
“Pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Luwu Timur sangat berterima kasih dan mengapresiasi pihak PT Vale Indonesia atas kontribusi dalam menyiapkan Vale Corner di kantor kami sebagai wadah untuk memperkenalkan literasi tambang di Luwu Timur kepada anak-anak sekolah mulai dari tingkat dasar sampai SMA yang berkunjung ke kantor kami,” ujar Noviya, seperti dikutip Metro TV, Selasa (29/9/2026).
Terbuka untuk pelajar dan masyarakat umum
Layanan ini tidak hanya menyasar kunjungan sekolah. Menurut Noviya, perpustakaan membuka layanan pada hari Sabtu sehingga masyarakat umum juga bisa datang memperoleh informasi tentang aktivitas pertambangan, khususnya yang berjalan di Luwu Timur.
Bagi pelajar, pengalaman melihat contoh batuan dan produk olahan memberi gambaran konkret yang sulit didapat dari buku. Salah seorang siswi SMPN 2 Malili, Marzahra Nasrul Syahputri, mengaku mendapatkan pengetahuan baru bahwa aktivitas perusahaan tambang tidak hanya berkaitan dengan penggalian, tetapi juga konservasi lingkungan.
“Senang dengan hadirnya Vale Nickel Corner yang memberikan pengetahuan baru tentang Vale bahwa Vale bukan hanya sekadar pertambangan, tetapi juga melakukan konservasi keanekaragaman hayati, reklamasi lahan bekas tambang, restorasi dan konservasi kawasan pesisir,” kata Marzahra.
Gagasan Museum Dunia Nikel
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mendorong pengembangan fasilitas ini ke tahap yang lebih luas. Salah satu gagasan yang disuarakan adalah menjadikannya Museum Dunia Nikel, dengan fungsi ganda sebagai ruang edukasi sekaligus destinasi wisata industri yang memperkenalkan sejarah dan perkembangan nikel kepada masyarakat dan pengunjung dari daerah lain.
Jika terealisasi, Luwu Timur akan memiliki ikon edukasi yang jarang dimiliki daerah penghasil tambang lain. Konsep itu sejalan dengan posisi Sorowako sebagai salah satu kawasan tambang nikel laterit tertua yang masih beroperasi, sekaligus bagian dari sabuk nikel Sulawesi yang menjadi pemasok bahan baku baterai kendaraan listrik.
Vokasi dan Kesiapan Tenaga Kerja Lokal
Penguatan literasi industri berjalan bersama pengembangan sumber daya manusia. Salah satu institusi yang menjalankan fungsi itu adalah Politeknik Sorowako. Ketua Yayasan Pendidikan Sorowako, Firman Fauzie, menjelaskan politeknik tersebut berdiri pada 1991 dengan fokus pendidikan vokasi untuk meningkatkan kesiapan kerja masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
“Politeknik Sorowako di bawah wilayah pendidikan Sorowako didirikan tahun 1991 dan memang fokusnya adalah untuk pendidikan vokasi. Jadi merupakan salah satu bentuk komitmen PT Vale Indonesia terhadap employability dari masyarakat sekitar di mana PT Vale Indonesia beroperasi,” ujarnya.
Politeknik Sorowako kini memiliki tiga program studi yang diarahkan mencetak tenaga kerja terampil, khususnya untuk sektor pertambangan. Selain pendidikan formal, tersedia pelatihan Vocational Short Term Training yang berlangsung dua hingga tiga bulan. Menurut Firman, pelatihan itu dilaksanakan hingga dua batch dalam setahun dengan peserta yang diusulkan pemerintah desa dari wilayah pemberdayaan.
Dari sisi fasilitas, mahasiswa memanfaatkan laboratorium produksi CNC untuk menunjang praktik. Fitri Oktaviani, mahasiswi program D3 PPM dengan spesialisasi mechanical drafting, menyebut dukungan peralatan praktik menjadi salah satu faktor yang membantu proses belajar.
Mengapa literasi industri penting bagi warga sekitar
Daerah yang hidup berdampingan dengan industri ekstraktif menghadapi tantangan pemahaman. Warga perlu mengetahui apa yang dikerjakan perusahaan, bagaimana dampaknya dikelola, dan peluang apa yang tersedia bagi generasi muda. Tanpa akses informasi yang layak, perdebatan soal tambang cenderung berhenti pada keluhan atau klaim tanpa dasar.
Karena itu, kehadiran ruang edukasi seperti Vale Nickel Corner memberi manfaat dua arah. Masyarakat mendapatkan penjelasan langsung, sementara perusahaan memiliki kanal komunikasi yang tidak bergantung pada pertemuan formal.


