Lutim, SuaraLutim – Kabar menggembirakan bagi warga yang mencari alternatif liburan akhir pekan: kawasan wisata luwu timur di sekitar Danau Matano kini punya satu titik baru yang mulai dilirik, yaitu Laa Waa River Park. Destinasi ini berada di kawasan Desa Wisata Matano, Kecamatan Nuha, dan menawarkan pengalaman menyusuri sungai jernih yang bersumber dari kawasan danau purba tersebut. Nama Laa Waa mulai dikenal lebih luas setelah Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparmudora) Kabupaten Luwu Timur mendampingi rombongan wisatawan yang menjelajahi sejumlah titik unggulan di kawasan Matano.
Perjalanan itu bukan sekadar kunjungan biasa. Rombongan diajak mengikuti rangkaian rute yang menampilkan tiga karakter wisata berbeda dalam satu kawasan: mata air yang muncul dari dasar danau, sungai jernih dengan wahana air, lalu gua berair yang menuntut sedikit jiwa petualang. Bagi Disparmudora, rute semacam ini menjadi bahan promosi agar agen perjalanan memasukkan destinasi Luwu Timur ke dalam paket wisata mereka.
Wisata Luwu Timur: Laa Waa River Park dan Rute Ekowisata Danau Matano
Kepala Disparmudora Kabupaten Luwu Timur, Muhammad Safaat, menyatakan kolaborasi antara pemerintah daerah dan pelaku perjalanan menjadi salah satu strategi memperluas promosi wisata. Harapannya sederhana: kunjungan wisatawan bertambah, dan dampaknya terasa pada perekonomian masyarakat sekitar kawasan danau.
“Melalui kolaborasi bersama agen perjalanan, kami berharap promosi destinasi wisata berbasis lingkungan di Luwu Timur semakin luas, sehingga mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat,” ujar Safaat dalam keterangan yang dipublikasikan situs resmi Disparmudora Luwu Timur.
Kawasan Danau Matano dikenal sebagai danau terdalam di Asia Tenggara. Kondisi itu membuat kawasan sekitarnya memiliki karakter alam yang khas, mulai dari air yang sangat jernih, vegetasi yang masih rapat, hingga keberadaan mata air yang keluar dari dasar danau. Karakter inilah yang membuat sejumlah titik di kawasan Nuha cocok dikembangkan sebagai destinasi berbasis alam, bukan wisata buatan berskala besar.
Mata air Bura-Bura: pembuka perjalanan di Desa Wisata Matano
Titik pertama yang biasa dikunjungi adalah Objek Wisata Mata Air Bura-Bura. Lokasinya berada di Desa Wisata Matano dan menjadi salah satu ikon kawasan. Daya tarik utamanya adalah gelembung-gelembung alami yang muncul dari dasar air, pertanda adanya aliran mata air yang terus mengalir. Pengunjung umumnya datang untuk melihat fenomena itu dari dekat, lalu melanjutkan perjalanan ke titik berikutnya.
Suasana di sekitar Bura-Bura digambarkan asri dan sejuk. Karena berada di kawasan desa wisata, titik ini juga menjadi pintu masuk bagi warga yang ingin menawarkan jasa pemandu lokal atau kuliner rumahan. Pola seperti ini penting bagi desa wisata, sebab manfaat kunjungan tidak hanya dirasakan pengelola objek, tetapi juga warga yang menyediakan layanan pendukung.
Laa Waa River Park: kayak, seluncur ban, dan sungai jernih
Dari Bura-Bura, perjalanan berlanjut ke Laa Waa River Park. Destinasi ini dikenal karena kejernihan airnya. Menurut laporan Disparmudora, pengunjung tampak antusias mencoba wahana bermain kayak, berseluncur menggunakan ban di aliran air, hingga berenang di sungai yang dikelilingi vegetasi hijau yang masih alami.
Kombinasi wahana dan suasana alam itu membuat Laa Waa cocok bagi keluarga maupun kelompok remaja. Namun, seperti halnya wisata air di sungai, keselamatan tetap bergantung pada kedisiplinan pengunjung dan kesiapan pengelola. Calon pengunjung sebaiknya mengikuti arahan petugas, memakai pelampung bila disediakan, dan menghindari berenang saat debit air sedang tinggi.
Yang perlu dicatat, informasi soal tarif, jam operasional, dan penyewaan perlengkapan tidak kami cantumkan di sini karena data resmi terbaru untuk hal itu belum tersedia. Warga dan calon pengunjung dianjurkan menanyakan langsung kepada pengelola atau menyimak kanal resmi pemerintah daerah sebelum berangkat.
Mengapa Disparmudora Mendorong Paket Wisata Danau Matano
Langkah Disparmudora mendampingi rombongan wisatawan merupakan bagian dari upaya memperkuat posisi ekowisata Luwu Timur. Pemerintah daerah menyebut kolaborasi dengan agen perjalanan sebagai cara memperkenalkan destinasi ke pasar yang lebih luas. Pendekatan ini berbeda dari sekadar promosi di media sosial, karena agen perjalanan menyusun rute, waktu kunjungan, hingga layanan pendampingan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta menempuh beberapa titik dalam satu perjalanan. Rangkaiannya dimulai dari Taman Kehati Sawerigading Wallacea di Sorowako, berlanjut ke Bura-Bura dan Laa Waa River Park, lalu ditutup dengan menyusuri Goa Air. Data soal kegiatan itu pernah diberitakan pula oleh media daerah, antara lain dalam laporan Respublica.
Bagi daerah, hasil yang diharapkan bukan hanya kunjungan sesaat. Pemerintah daerah berharap destinasi seperti Laa Waa masuk ke dalam paket perjalanan tetap, sehingga kunjungan wisatawan lebih terencana dan berkelanjutan. Efek lanjutannya adalah permintaan terhadap jasa penginapan, transportasi lokal, pemandu, dan kuliner di sekitar kawasan Nuha.


