Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Suara Warga

Zakat Luwu Timur: Kelas UMKM WIZ Dorong Usaha Mikro

3 Oktober 2026 • Admin • 20 kali dibaca
Peserta Kelas UMKM Batch 2 WIZ dan Umarayn di Makassar menyimak materi branding dan promosi usaha mikro, relevan bagi pelaku usaha dan zakat Luwu Timur
Dok. Wahdah Inspirasi Zakat (wiz.or.id)
ASM Group
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI – Zakat Luwu Timur tidak berhenti pada bantuan yang habis dalam sehari. Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) kembali menggelar Kelas UMKM Batch 2 di Makassar, Sabtu (19/9/2026), bersama komunitas Umarayn. Kegiatan itu menempatkan dua hal yang kerap luput dari perhatian pelaku usaha kecil sebagai bahan utama: membangun identitas produk dan mempromosikannya secara tepat sasaran.

Kelas ini diikuti 39 peserta dari berbagai bidang usaha, dengan rincian 30 orang hadir langsung dan 9 orang mengikuti secara daring. Seperti yang ditulis di laman resmi WIZ, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang belajar interaktif, bukan sekadar kelas teori.

Zakat Luwu Timur dan Pilihan Pemberdayaan

Ada dua wajah dana zakat, infak, dan sedekah. Wajah pertama adalah santunan cepat saat warga menghadapi musibah. Wajah kedua adalah pembinaan yang berjalan lebih panjang, agar keluarga penerima manfaat tidak kembali ke titik awal beberapa bulan kemudian.

WIZ adalah lembaga amil zakat nasional (LAZNAS) yang berdiri atas dasar Surat Keputusan Kementerian Agama Republik Indonesia No. 511/2019. Lembaga ini mengelola zakat, infak, sedekah, serta dana kemanusiaan lewat lima program utama: dakwah, tahfizh, pendidikan, kemandirian, dan kesehatan.

Tata Atur
Iklan

Pilar kemandirian inilah yang menyentuh langsung pelaku usaha mikro. Dari pedagang di pasar hingga pemilik usaha rumahan yang memasarkan produk dari rumah, kendala yang paling sering muncul bukan hanya soal modal, tetapi juga cara memperkenalkan produk kepada pembeli yang lebih luas.

Di Luwu Timur, jaringan usaha kecil tersebar dari Malili, Nuha, dan Towuti hingga wilayah Kalaena dan Angkona. Keterampilan memasarkan produk menjadi bekal yang sama pentingnya dengan penambahan peralatan kerja.

Apa yang Dibahas di Kelas UMKM Batch 2

Fasilitator Program WIZ, Muhammad Dwi Aprinandhi, menjelaskan alasan WIZ menyiapkan kelas ini. “Melalui Kelas UMKM Batch 2 ini, kami ingin mendampingi para pelaku usaha agar tidak hanya fokus pada proses produksi, tetapi juga paham cara membangun identitas produk (branding) serta cara mempromosikannya secara efektif. Kami berharap ilmu yang didapat hari ini bisa langsung diterapkan dalam aktivitas bisnis sehari-hari,” ujarnya, seperti dikutip laman resmi wiz.or.id.

Sesi pembelajaran menghadirkan Pemilik Mizuta, Muh. Fadel, S.H., M.H., sebagai pemateri utama. Menurut pria yang akrab disapa Fadel itu, branding bukan sekadar urusan membuat logo atau menempelkan nama usaha. Branding adalah proses membangun citra, karakter, dan pengalaman positif yang melekat di benak konsumen.

Selain itu, peserta dibekali pemahaman soal strategi promosi yang tepat sasaran. Fadel membagikan pengalaman praktisnya mengelola Mizuta, mulai dari teknik berkomunikasi dengan calon pelanggan hingga memilih saluran promosi yang sesuai dengan target pasar masing-masing.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara, baik dalam diskusi tatap muka maupun interaksi peserta yang bergabung melalui saluran daring. WIZ dan Umarayn menyatakan komitmen untuk terus membuka ruang belajar bagi pelaku UMKM agar tumbuh, mandiri, dan berkembang secara berkelanjutan.

Dari Bantuan Modal ke Usaha yang Bertahan

Langkah kelas UMKM ini berjalan sejalan dengan program penyaluran modal usaha. WIZ berkolaborasi dengan Yotta menyalurkan bantuan modal dan sarana usaha kepada lima pelaku usaha mikro di Kota Makassar dan Kabupaten Pinrang.

Pola penyaluran seperti itu sering disebut zakat produktif. Dana yang dihimpun dari muzakki tidak hanya dipakai untuk kebutuhan konsumtif, tetapi diubah menjadi alat kerja, tambahan stok, atau sarana usaha lain yang bisa memutar penghasilan penerimanya.

Logikanya sederhana. Bantuan konsumtif menjawab kebutuhan hari ini. Bantuan produktif menyiapkan penghasilan untuk bulan-bulan berikutnya. Keduanya dibutuhkan pada waktu yang berbeda, dan keduanya mesti berjalan dengan pencatatan yang rapi supaya penyaluran tepat sasaran.

Bagi pelaku usaha kecil di Luwu Timur, urutan itu terasa masuk akal: setelah modal dan peralatan tersedia, kemampuan memasarkan produk akan menentukan apakah usaha itu bertahan atau berhenti di tengah jalan.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga