Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Tambang & Industri

Berita Tambang Nasional: Tahan Produksi demi Nilai Ekspor

7 Oktober 2026 • Admin • 24 kali dibaca
ASM Group
Iklan

Jakarta — Berita tambang nasional pekan ini dibuka oleh satu proyeksi yang
menegaskan arah baru kebijakan mineral Indonesia. Sekretaris Eksekutif Dewan Ekonomi Nasional (DEN),
Septian Hario Seto, menyatakan nilai ekspor produk nikel Indonesia sepanjang 2026 diperkirakan
menembus sekitar US$40 miliar, meski volume ekspor dalam satuan ton metal justru turun sekitar 3,8
persen. Hingga Agustus 2026, kata dia, nilai ekspor produk nikel sudah mencapai US$25–26 miliar.
Bagi Luwu Timur yang menjadi salah satu pusat produksi nikel nasional lewat kawasan Sorowako di
Kecamatan Nuha, arah kebijakan ini menentukan bukan hanya penerimaan negara, tetapi juga denyut
ekonomi daerah.

Berita Tambang Nasional: Mengendalikan Pasokan, Menahan Harga

Seto menyampaikan proyeksi itu dalam agenda Big Downstream Insights 2026 di Jakarta, Selasa
(6/10/2026), sebagaimana dilaporkan Suara.com. Ia menjelaskan, posisi Indonesia sebagai
pemasok nikel dunia sudah berubah: produksi nikel nasional kini disebut menguasai sekitar
65–66 persen produksi global, naik drastis dibanding periode 2020–2022 yang masih di
kisaran 30 persen.

Karena posisinya sudah dominan, menurut Seto, persoalannya bukan lagi mengejar volume, melainkan
mengatur agar pasar global tidak kelebihan pasokan. Ia menyebut pengendalian Rencana Kerja dan
Anggaran Biaya (RKAB) yang dijalankan Kementerian ESDM sebagai langkah yang tepat.

“Kalau memang kita sudah dominan, kita sudah besar, ya artinya kita punya market
power untuk exercise. Supaya bagaimana kita tidak membuat kondisi marketnya oversupply sehingga
harganya jatuh,” ujarnya.

Tata Atur
Iklan

Seto juga menyoroti pola yang jarang terlihat: ketika volume nikel dalam ton metal turun 3,8
persen, nilai ekspornya justru naik hampir 17 persen.

Angka itu tetap proyeksi pejabat, bukan realisasi final. Yang sudah jelas, kebijakan menahan
produksi kini menjadi instrumen utama pemerintah, dengan risiko yang diwaspadai: kelebihan pasokan
dari ekspansi smelter dan fasilitas pengolahan nikel berteknologi high pressure acid leaching (HPAL)
yang tumbuh cepat.

Kuota RKAB 2026 Tidak Ditambah

Arah itu sejalan dengan sikap Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM.
Pemerintah memastikan tidak ada tambahan kuota produksi nikel untuk 2026, kecuali bagi smelter yang
masih kekurangan pasokan bahan baku. Kuota nikel tahun ini ditetapkan pada kisaran 260–270
juta ton, turun jauh dari persetujuan RKAB 2025 yang mencapai 379 juta ton.

“Untuk nikel tidak ada kenaikan, kecuali hanya mengejar yang untuk smelter yang masih
kurang suplai,” ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Tri Winarno, seperti dikutip
ANTARA News.

Kebijakan itu punya dua sisi. Harga di pasar global memang lebih terjaga dibanding saat produksi
dibiarkan melimpah, tetapi kebutuhan bahan baku industri pengolahan dalam negeri tidak ikut turun.
Sejumlah analisis pasar mencatat kapasitas pengolahan nikel nasional membutuhkan pasokan bijih lebih
besar daripada kuota yang disetujui, sehingga sebagian kebutuhan ditutup dari bijih impor, terutama
dari Filipina.

Tekanan harga global sendiri belum berbalik. Mengacu data pasar yang dihimpun Trading Economics,
harga nikel pada awal Oktober 2026 bergerak di bawah US$15.650 per ton, level terendah sejak
Desember 2025, antara lain karena stok di bursa logam meningkat. Gejala lain yang dicatat pasar:
kekurangan air membuat beberapa smelter di kawasan industri Morowali mengurangi produksi.

Di pasar domestik, tekanan harga datang tidak merata. Data Indonesia Nickel Price Index (INPI)
yang dirilis Asosiasi Penambang Nikel Indonesia bersama Shanghai Metals Market mencatat, pada 5
Oktober 2026 harga rata-rata bijih nikel kadar 1,2 persen CIF berada di US$25,5 per metrik ton atau
turun US$1, sementara kadar 1,6 persen CIF turun US$4,4 menjadi US$59 per metrik ton. Sebaliknya,
harga nickel pig iron (NPI) justru naik tipis menjadi US$134,65 per metrik ton, sedangkan high grade
nickel matte dan mixed hydroxide precipitate (MHP) kembali melemah. Artinya, beban koreksi paling
berat masih ditanggung pemasok bijih. Pola pemangkasan kuota dan koreksi harga bijih pernah dibahas
sebelumnya dalam artikel Tambang Luwu Timur: Pelajaran Pemangkasan Nikel Morowali.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga