Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Luwu Timur — Bagi pengusaha muda di Luwu Timur, pasar ekspor sering terdengar jauh: identik dengan perusahaan besar, modal raksasa, dan jaringan luar negeri. Padahal, sebagian komoditas yang mereka hasilkan sudah lama menembus pasar dunia. Di titik itulah Andi Amar Ma’ruf Sulaiman, Anggota DPR RI Komisi III Fraksi Gerindra yang juga Ketua Umum BPD HIPMI Sulawesi Selatan, menempatkan kerja kaderisasi sebagai pintu masuk: menyiapkan pengusaha muda agar tidak berhenti menjadi penonton di negeri sendiri.
Sepanjang 2026, HIPMI Sulawesi Selatan di bawah kepemimpinannya merancang ulang cara organisasi itu membina anggotanya. Fokusnya bergeser dari urusan administratif organisasi ke pembentukan mental dan kepemimpinan pribadi. Bagi Luwu Timur—kabupaten yang tengah bergeliat karena investasi industri—perubahan cara pembinaan ini punya arti praktis: menentukan apakah pelaku usaha lokal naik kelas menjadi pemasok dan eksportir, atau justru hanya menjadi pasar bagi produk dari luar.
Empat Komoditas Luwu Timur yang Sudah Tembus Pasar Dunia
Bahwa Bumi Batara Guru bukan hanya tentang tambang sudah lama disampaikan pemerintah. Pada puncak Hari Jadi Luwu Timur ke-22 di Malili, 19 Mei 2024, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut empat komoditas daerah ini telah menembus pasar mancanegara.
“Ada empat komoditas pangan dari Luwu Timur yang telah menembus pasar mancanegara, yakni sawit, lada, kakao, dan rumput laut. Masyarakat Luwu Timur ini memang luar biasa,” ujar Amran dalam sambutannya, seperti diberitakan media lokal, Penalutim.com.
Pernyataan itu bukan sekadar seremonial. Data Dinas Perikanan Luwu Timur yang dikutip Tekape.co memperlihatkan skala rumput laut daerah ini: produksi jenis Eucheuma cottonii pada 2025 dicatat mencapai 246.473,97 ton dengan nilai sekitar Rp739,42 miliar. Komoditas ini menjadi penopang utama perikanan budidaya dan tulang punggung penghidupan warga pesisir, terutama di kawasan Malili dan sekitarnya.
Kakao juga punya cerita serupa. Luwu Timur lama dikenal sebagai salah satu sentra kakao Sulawesi Selatan, dan pemerintah daerah menargetkan perluasan lahan komoditas unggulan itu pada 2026, sebagaimana diberitakan Warta Lutim. Kakao dari desa-desa seperti Laskap, Malili, kini diolah menjadi produk cokelat bermerek—bukti bahwa hilirisasi sederhana pun mampu menaikkan nilai jual.
Sawit melengkapi gambaran itu. Kelapa sawit menempati posisi sebagai tanaman industri besar di Luwu Timur, dan menurut keterangan Dinas Pertanian yang diberitakan Warta Lutim, daerah ini sudah memiliki pabrik kelapa sawit sehingga sebagian produksi bisa diolah di dalam daerah sebelum dikirim keluar. Bagi pelaku usaha muda, rantai pasok di sekitar pabrik-pabrik itu membuka lapangan kerja dan usaha jasa yang tidak menuntut modal besar untuk memulai.
Andi Amar dan Peta Jalan Kader Ekspor HIPMI Sulawesi Selatan
Di sinilah peran Andi Amar menjadi relevan. Sebagai Ketua Umum BPD HIPMI Sulawesi Selatan periode 2024–2027, ia memimpin organisasi yang membawahi HIPMI kabupaten/kota, termasuk HIPMI Luwu Timur. Ia menilai pola pembinaan lama belum menyentuh sisi kepemimpinan pribadi para kader, sehingga HIPMI Sulawesi Selatan menggandeng seorang konsultan produktivitas bersertifikasi internasional untuk program kaderisasi kepemimpinan.
Menurut laporan Kabarika.id, program itu berlangsung tiga hari di Makassar pada akhir September 2026 dan diikuti puluhan pengurus serta kader dari berbagai kabupaten/kota. Materinya meliputi leadership fundamental, character building, public speaking, strategic decision making, hingga team management.
Andi Amar menyebut kolaborasi itu sebagai langkah konkret. Ia ingin kader HIPMI Sulawesi Selatan tidak hanya cakap berbisnis, tetapi juga siap memimpin di daerahnya masing-masing. Ia bahkan menyebutnya akan menjadi cetak biru kaderisasi yang, bila berhasil, direplikasi ke BPC kabupaten/kota—termasuk Luwu Timur. Kader yang siap, katanya, adalah kader yang lebih dulu mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin perusahaannya.
Latar belakang pribadinya ikut menjelaskan minat pada isu ini. Andi Amar tercatat sebagai alumnus program beasiswa Australia Awards dan menempuh pendidikan manajemen bisnis; pengalaman itu kerap ia kaitkan dengan kesiapan pelaku usaha lokal menghadapi pasar global. Bagi daerah yang komoditasnya sudah menembus pasar dunia, kesiapan semacam ini bukan barang mewah, melainkan kebutuhan.


