Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Ekonomi & UMKM

Kopi Ramiza Malili: Pemuda Luwu Timur Menolak Jadi Buruh

19 Oktober 2026 • Admin • 27 kali dibaca
Pemilik Ramiza Coffee di Malili, Luwu Timur, meracik minuman di lapaknya
Gambar: Dok. Penalutim.com, lapak Ramiza Coffee di Malili, Oktober 2026.
ASM Group
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Tata Atur
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Di tengah gegap gempita tambang nikel yang mengubah wajah Malili, seorang pemuda memilih jalur yang jarang dilirik. Namanya Arfa. Ia tidak mengantre di loket rekrutmen perusahaan, tidak menyusun resume untuk posisi operator, dan tidak memburu seragam kerja. Ia membuka lapak kopi di bawah pohon pinus, tak jauh dari Lapangan Pendidikan, Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur.

Usahanya bernama Ramiza Coffee. Dari lapak sederhana itu, Arfa mengaku mengantongi omzet kotor sekitar Rp800 ribu per hari. Setelah dipotong modal dan biaya operasional, laba bersihnya sekitar Rp300 ribu lebih. Bila dirata-ratakan, pendapatan bersih bulanannya berada di kisaran Rp9 juta hingga Rp10 juta.

Angka itu bukan celetukan kosong. Arfa menyampaikannya langsung saat ditemui di lapaknya, dan perhitungannya sederhana: pendapatan harian dikalikan hari operasional. Bagi pemuda di daerah yang selama ini memandang tambang sebagai satu-satunya jalan menuju penghasilan tetap, kisah ini menawarkan pembanding yang layak didengar.

Malili yang Berubah, dan Pilihan yang Tak Biasa

Malili hari ini bukan Malili sepuluh tahun lalu. Deru alat berat dan lalu lintas kendaraan operasional menjadi pemandangan harian. Wilayah yang dulu identik dengan riwayat panjang PT Inco Tbk, kini PT Vale Indonesia Tbk, bertransformasi menjadi magnet investasi nikel. Nama-nama seperti PT Citra Lampia Mandiri, PT Prima Utama Lestari, hingga rencana pembangunan smelter PT Indonesia Huayou Industrial Park ikut mewarnai peta ekonomi lokal.

Imbasnya terasa pada perilaku warga. Bagi mayoritas pemuda lingkar tambang, kehadiran korporasi adalah tiket emas. Mereka berbondong-bondong mengikuti pelatihan kerja, menyiapkan berkas, dan bersaing untuk satu kursi di perusahaan. Ada alasan rasional di balik itu: gaji tetap, jaminan sosial, dan status yang dianggap lebih mapan.

Arfa memilih berpikir sebaliknya. Ia menilai ketergantungan pada satu sektor berisiko ketika masa kontrak berakhir atau ketika harga komoditas turun. Pilihan berjualan kopi memang tidak memberi jaminan bulanan yang pasti, tetapi ia membangun aset yang dikendalikannya sendiri: pelanggan, resep, peralatan, dan lokasi.

Pilihan itu ternyata tidak salah. Perputaran uang di Malili akibat aktivitas tambang ikut mendongkrak daya beli warga, termasuk untuk kebutuhan gaya hidup seperti secangkir kopi. Lapak Arfa tumbuh justru karena ekonominya bergerak, bukan karena ia bekerja di dalam konsesi.

Hitung-hitungan di Balik Secangkir Kopi

Membaca usaha kecil perlu kejujuran angka. Arfa menyebut omzet kotor harian sekitar Rp800 ribu, dengan laba bersih di atas Rp300 ribu. Selisih itu dipakai untuk membeli biji kopi, susu, gula, es, cup, sedotan, gas, listrik, dan biaya operasional lain. Sisanya menjadi pendapatan bersih yang dibawa pulang.

Jika mengacu pada angka tersebut, dalam sebulan ia bisa mengumpulkan sekitar Rp9 juta sampai Rp10 juta. Jumlah itu setara, bahkan bisa melampaui, gaji pokok sebagian pekerja tambang tingkat pemula di wilayah tersebut. Tentu perbandingan ini tidak sepenuhnya setara: pekerja tambang mendapat tunjangan, jaminan kesehatan, dan fasilitas lain, sementara pelaku usaha menanggung seluruh risiko sendiri.

Karena itu, angka omzet tidak boleh dibaca sebagai kemenangan mutlak. Ada hari sepi, ada kenaikan harga bahan baku, ada hujan yang membuat orang enggan singgah, dan ada kerusakan peralatan yang harus segera diperbaiki. Yang membuat usaha bertahan adalah kemampuan menekan biaya dan menjaga rasa tetap konsisten.

Arfa juga memanfaatkan momentum keramaian. Ketika Bundaran Batara Guru dipadati masyarakat dalam rangkaian pelantikan pengurus IOF, PMI, dan gerakan Pramuka, ia memindahkan “dapur” Ramiza Coffee ke pusat keramaian. Hasilnya, omzet kotor melonjak ke sekitar Rp2 juta dalam satu hari. Keputusan sederhana, tetapi menunjukkan satu keterampilan penting dalam berdagang: membaca peluang di depan mata.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga