Politik nasional hari ini diwarnai rilis survei Indonesia Political Opinion atau IPO. Hasilnya, 66 persen responden mengaku puas dengan kinerja Presiden Prabowo Subianto. Angka itu terdiri dari 61 persen yang menyatakan puas dan 5 persen sangat puas. Survei dilakukan pada 12 sampai 20 Oktober 2026 terhadap 1.200 responden di 38 provinsi.
Politik Nasional: Angka Kepuasan dan Metodenya
Rilis survei disampaikan pada Sabtu, 24 Oktober 2026, dalam forum bertajuk Refleksi Dua Tahun Kabinet Merah Putih. Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah memaparkan hasilnya secara daring. Ia menyebut seluruh responden menjawab, tanpa ada yang memilih tidak tahu.
Kelompok yang tidak puas tercatat 28 persen, ditambah 6 persen yang sangat tidak puas. Dengan begitu, total ketidakpuasan berada di angka 34 persen. Komposisi itu membuat mayoritas tetap positif, tetapi bukan tanpa catatan.
Metodenya multistage random sampling dengan 1.200 responden di 38 provinsi. Tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,9 persen. Separuh responden laki-laki dan separuh perempuan, berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah, serta bukan anggota TNI-Polri.
Ada satu perbedaan kecil antarlaporan yang perlu dicatat. CNN Indonesia menulis periode survei 12 sampai 20 Oktober 2026. Kumparan dan sejumlah media lain menulis 12 sampai 21 Oktober 2026. Selisih satu hari itu belum dijelaskan oleh IPO.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Harga Sembako Jadi Persoalan Paling Mendesak
Selain kepuasan, IPO menanyakan persoalan apa yang paling mendesak untuk ditangani pemerintah. Jawaban terbanyak adalah pengendalian harga bahan pokok dengan 28 persen. Pemberantasan korupsi menyusul dengan 19,5 persen.
Pembukaan lapangan kerja dan pengurangan pengangguran dipilih 14,7 persen responden. Tiga jawaban teratas itu semuanya menyentuh hal yang dekat dengan rumah tangga. Tidak ada isu geopolitik atau proyek besar yang masuk tiga besar.
Dedi menilai temuan itu menunjukkan ekonomi rumah tangga, kesempatan kerja, dan tata kelola pemerintahan menjadi dasar penilaian publik. Dengan kata lain, kepuasan terhadap presiden tidak otomatis berarti persoalan sehari-hari dianggap selesai.
Faktor yang Mendorong Kepuasan
IPO juga memetakan alasan responden merasa puas. Faktor terbesar adalah penilaian bahwa presiden aktif memberantas korupsi, dipilih 19 persen responden. Pemberian bantuan sosial menyusul dengan 14,5 persen.
Sebanyak 10,7 persen menilai program kerja pemerintah nyata, sedangkan 6,1 persen menyebut presiden tegas dan berwibawa. Program Makan Bergizi Gratis memengaruhi 6 persen responden. Holopis mencatat faktor lain yang lebih kecil, seperti kondisi ekonomi dianggap lebih baik 3,5 persen dan kepedulian kepada petani serta nelayan 1,5 persen.
Menariknya, MBG yang paling sering menjadi sorotan publik bukan faktor dominan. Angkanya 6 persen, jauh di bawah isu korupsi dan bantuan sosial. Temuan ini sedikit berbeda dari survei lain yang menempatkan MBG sebagai penyumbang kepuasan utama.
Bahlil Paling Populer di Kabinet
Pada pertanyaan top of mind tentang nama menteri, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memimpin dengan 37,5 persen. Muhaimin Iskandar atau Cak Imin berada di posisi kedua dengan 34,1 persen.
Zulkifli Hasan menempati posisi ketiga dengan 21,7 persen, disusul Agus Harimurti Yudhoyono dengan 16,5 persen. Untuk indikator popularitas, Bahlil juga tertinggi dengan 70,4 persen. Angka-angka itu dirilis dalam rilis terpisah yang dikutip CNN Indonesia.
Posisi Bahlil sebagai menteri ESDM sekaligus Menko Hilirisasi membuatnya sering muncul di pemberitaan energi dan tambang. Frekuensi itu menjelaskan popularitas, tetapi tidak otomatis berarti penilaian kinerja terbaik. IPO mengukur pengenalan nama, bukan kepuasan kerja.


