Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
SUARALUTIM.COM, MALILI — Kabupaten Luwu Timur membawa pulang delapan penghargaan tingkat nasional dari ajang Lomba Inovasi dan Karya Ilmiah antar Puskesmas se-Indonesia. Penghargaan itu diraih dalam rangkaian Semiloka Nasional VI dan Jambore Puskesmas Nasional (Jampusnas) III APKESMI 2026 yang berlangsung di Hotel Lombok Raya, Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 13–17 Oktober 2026.
Yang dibawa pulang bukan sekadar piala. Delapan penghargaan itu tersebar dari lomba karya tulis ilmiah sampai penilaian inovasi pelayanan kesehatan, dan datang dari puskesmas yang tersebar di beberapa kecamatan. Ada riset soal stunting dari Burau, inovasi pelacakan pasien tuberkulosis dari Angkona, sistem surveilans dari Tomoni Timur, hingga program kelas hipertensi di Desa Kasintuwu, Mangkutana.
Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Timur juga menerima penghargaan atas partisipasi aktif sepanjang pelaksanaan ajang nasional tersebut. Bagi daerah dengan 11 kecamatan dan 128 desa-kelurahan, capaian ini menunjukkan bahwa inovasi layanan tidak selalu lahir dari kota besar.
Luwu Timur dan Delapan Penghargaan dari Mataram
APKESMI adalah ajang tahunan yang mempertemukan puskesmas dari seluruh Indonesia. Pesertanya membawa karya ilmiah dan inovasi layanan yang benar-benar dijalankan di lapangan, bukan sekadar konsep di atas kertas. Karena itu, penilaiannya menyentuh dua hal sekaligus: kemampuan tenaga kesehatan menuliskan pengalamannya secara ilmiah, dan kemampuan puskesmas mengubah masalah sehari-hari menjadi program yang berjalan.
Dalam ajang 2026, perwakilan puskesmas Luwu Timur meraih penghargaan di beberapa kategori. Berikut rinciannya berdasarkan keterangan Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Timur:
| Kategori | Puskesmas | Karya/Inovasi | Pengusung |
|---|---|---|---|
| Karya tulis ilmiah Juara I | Puskesmas Burau | Faktor Risiko yang Memengaruhi Kejadian Stunting pada Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Burau | Sirjhon Paladan, SKM., M.Kes. |
| Karya tulis ilmiah Juara III | Puskesmas Kalaena | Transformasi Promosi Kesehatan Digital: Integrasi Layanan Audiovisual dan Portal QR Code dalam Edukasi Penyakit Tidak Menular | dr. Nurul Asmi Mansyur |
| Inovasi pelayanan — Utama | Puskesmas Angkona | GPS TB (Gerakan Pemicuan Stop TBC) | H. Usman, S.Kep., Ns. |
| Inovasi pelayanan — Utama | Puskesmas Lakawali | Peta Gigi Permen Anak: pemanfaatan media digital untuk mengetahui usia tumbuh gigi geraham permanen pertama pada anak | drg. Asti Puspita Adnan |
| Inovasi pelayanan — Paripurna | Puskesmas Tomoni Timur | Sistem Informasi Surveilans Tomoni Timur (SISTUR) | Widia Maharani, M.K.M. |
| Inovasi pelayanan — Madya | Puskesmas Mangkutana | Kelas Hipertensi di Desa Kasintuwu: skrining, edukasi, dan pemantauan hipertensi | Hestika Jein Adji, S.Kep., Ns. |
| Inovasi pelayanan — Madya | Puskesmas Nuha | KIPAS PELUK ASA | dr. Eka Lestari |
Selain tujuh penghargaan di atas, Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Timur menerima penghargaan partisipasi aktif. Totalnya delapan, dan itu yang disebut Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Luwu Timur, dr. Helmy Kahar, sebagai hasil kerja kolektif.
Riset Stunting dari Burau
Judul yang dibawa Sirjhon Paladan menyentuh salah satu persoalan paling mendasar di daerah: stunting. Karyanya memetakan faktor risiko yang memengaruhi kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Burau. Pendekatan semacam ini penting karena intervensi gizi sering gagal bukan karena kurang anggaran, melainkan karena sasaran tidak tepat.
Luwu Timur sendiri sudah mencatat kemajuan pada indikator ini. Pada Oktober 2026, capaian penurunan stunting daerah dilaporkan mencapai target 75 persen, seperti diberitakan SuaraLutim dalam artikel Berita Lutim: Stunting Luwu Timur Capai Target 75 Persen. Riset di tingkat puskesmas seperti yang dikerjakan dari Burau memberi bahan untuk menjaga capaian itu, terutama dalam menentukan keluarga mana yang perlu didampingi lebih dulu.
Yang membuat karya tulis ilmiah puskesmas layak dibaca bukan gelar juaranya, melainkan data mentah di belakangnya. Tenaga kesehatan di puskesmas melihat langsung kondisi rumah, pola makan, akses air bersih, dan jarak ke fasilitas layanan. Ketika pengalaman itu ditulis sistematis, ia menjadi pengetahuan yang bisa dipakai puskesmas lain, bukan hanya tersimpan sebagai laporan kegiatan.


