SUARALUTIM.COM, MALILI — Wisata Luwu Timur kembali dipromosikan lewat jalur kuliner dan kerajinan. Dalam ajang Sulsel Expo & Culinary di Lapangan Hasanuddin, Kota Makassar, 16–18 Oktober 2026, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur menampilkan aneka kerajinan tangan dan produk olahan makanan khas daerah di stan pameran pemerintah kabupaten.
Wakil Bupati Luwu Timur, Hj. Puspawati Husler, hadir pada pembukaan kegiatan, Jumat (16/10/2026), lalu menyambangi stan milik daerahnya. Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, ikut meninjau stan tersebut dan melihat beragam produk olahan khas Bumi Batara Guru.
Pameran itu digelar untuk memeriahkan Hari Jadi ke-357 Provinsi Sulawesi Selatan dan dirangkaikan dengan Tabligh Akbar bersama Firanda Andirja. Pesertanya 58 stan yang berasal dari perwakilan 24 kabupaten dan kota, UMKM binaan PLUT Sulawesi Selatan, TP PKK Provinsi Sulawesi Selatan, Dekranasda Sulawesi Selatan, Dharma Wanita Provinsi Sulawesi Selatan, serta organisasi wanita Forkopimda Sulawesi Selatan.
Wisata Luwu Timur dan Etalase Kuliner di Makassar
Dalam pariwisata, kuliner bukan pelengkap. Banyak wisatawan memilih tujuan berdasarkan pengalaman makan yang bisa didapat di sana. Karena itu, kehadiran produk olahan khas Luwu Timur di pameran tingkat provinsi punya arti tersendiri: ia memperkenalkan daerah melalui rasa, bukan hanya melalui foto lanskap.
Puspawati menyebut keikutsertaan Luwu Timur dalam ajang ini sebagai sarana strategis untuk memperkenalkan komoditas unggulan lokal kepada masyarakat luas. Harapannya, pelaku UMKM di Luwu Timur terus menjaga kualitas produk, berinovasi, dan memanfaatkan setiap akses promosi untuk memperluas jangkauan pasar.
Pernyataan itu sederhana, tetapi arahnya jelas. Selama ini promosi wisata Luwu Timur lebih sering bertumpu pada Danau Matano, Danau Towuti, dan kawasan danau purba di Malili. Kuliner memberi pintu masuk lain yang lebih mudah dijangkau wisatawan domestik: orang bisa membeli oleh-oleh tanpa harus mendaki atau menyusuri danau.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
58 Stan, 24 Kabupaten, dan Pasar Murah
Skala pameran ini cukup besar untuk ukuran ajang provinsi. Selain stan pameran produk, lokasi kegiatan juga menghadirkan pasar murah dengan komoditas yang dipasok langsung oleh petani, peternak, dan nelayan dari 24 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan.
Gubernur Andi Sudirman Sulaiman menjelaskan bahwa agenda itu digelar sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto agar peringatan hari jadi pemerintah provinsi memberi manfaat nyata bagi warga, menguatkan UMKM, sekaligus memudahkan masyarakat memperoleh kebutuhan pangan dengan harga terjangkau.
Bagi daerah yang jauh dari Makassar, seperti Luwu Timur, keikutsertaan dalam pameran semacam ini menuntut biaya logistik tidak kecil. Produk harus dikemas agar tahan perjalanan, jumlahnya harus cukup untuk tiga hari pameran, dan tenaga penjualnya harus mampu menjelaskan produk kepada pengunjung yang belum mengenal daerah asalnya.
Karena itu, penilaian atas keberhasilan pameran tidak cukup dari ramainya stan. Yang lebih menentukan adalah tindak lanjut: apakah ada pembeli yang menghubungi kembali, apakah ada jaringan distribusi baru, dan apakah produk yang dipamerkan bisa dipesan ulang setelah acara selesai.
Kuliner sebagai Pintu Masuk Promosi Destinasi
Luwu Timur memiliki sebaran destinasi yang cukup luas. Portal Satu Data Kabupaten Luwu Timur bahkan mencatat 39 objek wisata lengkap dengan lokasi desa dan kecamatan, pengelola, serta aksesibilitasnya, seperti diulas SuaraLutim dalam artikel Destinasi Luwu Timur: 39 Objek Wisata Terdata di Satu Data.
Sebaran itu menunjukkan bahwa pariwisata Luwu Timur tidak berdiri di satu kawasan. Malili memiliki objek yang berfungsi sebagai ruang publik harian, seperti anjungan, taman kota, dan pujasera. Nuha dan Towuti mengandalkan danau, pulau, dan air terjun. Kecamatan lain menyediakan pantai dan permandian yang lebih dekat dengan permukiman.
Di kawasan seperti itulah kuliner berperan sebagai pengikat. Wisatawan yang datang ke Anjungan Sungai Malili, misalnya, membutuhkan tempat makan setelah menyusuri kawasan. Ulasan SuaraLutim tentang Anjungan Sungai Malili memperlihatkan bagaimana ruang publik di tepi sungai menjadi titik pertemuan warga dan pengunjung.
Ketika produk olahan khas tersedia di titik-titik seperti itu, pengeluaran wisatawan tinggal lebih lama di daerah. Inilah yang sering disebut dampak ekonomi pariwisata: bukan hanya tiket masuk, tetapi juga belanja makan, oleh-oleh, dan jasa lain di sekitarnya.


