Minggu, 1 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Viral: Virus Shamonda Sebabkan Kematian Pertama

25 Oktober 2026 • zul • 31 kali dibaca
Ilustrasi lalat kecil Culicoides yang dikenal sebagai vektor penular virus pada ternak
Alan R Walker, CC BY-SA 3.0, Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Berita viral dari Prancis: otoritas kesehatan negara itu melaporkan kematian pertama manusia akibat infeksi virus Shamonda. Kasus tersebut diumumkan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pertanian Prancis pada Kamis, 22 Oktober 2026. Pasien meninggal pada awal Oktober setelah dirawat karena penyakit serius yang membuat sistem imunnya sangat lemah.

Peristiwa ini menjadi catatan pertama infeksi Shamonda pada manusia sejak virus itu ditemukan puluhan tahun lalu. Sebelumnya, virus tersebut hanya diketahui menyerang ternak, terutama sapi. Organisasi Kesehatan Dunia menyebut kasus ini sebagai infeksi manusia pertama yang terdokumentasi, seperti dilaporkan BBC.

Berita Viral: Kasus Pertama di Dunia

Prancis menyebut kasus itu sebagai peristiwa luar biasa. Pasien yang meninggal memiliki kondisi imunodefisiensi berat, yaitu keadaan ketika daya tahan tubuh tidak mampu melawan infeksi. Otoritas kesehatan menegaskan tidak ada risiko penularan luas bagi masyarakat umum pada tahap ini.

Virus Shamonda masuk kelompok orthobunyavirus. Virus ini menular ke hewan melalui gigitan lalat kecil dari genus Culicoides, yang sering disebut midge. Sebelum kasus Prancis, belum ada laporan infeksi pada manusia yang tercatat secara resmi.

Tata Atur
Iklan

Kematian itu mengejutkan karena virus tersebut sudah lama beredar di Afrika dan Asia. Selama beberapa dekade, virus itu hanya terdeteksi pada hewan. Kalangan peneliti kini mempertanyakan apakah infeksi pada manusia memang jarang terjadi atau selama ini tidak terdeteksi karena gejalanya mirip penyakit lain.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Apa Itu Virus Shamonda

Shamonda pertama kali ditemukan di Nigeria pada pertengahan 1960-an. Virus itu dilaporkan muncul secara sporadis pada sapi di Afrika Barat, Afrika Timur, Afrika Selatan, dan Jepang. Kasus pada hewan umumnya berlangsung singkat, tetapi bisa menurunkan produksi susu secara signifikan.

Pada ternak, infeksi ditandai demam, diare, dan produksi susu yang menurun. Sapi menjadi spesies utama yang diketahui dapat terinfeksi. Otoritas Prancis juga menemukan kasus pada ruminansia kecil seperti domba dan kambing, serta pada kuda, selama musim panas 2026.

Penularan antartermak terjadi lewat gigitan midge yang membawa virus. Midge adalah serangga kecil yang berkembang biak di lingkungan lembap dan aktif pada musim hangat. Karena itu, pola penyebaran virus sangat bergantung pada cuaca dan kepadatan ternak di suatu kawasan.

Kronologi Deteksi di Prancis

Kasus pada hewan di Eropa pertama kali teridentifikasi pada akhir Juli 2026. Gejala klinis pada ternak sebenarnya dilaporkan sejak Juni. Sejak itu, virus menyebar ke peternakan di sejumlah negara, termasuk Austria, Belgia, Jerman, Irlandia, Italia, Belanda, Portugal, Spanyol, dan Swiss.

Pasien Prancis dirawat di rumah sakit di Lyon karena penyakit serius. Berdasarkan temuan awal, pasien mengalami komplikasi neurologis yang sangat mungkin berkaitan dengan infeksi virus tersebut. Pemeriksaan laboratorium kemudian memastikan adanya infeksi Shamonda. CNN Indonesia melaporkan pengumuman itu pada 23 Oktober 2026, sementara BBC menulis Kamis, 22 Oktober 2026.

Otoritas menduga pasien terinfeksi melalui gigitan midge di Prancis timur. Di kawasan itu, kasus pada hewan pertama kali ditemukan pada musim semi. Penyebab pasti infeksi masih diselidiki, termasuk jenis midge yang berperan dalam penularan.

Gejala pada Ternak dan Cara Penularan

Pada sapi, infeksi Shamonda umumnya menyebabkan demam dan diare. Peternak juga melaporkan penurunan produksi susu yang cukup terasa. Gejala itu mirip dengan penyakit lain yang ditularkan serangga, sehingga diagnosis memerlukan uji laboratorium.

Virus tidak diketahui menular dari manusia ke manusia. Penularan terjadi melalui perantara serangga, bukan melalui udara atau kontak langsung antarmanusia. Karena itu, risiko penularan bergantung pada keberadaan midge pembawa virus di suatu wilayah.

Midge paling aktif pada musim semi sampai musim gugur. Aktivitas mereka menurun saat suhu dingin. Kondisi itu menjadi alasan tambahan mengapa Organisasi Kesehatan Dunia menilai kemungkinan penyebaran luas saat ini kecil.

Respons WHO dan ECDC

Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan belum melakukan penilaian risiko formal. Namun lembaga itu menilai kasus tersebut terisolasi dan tidak mungkin berkembang menjadi penularan luas untuk saat ini. Pernyataan itu disampaikan berdasarkan pengetahuan tentang penyakit serupa yang ditularkan serangga.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa atau ECDC sedang memantau situasi. Lembaga itu berkoordinasi dengan otoritas Prancis dan mitra Eropa untuk menilai implikasi kesehatan masyarakat. ECDC juga memperkuat kapasitas pengujian bersama laboratorium rujukan Uni Eropa.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga