Berita Indonesia hari ini soal program Gentengisasi. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait menyatakan 2,4 juta genteng produksi Majalengka siap dikirim pada 8 November 2026 memakai 600 truk. Genteng itu diproduksi 34 usaha mikro, kecil, dan menengah yang sudah lolos sertifikasi Standar Nasional Indonesia.
Apa Itu Program Gentengisasi
Gentengisasi adalah program penggantian atap rumah warga dari seng menjadi genteng. Presiden Prabowo Subianto pertama kali mendorong gagasan ini dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Bogor, 2 Februari 2026. Ia menilai atap seng membuat rumah panas dan mudah berkarat.
Program ini berjalan lewat skema bantuan perumahan swadaya dan diintegrasikan dengan Gerakan Indonesia ASRI. Peluncuran awal dilakukan 11 Maret 2026 dari sentra industri genteng Jatiwangi, Majalengka. Sejak itu, penyaluran bergerak bertahap ke sejumlah daerah.
Pada 4 Oktober 2026, pemerintah menyalurkan 500.000 genteng dari sentra Plered, Purwakarta. Pengiriman 2,4 juta genteng pada 8 November disebut sebagai pengiriman terbesar sejak program dimulai. Angka itu menjadi ujian pertama skala besar bagi rantai produksi dan logistik.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Berita Indonesia: 2,4 Juta Genteng dari Majalengka
Seperti dilansir Katadata, Maruarar, yang akrab disapa Ara, menyampaikan kesiapan itu di kompleks Istana Kepresidenan pada Senin, 26 Oktober 2026. Ia menyebut genteng sudah diperiksa dan memenuhi standar nasional. Pengiriman direncanakan berlangsung Minggu siang, 8 November, dengan 600 truk dari Majalengka.
Presiden Prabowo dijadwalkan hadir memimpin peluncuran di Majalengka, seperti dilaporkan CNN Indonesia. Undangan untuk presiden sudah disiapkan, menurut keterangan Maruarar kepada wartawan. Acara itu sekaligus menjadi penanda bahwa program masuk tahap distribusi besar, bukan lagi uji coba.
Genteng yang dikirim adalah genteng tanah liat, bukan produk pabrik besar. Pemerintah menekankan asal produksinya dari UMKM yang dibina. Pendanaannya didukung Bank BRI dan Bank Jabar, sehingga program ini juga menyentuh sisi pembiayaan usaha kecil.
34 UMKM dan Sertifikasi SNI
Dari ratusan perajin di Majalengka, baru 34 UMKM yang dinyatakan lolos kriteria SNI. Maruarar menyebut sertifikasi itu sebagai syarat keandalan, bukan sekadar kelengkapan administrasi. Hanya produk yang lolos uji yang boleh masuk pengadaan program.
Jumlah 34 UMKM terbilang kecil dibanding kapasitas sentra genteng di Jawa Barat. Namun angka itu menunjukkan ada proses seleksi mutu yang berjalan. Persoalannya, kapasitas 34 UMKM harus menopang 2,4 juta genteng dalam waktu singkat, sehingga kesiapan produksi perlu diawasi.
Bagi perajin, sertifikasi membuka akses ke pasar pemerintah yang volumenya jauh lebih besar dari pesanan biasa. Artikel SuaraLutim soal penghargaan ekonomi kreatif Luwu Timur memberi contoh bagaimana pembinaan usaha kecil berdampak pada daerah. Bagi pemerintah, sertifikasi menjadi alat kendali mutu. Bagi warga penerima, yang paling penting adalah genteng benar-benar sampai dan terpasang, bukan hanya lolos uji di pabrik.
600 Truk dan Sasaran 49 Ribu Rumah
Enam ratus truk adalah angka logistik yang besar untuk satu hari pengiriman. Bila satu truk mengangkut sekitar 4.000 genteng, total muatan mendekati 2,4 juta keping. Pengaturan lalu lintas, bongkar muat, dan penjadwalan menjadi pekerjaan tersendiri di luar produksi.
Pemerintah menargetkan renovasi 49.000 unit rumah di Jawa Barat melalui program bedah rumah. Genteng dari Majalengka akan dikirim ke berbagai wilayah di provinsi itu. Artikel SuaraLutim tentang target bedah rumah 450.000 unit memberi gambaran skala nasional yang lebih besar.
Kebutuhan genteng per rumah berbeda-beda. Rumah sederhana biasanya memerlukan 1.000 sampai 1.500 keping. Dengan rentang itu, 2,4 juta genteng setara kebutuhan sekitar 1.600 sampai 2.400 rumah, jauh di bawah target 49.000 rumah. Artinya, pengiriman 8 November hanya sebagian dari kebutuhan.
Alasan Prabowo Menolak Atap Seng
Prabowo menilai seng tidak ideal untuk hunian di iklim tropis. Menurutnya, seng membuat suhu rumah lebih panas, mudah berkarat, dan kurang nyaman. Ia juga menyoroti dampak visualnya pada lanskap desa dan kota.
Sebagai pengganti, pemerintah mendorong genteng tanah liat karena bahan bakunya tersedia di dalam negeri. Prabowo menyebut pembangunan pabrik genteng tidak mahal dan dapat dilengkapi di lingkungan Koperasi Merah Putih. Argumentasinya, nilai tambah tetap berada di daerah penghasil tanah liat.
Kritik terhadap alasan itu tetap ada. Genteng lebih berat daripada seng, sehingga rangka atap rumah lama perlu diperiksa. Bila struktur tidak kuat, penggantian atap bisa menimbulkan biaya tambahan atau bahkan risiko keruntuhan. Aspek ini belum menjadi sorotan utama dalam pemberitaan program.


