Minggu, 1 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Viral Nusantara: Kampung Somang Muncul Lagi dari Waduk

27 Oktober 2026 • zul • 32 kali dibaca
Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, dengan muka air waduk yang luas
Foto: Edogang1, CC0 via Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Viral nusantara hari ini soal Kampung Somang di Kabupaten Lebak, Banten. Sisa permukiman yang dulu tenggelam oleh Bendungan Karian kembali terlihat karena air waduk menyusut drastis. Foto dan video puing rumah serta masjid lama menyebar sejak akhir pekan, memicu rasa penasaran sekaligus kekhawatiran soal cadangan air.

Apa yang Terjadi di Waduk Karian

Air Bendungan Karian surut akibat kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino. Penurunan muka air membuka kembali area yang biasanya tertutup genangan. Warga sekitar dan pengunjung mendatangi lokasi untuk melihat sisa kampung yang selama ini hanya dikenal dari cerita.

BBC Indonesia melaporkan sisa Kampung Somang muncul kembali di bendungan yang mengering. detikcom juga memberitakan hal serupa dengan foto-foto lokasi. CNN Indonesia mencatat kekeringan panjang sebagai penyebab utama, bukan kerusakan struktur bendungan.

Yang terlihat adalah bagian permukiman lama, bukan kampung yang utuh. Sebagian bangunan sudah runtuh karena lama terendam. Kondisi itu penting ditegaskan agar publik tidak membayangkan kampung yang masih layak huni dan bisa diklaim kembali.

Tata Atur
Iklan

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Viral Nusantara: Sisa Kampung yang Muncul Kembali

Kampung Somang ditenggelamkan sebagai bagian dari pembangunan Bendungan Karian. Warga dipindahkan ke permukiman baru sebelum area digenangi. Sejak itu, nama Somang lebih sering muncul dalam cerita mantan warga daripada di peta administrasi.

Kemunculan kembali kampung itu memicu dua reaksi berbeda. Sebagian warga merasa haru karena bisa melihat bekas rumah dan masjid tempat mereka tumbuh. Sebagian lain justru cemas karena penurunan air berarti pasokan untuk kebutuhan sehari-hari dan irigasi berkurang.

Foto-foto lama dan baru beredar luas di media sosial. Namun klaim soal luas kampung, jumlah rumah, dan nilai sejarahnya perlu diperiksa karena tidak semuanya berasal dari sumber resmi. Berita arus utama menahan diri menyebut angka yang belum terverifikasi.

Sejarah Singkat Bendungan Karian

Bendungan Karian dibangun mulai 2015 dan selesai awal 2024. Presiden Joko Widodo meresmikannya pada 8 Januari 2024 bersama Instalasi Pengolahan Air Sitanala di Kota Tangerang. Biaya pembangunannya tercatat sekitar 2,2 triliun rupiah.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencatat kapasitas tampung 314,7 juta meter kubik dengan luas genangan 1.740 hektare. Angka itu menempatkan Karian sebagai bendungan terbesar ketiga di Indonesia setelah Jatiluhur dan Jatigede. Sekretariat Kabinet menyebut luas genangan 1.773 hektare, perbedaan yang muncul karena tahap pengukuran.

Fungsi utamanya mencakup penyediaan air baku 10,6 meter kubik per detik, irigasi 22.000 hektare, dan pengendalian banjir berkapasitas 60,8 juta meter kubik. Pemerintah juga menyebut potensi energi sekitar 318 megawatt dari PLTS terapung dan mikrohidro. Airnya melayani Kabupaten Lebak, Kabupaten dan Kota Serang, Cilegon, Tangerang, Tangerang Selatan, hingga DKI Jakarta.

Warga yang Direlokasi dan Akses yang Memburuk

Pembangunan bendungan memindahkan ribuan warga dari tiga kampung. Sebagian mantan penghuni kini tinggal di permukiman sekitar waduk. Mereka harus menyeberangi genangan atau memutar jauh untuk mencapai komunitas terdekat.

BBC Indonesia mencatat jalan memutar itu jauh dan rusak. Sebagian warga juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih saat kemarau. Keluhan tersebut menunjukkan bahwa dampak proyek tidak berhenti pada pembayaran ganti rugi, tetapi berlanjut pada akses layanan dasar.

Isu ini jarang muncul dalam liputan soal keindahan waduk. Padahal, keluhan warga sekitar adalah indikator penting untuk menilai apakah proyek strategis nasional benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat yang tinggal paling dekat dengan infrastruktur.

Kekeringan Panjang dan El Nino

Kemarau tahun ini memukul banyak daerah di Jawa bagian barat. Sumur warga mengering, debit sungai menurun, dan pasokan air bersih menjadi persoalan harian. Kondisi itu membuat penurunan muka air waduk lebih cepat terlihat. SuaraLutim sebelumnya memberitakan kekeringan yang meluas di Gorontalo dan pembuatan sumur bor di Luwu Timur.

Pada Juli 2026, IDN Times Banten melaporkan muka air waduk berada sekitar 80 sentimeter di bawah kondisi normal, atau turun sekitar lima persen dari kapasitas genangan. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian saat itu menyatakan tampungan masih mencukupi untuk kebutuhan air dan irigasi.

Angka itu bukan kondisi terkini. Sampai berita ini disusun, belum ada angka resmi terbaru soal elevasi muka air. Pembaca sebaiknya tidak memakai angka Juli sebagai gambaran keadaan akhir Oktober tanpa konfirmasi dari pengelola waduk.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga