Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
SUARALUTIM.COM, TOWUTI — Wisata Luwu Timur di kawasan Danau Towuti sedang menghadapi ujian. Kebakaran hutan dan lahan di Loeha Raya, Kecamatan Towuti, masih berlangsung hingga pekan terakhir Oktober 2026. Asap tebal dilaporkan menyelimuti lima desa, yaitu Loeha, Rante Angin, Bantilang, Masiku, dan Tokalimbo. Padahal, kawasan itu justru menjadi pintu masuk sejumlah destinasi yang selama ini menjadi andalan pariwisata Towuti.
Sampai berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai dampak kebakaran terhadap jumlah kunjungan wisatawan. Pemerintah kecamatan, pengelola destinasi, dan penyedia perahu belum mengeluarkan pernyataan yang bisa dikutip soal penutupan lokasi atau pembatalan kunjungan. Karena itu, artikel ini tidak menyimpulkan adanya penurunan kunjungan, melainkan memetakan apa yang diketahui dan apa yang perlu diperhatikan calon pengunjung.
Wisata Luwu Timur: destinasi di sekitar titik api
Kawasan Towuti menyimpan destinasi yang dikelola dengan pola berbeda-beda. Data objek wisata Kabupaten Luwu Timur yang dihimpun melalui portal Satu Data mencatat beberapa di antaranya, sebagaimana pernah diulas dalam artikel 39 objek wisata terdata di Satu Data.
- Pantai Siuone, Desa Pekaloa, dikelola bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan dinas pariwisata daerah.
- Pulau Wasubonti, Desa Bantilang, dikelola BKSDA dan pemerintah desa, dijangkau menggunakan perahu.
- Air Terjun Mata Dewa, Desa Loeha, dikelola BKSDA dan pemerintah desa, juga dijangkau dengan perahu.
- Permandian Bukit Kasih, Desa Baruga, dikelola perseorangan dengan akses jalur darat.
Dua destinasi di antaranya berada di desa yang terdampak asap, yaitu Loeha dan Bantilang. Ini bukan berarti lokasinya terbakar, tetapi akses menuju lokasi dan kenyamanan berkunjung sangat dipengaruhi kondisi di sekitarnya.
Kawasan yang lebih luas juga berstatus konservasi. Taman Wisata Alam Danau Mahalona seluas 2.289,30 hektare ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.6590/Menhut-VII/KUH/2014. Penetapan itu menandakan fungsi perlindungan alam dan fungsi rekreasi berjalan berdampingan, sehingga aturan berkunjung tidak sepenuhnya ditentukan pengelola lokal.
Di luar empat nama itu, Towuti juga mencatat objek lain seperti permandian dan titik pandang yang dikelola warga. Sebaran pengelola yang beragam membuat kesiapan menghadapi musim kering juga tidak seragam. Destinasi yang dikelola pemerintah desa biasanya lebih cepat berkoordinasi dengan petugas, sementara objek yang dikelola perseorangan bergantung pada kesadaran pemilik.
Mengapa Towuti penting bagi pariwisata Lutim
Towuti adalah danau terbesar di Sulawesi dengan luas permukaan sekitar 561 kilometer persegi dan kedalaman lebih dari 200 meter. Di tengahnya terdapat sejumlah pulau, dan Pulau Loeha disebut sebagai yang terbesar. Perjalanan menuju pulau biasanya memakai speedboat atau perahu warga dengan waktu tempuh yang bergantung titik keberangkatan dan kondisi cuaca.
Dari sisi kunjungan, data Disparmudora Luwu Timur untuk tahun 2025 menempatkan Towuti pada 8.423 kunjungan. Angka itu jauh di bawah Malili yang mencatat 194.654 kunjungan, tetapi tetap menunjukkan bahwa Towuti memiliki penonton tetap, terutama pada akhir pekan dan musim libur. Pembahasan lebih rinci soal pola kunjungan ini pernah dimuat dalam artikel Malili dominasi kunjungan, Towuti 8.423.
Yang membuat Towuti berbeda adalah ketergantungan pada perahu. Hampir semua destinasi menarik di sisi timur danau hanya bisa dicapai lewat perairan. Kondisi itu memberi pengalaman khas, tetapi juga menuntut kesiapan: pelampung, pemandu, dan informasi cuaca.
SuaraLutim pernah mengulas 123 kapal di empat dermaga danau, yang memperlihatkan bahwa transportasi perairan bukan sekadar pelengkap, melainkan tulang punggung mobilitas warga dan wisatawan.


