Minggu, 1 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Tambang Nasional: Laba Vale Indonesia Melonjak 180 Persen

29 Oktober 2026 • zul • 44 kali dibaca
Truk pengangkut material berukuran besar di area tambang nikel Indonesia
Langit, CC BY-SA 4.0, Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Tambang nasional kembali mencatat kabar yang jarang muncul di tengah tekanan harga komoditas: PT Vale Indonesia Tbk membukukan laba bersih US$147,12 juta sampai 30 September 2026. Angka itu melonjak 180,53 persen dibandingkan US$52,45 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja sembilan bulan pertama ini ditopang kenaikan pendapatan, lonjakan laba bruto, dan penjualan bijih nikel dari dua blok operasi.

Tambang Nasional: Laba Melonjak Nyaris Tiga Kali Lipat

Laporan keuangan interim perseroan yang dirilis Kamis, 29 Oktober 2026, menunjukkan pendapatan INCO mencapai US$896,07 juta pada Januari sampai September. Pendapatan itu naik 27,04 persen dari US$705,39 juta pada 9M25. EmitenTrust mencatat kenaikan pendapatan berjalan seiring beban pokok yang hanya tumbuh 6,77 persen menjadi US$674,66 juta.

Karena beban pokok tumbuh jauh lebih lambat, laba bruto perseroan melonjak 201,30 persen menjadi US$221,41 juta dari US$73,49 juta. Laba usaha tercatat US$192,00 juta, melesat 405,08 persen dari US$38,01 juta. Kombinasi itu menjelaskan mengapa laba bersih hampir tiga kali lipat tanpa perlu lonjakan pendapatan yang ekstrem.

Pada kuartal III saja, investor.id melaporkan pendapatan INCO sebesar US$353 juta, naik dari US$290 juta pada kuartal sebelumnya. Laba bersih kuartalan mencapai US$43 juta. Artinya, periode Juli sampai September menyumbang sekitar 29 persen dari total laba sembilan bulan, bukan lonjakan satu kuartal yang kebetulan.

Tata Atur
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Pendorong: Nikel Matte dan Bijih dari Bahodopi serta Pomalaa

Kenaikan kinerja tidak datang dari harga, justru sebaliknya. IDXChannel mencatat volume pengiriman nikel matte naik menjadi 20.158 ton pada kuartal III dari 13.932 ton pada kuartal II. Harga realisasi nikel matte justru turun dari US$14.765 per ton menjadi US$14.053 per ton.

Dengan harga yang lebih rendah, volume menjadi penyelamat. Tambahan pasokan nikel matte ditambah kontribusi penjualan bijih nikel dari operasi Bahodopi dan Pomalaa membuat pendapatan kuartalan tetap tumbuh. Pola ini menunjukkan INCO tidak lagi bergantung pada satu produk.

Diversifikasi itu terlihat pada struktur pendapatan. Penjualan bijih nikel memberi pemasukan yang tidak terikat fluktuasi harga nikel matte di pasar dunia. Ketika harga matte melemah, bijih tetap punya pembeli karena smelter dalam negeri membutuhkan bahan baku.

EBITDA perseroan juga membaik. IDXChannel menyebut EBITDA kuartal III sebesar US$101 juta, sehingga secara kumulatif mencapai US$297 juta sampai akhir September. Angka itu tumbuh dari US$166 juta pada periode yang sama tahun lalu, tanda bahwa efisiensi biaya ikut bekerja.

Beban Usaha Stabil, Pendapatan Lain Melonjak

Selain sisi operasi, ada pos lain yang membantu laba. Beban usaha relatif datar di US$24,95 juta dibandingkan US$24,61 juta pada Januari sampai September 2025. Pendapatan lain justru naik tajam menjadi US$16,14 juta dari US$313 ribu pada periode sebelumnya.

Perseroan juga mencatat bagian laba bersih sebesar US$16,35 juta, meningkat dari US$5,83 juta. Dengan komponen itu, laba sebelum pajak mencapai US$190,80 juta, naik 164,34 persen dari US$72,18 juta. Beban pajak ikut naik menjadi US$43,68 juta dari US$19,73 juta.

Laba per saham dasar dan dilusian naik menjadi US$0,0140 dari US$0,0050. Bagi pemegang saham, perbaikan ini terlihat nyata pada rasio per lembar saham, bukan hanya pada angka agregat di laporan keuangan.

Kas, Belanja Modal, dan Pinjaman Baru

Di sisi neraca, total aset INCO mencapai US$3,65 miliar per 30 September 2026, naik 9,18 persen dari US$3,35 miliar pada akhir 2025. Total liabilitas naik 36,43 persen menjadi US$778,69 juta, terutama karena munculnya pinjaman bank jangka panjang US$175 juta.

Belanja modal yang direalisasikan pada kuartal III sekitar US$95 juta. Dana itu dipakai untuk menjaga keberlangsungan operasi sekaligus mempercepat proyek pertumbuhan. Perseroan juga menarik US$175 juta dari fasilitas pinjaman untuk mendukung kebutuhan belanja modal pemeliharaan.

Ada perbedaan basis yang perlu dibaca hati-hati soal kas. investor.id menyebut kas US$247 juta melonjak dari US$111 juta pada akhir Juni 2026. EmitenTrust menyebut angka US$247,31 juta itu turun dari US$376,36 juta pada akhir 2025. Keduanya benar karena membandingkan dengan tanggal berbeda, bukan saling bertentangan.

Arus kas operasi tercatat US$103,99 juta, turun 44,84 persen dari US$188,52 juta. Arus kas investasi keluar US$349,57 juta, sementara pembayaran dividen mencapai US$45,64 juta. Kombinasi kas operasi yang menipis dan belanja modal besar menjelaskan mengapa pinjaman baru diambil.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga