Tambang nasional kembali mencatat rekor. PT Timah (Persero) Tbk membukukan laba bersih Rp4,12 triliun untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, melonjak 584 persen dari Rp602,42 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kinerja ini menjadi laba sembilan bulan tertinggi sepanjang sejarah perseroan, ditopang kenaikan harga timah dunia dan volume penjualan yang tumbuh 72 persen.
Tambang Nasional: Laba PT Timah Tembus Rp4,12 Triliun
Pendapatan usaha perseroan mencapai Rp16,15 triliun pada Januari sampai September 2026, naik 144 persen dari Rp6,61 triliun pada 9M 2025. Laba usaha melesat 594 persen menjadi Rp5,60 triliun dari Rp807,25 miliar, sementara EBITDA naik 323 persen menjadi Rp6,18 triliun dari Rp1,46 triliun.
Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro menyebut capaian itu sebagai rekor tertinggi perseroan untuk periode sembilan bulan. Menurut dia, perbaikan berasal dari peningkatan produktivitas, optimalisasi kegiatan usaha, pengelolaan penjualan yang efektif, serta disiplin pengelolaan keuangan.
Angka-angka itu penting karena menunjukkan lonjakan laba tidak hanya efek basis rendah. Laba usaha naik hampir tujuh kali lipat, jauh lebih cepat daripada kenaikan pendapatan yang 2,4 kali. Artinya, biaya produksi per ton relatif tertahan ketika harga jual bergerak naik.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Harga Timah Dunia Jadi Pendorong Utama
Harga jual rata-rata logam timah perseroan pada 9M 2026 mencapai 51.011 dolar Amerika per metrik ton, meningkat 52 persen dari 33.596 dolar Amerika per metrik ton pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan itu sejalan dengan pergerakan harga timah di pasar global.
CNBC Indonesia mencatat harga rata-rata cash settlement price timah di London Metal Exchange mencapai 51.636,61 dolar Amerika per metrik ton selama sembilan bulan pertama 2026. Angka itu melonjak 57,55 persen secara tahunan dari 32.775,58 dolar Amerika per metrik ton.
Timah merupakan logam kunci untuk solder, pelapis kaleng, dan bahan kimia. Permintaan dari industri elektronik dan semikonduktor membuat harganya bergerak seiring siklus produksi chip. Ketika pasokan global terganggu, harga bergerak lebih cepat daripada kapasitas tambang untuk merespons.
Produksi Bijih dan Logam Naik Dua Digit
Dari sisi operasi, produksi bijih timah mencapai 18.883 ton Sn, naik 55 persen dari 12.190 ton Sn pada 9M 2025. Produksi logam timah mencapai 16.190 metrik ton Sn, meningkat 49 persen dari 10.855 metrik ton Sn.
ANTARA Bangka Belitung melaporkan kenaikan itu didukung optimalisasi penambangan darat dan laut. Di darat, perseroan menambah unit operasi tambang, membuka blok rencana kerja di sejumlah lokasi, dan mengoptimalkan pemboran pandu.
Di laut, perseroan mengoptimalkan kinerja kapal keruk dan kapal isap produksi, serta meningkatkan pengawasan serta produktivitas ponton isap produksi. Perseroan juga mengoperasikan kapal bor di area produksi utama untuk menaikkan keyakinan atas sumber daya dan cadangan.
Pasar Ekspor Mendominasi Penjualan
Volume penjualan logam timah pada 9M 2026 mencapai 16.304 metrik ton, meningkat 72 persen dari 9.469 metrik ton pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan itu didukung pengelolaan persediaan logam untuk memenuhi permintaan pasar.
Pasar ekspor menyumbang 96 persen dari total penjualan, sedangkan pasar domestik hanya 4 persen. Enam negara tujuan utama adalah China 30 persen, Korea Selatan 12 persen, India 11 persen, Jepang 9 persen, Belanda 8 persen, dan Singapura 7 persen.
Komposisi itu memperlihatkan posisi Timah sebagai pemasok global, bukan pemain pasar dalam negeri. Konsekuensinya, kinerja perseroan sangat terikat pada permintaan dan kebijakan dagang negara tujuan, termasuk aturan pembatasan impor di sejumlah pasar.
Margin dan Profitabilitas Melompat
Margin operasi tercatat 34,67 persen, naik dari 12,22 persen pada 9M 2025. Margin EBITDA mencapai 38,26 persen dari 22,08 persen, sedangkan margin laba bersih naik menjadi 25,52 persen dari 9,12 persen.
Rasio pengembalian modal juga membaik. Return on Assets naik menjadi 23,88 persen dari 4,40 persen, sementara Return on Equity melonjak menjadi 34,42 persen dari 8,00 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Bagi pemegang saham negara, rasio itu menunjukkan modal yang ditanam di sektor timah kembali bekerja jauh lebih efisien. Namun margin setinggi itu juga menyimpan pertanyaan tentang daya tahannya bila harga komoditas berbalik arah.


