Berita viral dari dunia teknologi pekan ini datang dari Cisco. Presiden sekaligus Chief Product Officer Cisco, Jeetu Patel, menyerahkan salah satu pekerjaan terbesar perusahaan kepada seorang engineer berusia 27 tahun, lengkap dengan token kecerdasan buatan tanpa batas dan tenggat empat minggu untuk membuktikan bahwa pendekatannya masuk akal.
Nama engineer itu Padmanabhan Krishnamurthy, yang akrab disapa Paddy. Ia bergabung ke Cisco pada 2025 setelah perusahaan mengakuisisi EzDubs, startup penerjemah suara waktu nyata yang ia dirikan bersama rekan rekannya pada 2023. Di dalam Cisco, posisinya berada lima lapis di bawah Patel dan dinilai kurang strategis.
Patel menemukan Paddy saat berkunjung ke kantor Cisco di San Francisco. Dalam percakapan itu, Paddy mengajukan gagasan menulis ulang kode warisan Cisco dengan tim berisi dua orang saja. Patel menyebut bahkan orang orang paling akrab dengan kecerdasan buatan di timnya tidak berpikir sejauh itu.
Siapa Paddy dan mengapa ia dipilih
Kisah ini pertama kali dilaporkan Fortune pada 30 Oktober 2026, kemudian diulas Tom’s Hardware dan disindikasikan sejumlah kanal keuangan. Inti ceritanya sederhana: seorang pendiri startup yang masuk lewat akuisisi kecil justru mendapat mandat besar karena dianggap paham cara memakai alat kecerdasan buatan untuk bekerja.
Menurut laporan Fortune, Patel menilai Paddy terkubur di dalam organisasi dan mengerjakan sesuatu yang tidak strategis. Padahal ia sudah punya pengalaman sebagai pendiri dan pernah memimpin perusahaan sendiri. Kombinasi itu yang membuat Patel menaruh perhatian.
Cisco adalah perusahaan bernilai sekitar 429 miliar dolar Amerika Serikat menurut laporan tersebut. Perangkat lunaknya menjalankan router, switch, dan firewall di jaringan korporasi, operator telekomunikasi, serta pusat data. Kode yang sudah puluhan tahun dipakai tentu tidak sederhana.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Berita viral: token tanpa batas dan tenggat empat minggu
Bagian yang paling banyak dibicarakan adalah soal token. Patel menyatakan ia memberi Paddy token tanpa batas karena pekerjaannya adalah refaktor kode berskala besar. Dalam bahasa yang ia pakai kepada Fortune, ia mempersilakan Paddy memakai sebanyak yang dibutuhkan.
Keputusan itu sengaja melawan kebiasaan. Banyak perusahaan menerapkan kuota pemakaian alat kecerdasan buatan untuk mengendalikan biaya. Cisco justru melepas remnya untuk satu proyek, dengan alasan biaya menulis kode baru kini jauh lebih murah dibanding biaya memeriksanya.
Tenggat empat minggu disebut sebagai masa uji. Dalam periode itu, Paddy harus menunjukkan bahwa pendekatan dua orang dengan bantuan agen pengode dapat menghasilkan kemajuan yang terukur. Bila gagal, gagasannya berhenti di tahap pembuktian.
Patel menyampaikan bahwa ia mencari lebih banyak karyawan muda dengan pola pikir seperti Paddy, baik dari dalam maupun luar perusahaan. Menurutnya, perusahaan perlu orang yang berani mempertanyakan sistem dan status quo, bukan hanya menjalankan proses yang sudah ada.
Target menulis ulang 98 persen kode dalam 24 bulan
Sasaran akhirnya bukan pekerjaan kecil. Paddy menargetkan penulisan ulang 98 persen kode warisan Cisco dalam 24 bulan dengan tim yang hanya berisi dua orang. Angka itu membuat proyek ini menjadi salah satu eksperimen refaktor terbesar yang pernah dilaporkan secara terbuka.
Bila berhasil, Cisco bisa memangkas beban pemeliharaan kode lama yang menumpuk selama bertahun tahun. Bila gagal, perusahaan tetap mendapat pelajaran soal batas kemampuan agen pengode dalam memahami sistem yang sangat besar dan saling terkait.
Yang menarik, Cisco tidak mengumumkan proyek ini lewat siaran pers resmi. Informasinya mengalir dari sesi makan malam bersama wartawan, lalu berkembang menjadi perdebatan publik di forum teknologi. Sampai berita ini ditulis, Cisco belum menerbitkan rincian teknis proyek tersebut.
Mengapa kode lama sulit ditulis ulang
Kode warisan bukan sekadar kode jelek yang perlu diganti. Di dalamnya tersimpan perbaikan khusus untuk pelanggan tertentu, penanganan kasus langka, dan keputusan teknis yang diambil puluhan tahun lalu dan tidak terdokumentasi dengan rapi.
Menulis ulang berarti mereproduksi seluruh perilaku itu, termasuk keanehan yang justru dibutuhkan sistem. Inilah bagian yang paling sering diremehkan ketika orang membayangkan kecerdasan buatan dapat menggantikan pekerjaan pemrograman.
Tom’s Hardware mencatat bahwa menghasilkan kode baru dengan bantuan kecerdasan buatan kini relatif murah. Yang mahal adalah memastikan kode itu benar, tidak merusak fungsi lama, dan lolos pengujian di lingkungan yang menyerupai produksi.
Sejumlah pembaca teknologi langsung menyoroti hal ini. Argumen mereka, pengujian regresi untuk sistem sebesar Cisco bisa memakan waktu jauh lebih lama daripada 24 bulan, terutama bila hanya dikerjakan dua orang.


