SUARALUTIM.COM, ANGKONA — Percakapan tentang wisata luwu timur biasanya berhenti pada tiga danau purba. Padahal, di dataran Angkona ada lanskap lain yang mulai dilirik: kebun melon dan semangka Desa Wanasari. Pada Rabu, 7 Oktober 2026, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Palopo Kelompok 80 mempromosikan potensi pertanian desa itu, dengan melon dan semangka sebagai komoditas utama.
Kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan hasil pertanian unggulan desa sekaligus mendorong pengembangan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Bagi pembaca yang mencari alternatif wisata berbasis pertanian, Wanasari menawarkan bahan cerita yang jarang diangkat: kebun, petani, dan pasar yang tumbuh dari kampung.
Wisata Luwu Timur: Potensi Agrowisata di Wanasari
Agrowisata adalah kegiatan kunjungan ke kawasan pertanian untuk belajar, menikmati lanskap, dan membeli hasil panen langsung dari petani. Di banyak daerah, model ini menjadi penopang ekonomi desa karena memberi nilai tambah pada produk dan membuka pendapatan tambahan bagi warga.
Desa Wanasari memiliki bahan dasar untuk itu. Desa ini dikenal sebagai Kampung Pangan Adhyaksa dengan potensi pertanian yang cukup besar. Melon dan semangka menjadi komoditas yang dikembangkan masyarakat setempat, dengan hasil panen yang disebut mencapai berton-ton.
Yang perlu ditegaskan sejak awal: sampai berita ini disusun, belum ada informasi resmi mengenai paket kunjungan, harga tiket, jam buka, atau fasilitas wisata di Wanasari. Karena itu, artikel ini tidak menyajikan angka yang tidak bisa diverifikasi. Yang dibahas adalah potensi, apa yang sudah berjalan, dan apa yang masih perlu disiapkan bila desa ingin serius menggarap agrowisata.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Kampung Pangan Adhyaksa dan 33 Desa Pilot Pandu Juara
Wanasari bukan desa yang baru bicara soal pertanian. Desa ini tercatat sebagai salah satu dari 33 desa pilot project Pandu Juara, program yang menerapkan skema pembangunan desa berbasis potensi unggulan. Dalam kerangka itu, melon dan semangka dikembangkan sebagai komoditas produktif bernilai ekonomi.
Penetapan sebagai Kampung Pangan Adhyaksa memberi dua hal sekaligus: pengakuan atas potensi pangan dan dorongan agar pengelolaannya tertib. Bagi pengembangan wisata, status itu penting karena memberi jaminan bahwa yang ditawarkan ke pengunjung bukan kebun biasa, melainkan kawasan produksi yang dikelola dengan pendekatan program.
Pengalaman daerah lain menunjukkan, agrowisata berhasil bila tiga syarat tersedia: kebun yang tertata, petani yang siap menerima tamu, dan jalur pemasaran yang jelas. Wanasari sudah memiliki dua unsur pertama dalam bentuk lahan dan pengetahuan budidaya. Unsur ketiga sedang dibangun.
Dari Kebun ke Pasar: Jejak Melon Wanasari
Jejak pemasaran melon Wanasari cukup panjang. Pada September 2026, melon dari desa ini diberitakan menembus pasar Makassar, seperti dibahas dalam artikel Berita Luwu Timur: Melon Wanasari Tembus Pasar Makassar. Pemberitaan lain menyebut komoditas ini menghasilkan pendapatan bagi petani, seperti dalam artikel Berita Lutim: Melon Wanasari Angkona Hasilkan Cuan.
BUMDes setempat turut membantu pemasaran hasil panen. Peran itu krusial. Ketika produksi melimpah, harga di tingkat petani bisa jatuh bila tidak ada penyerap lokal. BUMDes menjadi penyeimbang yang menjaga panen tidak berakhir di pinggir jalan.
Bagi wisatawan, rantai itu berarti sesuatu yang sederhana: buah yang dibeli di kebun biasanya lebih segar dan harganya lebih berpihak kepada petani. Namun, sekali lagi, ketersediaan stok bergantung musim panen dan tidak bisa dijanjikan setiap hari.


