Senin, 2 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Wisata Luwu Timur: Anoa Sorowako di Taman Kehati Wallacea

2 November 2026 • Admin • 21 kali dibaca
Rombongan wisata mengunjungi Taman Kehati Sawerigading Wallacea Sorowako untuk wisata luwu timur
Gambar: Dok. Disparmudora Luwu Timur (kunjungan wisata ke Taman Kehati Sawerigading Wallacea, Sorowako).
ASM Group
Iklan

Di tengah aktivitas industri nikel di Sorowako, seekor anoa jantan berusia sekitar dua tahun dirawat di kawasan konservasi Taman Kehati Sawerigading Wallacea. Setiap hari ia diberi makan rumput, daun lamtoro, dan dedaunan segar oleh keeper bernama Hussein. Namun ada satu hal yang belum dimiliki satwa endemik Sulawesi itu: pasangan untuk berkembang biak.

Kisah itu dilaporkan Kompas.com pada 31 Oktober 2026 dan menjadi pintu masuk untuk membaca sisi lain wisata Luwu Timur. Kawasan konservasi di area operasional PT Vale Indonesia Tbk itu bukan sekadar ruang tertutup perusahaan, melainkan tujuan edukasi yang menerima kunjungan wisata dan sekolah. Di sinilah pariwisata bertemu konservasi.

Wisata Luwu Timur dan Konservasi: Anoa di Taman Kehati

Taman Kehati Sawerigading Wallacea berada di Sorowako, Kecamatan Nuha. Nama Wallacea merujuk kawasan biogeografi yang membentang di tengah Indonesia, wilayah dengan tingkat endemisme tinggi. Bagi pengunjung, kawasan ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi danau: bukan lanskap luas yang bisa dinikmati dari tepi, melainkan pengamatan satwa dan tumbuhan dengan pendampingan.

SuaraLutim sebelumnya membahas sisi edukasi kawasan ini dalam artikel Wisata Luwu Timur: Taman Kehati dan Edukasi Sorowako. Yang kemudian muncul ke permukaan lewat laporan Kompas adalah persoalan teknis konservasi: bagaimana satwa yang dilindungi tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berkembang biak.

Tata Atur
Iklan

Anoa merupakan satwa endemik Sulawesi yang populasinya tertekan oleh penyusutan habitat. Karena itu, keberadaan satu individu di kawasan konservasi bukan akhir dari pekerjaan. Tanpa program pengembangbiakan yang terencana, kawasan konservasi berisiko berubah menjadi tempat penampungan satwa, bukan pusat pelestarian.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Merawat Anoa: Pakan Harian dan Harapan Berkembang Biak

Menurut laporan tersebut, Hussein memastikan kebutuhan pakan anoa terpenuhi setiap hari. Menu hariannya rumput, daun lamtoro, dan berbagai jenis dedaunan segar. Perawatan rutin semacam ini menjadi dasar kesehatan satwa, terutama untuk individu yang hidup di luar habitat alaminya.

Harapan Hussein sederhana. Ia ingin anoa yang dirawatnya tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga dapat berkembang biak. “Dipelihara di sini sebenarnya kita mau kembangbiakan. Tapi sampai sekarang ini tidak ada pasangannya. Hanya jantan sekarang,” kata Hussein, Jumat, 30 Oktober 2026, seperti dikutip Kompas.com.

Ia berharap ada upaya menghadirkan anoa betina agar program pengembangbiakan dapat dipertimbangkan. Dalam laporan itu, Hussein membandingkannya dengan rusa yang telah berkembang di kawasan tersebut.

Permintaan itu menunjukkan pekerjaan konservasi tidak berhenti pada penyediaan kandang dan pakan. Pelestarian satwa membutuhkan perencanaan jangka panjang: pemeliharaan, pengembangbiakan, penjagaan kemurnian genetik, hingga perlindungan habitat.

Rencana Anoa Betina dan Koordinasi BBKSDA

Head of Health, Safety, Sustainability, Environment and Operation Risk PT Vale Indonesia Tbk, Febrin Sitorus, menyatakan perusahaan memiliki rencana mendatangkan anoa betina. Rencana itu diarahkan untuk mendukung pengembangbiakan, menjaga kemurnian genetik, serta mengurangi tekanan terhadap populasi anoa di alam.

Namun upaya tersebut tidak bisa dilakukan secara sepihak. Menurut Febrin, perusahaan perlu berkoordinasi dan memperoleh persetujuan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan, sesuai ketentuan dalam perjanjian kerja sama mengenai penguatan konservasi keanekaragaman hayati melalui pengelolaan pusat konservasi satwa khusus.

Ia juga menegaskan PT Vale belum pernah melakukan pelepasliaran anoa. Pernyataan itu penting untuk meluruskan dugaan yang kadang muncul di media sosial: memelihara satwa di kawasan konservasi bukan sama dengan melepasliarkan satwa ke alam.

Bagi publik Luwu Timur, tahapan perizinan ini layak diikuti. Kehadiran anoa betina menentukan apakah kawasan konservasi berfungsi sebagai pusat pengembangbiakan atau tetap menjadi tempat perawatan individu tunggal.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga