MAKASSAR – Pengukuhan Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Herindra sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) masa bakti 2026–2030 dinilai membawa harapan baru bagi perkembangan esports nasional, termasuk pembinaan atlet di daerah.
Ketua ESI Kabupaten Pinrang, Andi Aan Nugraha, menyambut positif kepemimpinan baru tersebut. Ia berharap penguatan tata kelola di tingkat nasional dapat berjalan seiring dengan pembinaan atlet secara berjenjang hingga ke daerah.
Menurutnya, potensi esports tidak hanya berada di kota-kota besar. Banyak talenta muda di daerah yang memiliki kemampuan dan minat besar, namun membutuhkan ruang latihan, kompetisi, serta pembinaan yang konsisten.
Viral Luwu Timur: Talenta Daerah Butuh Ruang Pembinaan
Dalam sejumlah kesempatan, atlet esports dari daerah kerap muncul melalui turnamen daring. Namun, perjalanan mereka sering terhenti karena tidak ada jenjang kompetisi yang berkelanjutan setelah turnamen berakhir.
“Harapannya tentu esports Indonesia semakin berkembang, dan pembinaannya bisa dirasakan sampai ke daerah. Banyak anak-anak muda yang punya potensi, tinggal bagaimana kita memberikan ruang dan pembinaan yang tepat,” ujar Andi Aan.
Ia menilai keberhasilan seorang atlet esports tidak lahir secara instan. Dibutuhkan proses panjang mulai dari menemukan talenta, membangun kemampuan, mengikuti kompetisi, hingga mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan.
Karena itu, Andi Aan berharap kepemimpinan Herindra di PB ESI dapat memperkuat jalur pembinaan tersebut. Menurutnya, dengan jalur yang jelas, atlet dari berbagai daerah memiliki kesempatan lebih luas untuk berkembang.
“Yang kita harapkan bukan hanya muncul atlet ketika ada kejuaraan, tetapi ada proses pembinaan yang terus berjalan. Dari daerah kita siapkan talentanya, kemudian ada jenjang yang jelas untuk mereka berkembang,” katanya.
Potensi Esports dan Ekosistem Nasional
Pengukuhan Herindra juga menjadi momentum PB ESI untuk memperkuat ekosistem esports nasional. Dalam komitmen kepemimpinannya, Herindra menegaskan sejumlah fokus, di antaranya meningkatkan kualitas atlet, memperkuat ekosistem kompetisi, serta membangun jalur pembinaan prestasi yang jelas dan berkelanjutan.
Herindra menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam industri esports. Potensi tersebut didukung lebih dari 200 juta gamer aktif serta nilai pasar game yang diproyeksikan melampaui 2 miliar dolar AS pada 2026.
Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi industri game asing. Ekosistem lokal juga perlu diperkuat, mulai dari pengembang game, penyelenggara event, kreator konten, hingga platform streaming.
Andi Aan melihat perkembangan tersebut sebagai peluang bagi daerah untuk ikut mengambil bagian dalam pertumbuhan esports nasional.
“Kalau ekosistemnya semakin kuat, tentu peluang anak-anak daerah juga semakin terbuka. Bukan hanya sebagai pemain, tetapi bisa berkembang ke bidang lain yang ada di industri esports,” ujarnya.