Mengapa Pembangunan Karakter Perlu Ruang di Anggaran Daerah
Dalam banyak pembahasan di DPRD Luwu Timur, persoalan pendidikan kerap berputar pada tiga hal: ketersediaan ruang kelas, jumlah guru, dan kondisi jalan menuju sekolah. Prima Eyza menilai tiga hal itu memang penting, tetapi tidak cukup. Program pembinaan karakter, termasuk kegiatan keagamaan siswa, membutuhkan dukungan yang tidak kalah serius karena hasilnya baru terlihat dalam jangka panjang.
Persoalan yang sering muncul di tingkat pelaksanaan biasanya bersifat teknis: jadwal kegiatan yang berhimpitan dengan jam belajar, jarak rumah siswa ke lokasi kegiatan, serta kebutuhan pendampingan dari guru dan orang tua. Untuk wilayah seperti Nuha dan Towuti yang jarak antardesanya cukup jauh, kebutuhan transportasi dan penerangan menjadi pertimbangan tersendiri. Karena itu, Prima Eyza menekankan pentingnya penyesuaian di lapangan ketimbang penerapan aturan yang seragam untuk semua sekolah.
Ia juga melihat peran keluarga sebagai kunci. Menurutnya, kebiasaan yang dibangun di sekolah akan cepat luntur bila tidak dirawat di rumah. Karena itu program semacam Pejuang Subuh dinilai lebih kuat bila disertai komunikasi rutin antara sekolah, masjid, dan orang tua siswa.
Dukungan dari Sisi Pengawasan DPRD
Sebagai bagian dari alat kelengkapan dewan, Prima Eyza menyampaikan bahwa fungsi pengawasan tidak berhenti pada dokumen anggaran. Legislator juga perlu turun melihat pelaksanaan program, mendengar keluhan guru dan warga, lalu menyampaikan temuan itu dalam pembahasan dengan perangkat daerah terkait.
Pola kerja semacam itu, katanya, membuat kebijakan daerah lebih membumi. Program yang bagus di atas kertas perlu diuji dengan kenyataan: apakah kegiatan benar-benar terlaksana, siapa yang mendapat manfaat, dan apa kendalanya di desa-desa yang jauh dari pusat pemerintahan.
Harapan untuk Sekolah dan Madrasah di Luwu Timur
Prima Eyza berharap pembinaan keagamaan di sekolah berjalan sebagai bagian dari kehidupan keseharian, bukan sekadar agenda tahunan. Ia menilai kegiatan yang rutin dan sederhana, seperti salat berjamaah, jauh lebih berkesan bagi siswa daripada acara besar yang hanya digelar sekali.
Bagi warga Luwu Timur, gagasan itu memberi sudut pandang yang bisa diuji sendiri. Disiplin waktu, kebersihan, dan kepedulian sosial adalah hal-hal kecil yang dampaknya terasa jauh lebih lama dibanding pembangunan fisik apa pun. Maka ketika program semacam ini dibahas di ruang publik, pertanyaannya bukan hanya soal siapa yang menggagas, tetapi bagaimana ia dirawat bersama.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Siapa Prima Eyza Purnama?
Ia anggota DPRD Kabupaten Luwu Timur periode 2024–2029 dari Fraksi PAN dengan daerah pemilihan Luwu Timur 5 yang meliputi Kecamatan Nuha dan Towuti. Ia duduk di Komisi I serta menjadi anggota Badan Musyawarah dan Badan Kehormatan DPRD.
Apa itu program Pejuang Subuh?
Program Pemerintah Kabupaten Luwu Timur yang mendorong pelajar, guru, dan warga melaksanakan salat Subuh berjamaah di masjid, dengan penekanan pada pembentukan kebiasaan dan karakter anak.
Mengapa program ini dibahas di DPRD?
Karena program menyentuh dunia pendidikan dan anggaran daerah. DPRD memiliki fungsi pengawasan untuk memastikan pelaksanaannya berjalan baik, termasuk dari sisi kesiapan sarana dan kondisi geografis tiap wilayah.
Artikel ini disusun dari pemberitaan Ujung Jari soal apresiasi Prima Eyza terhadap program Pejuang Subuh dan catatan fraksi pada Perubahan APBD 2026 dari Karebata.id. Baca juga artikel SuaraLutim: 7 Catatan Fraksi PAN untuk APBD 2025 dan rubrik Advertorial.


