SUARALUTIM.COM, MAKASSAR – ButtaCorp menggelar capacity building selama dua hari, Sabtu dan Ahad (17–18 Oktober 2026). Kegiatan itu menjadi ruang bagi jajaran perusahaan untuk menyamakan cara pandang, mengasah kemampuan, dan memperkuat kerja tim lintas unit usaha.
Di hadapan peserta, jajaran manajemen ButtaCorp menegaskan bahwa aset utama perusahaan bukan lahan, bangunan, atau modal yang tercatat di neraca. Yang paling menentukan adalah orang-orang yang menjalankan perusahaan setiap hari.
“Aset utama dari perusahaan adalah orang, yang menjadi ujung tombak dari perusahaan yang kami dirikan,” ujar jajaran manajemen ButtaCorp dalam kegiatan tersebut.
Pernyataan itu menjadi penanda arah perusahaan. ButtaCorp dikenal sebagai grup usaha yang bergerak di bidang properti, konstruksi, dan pengelolaan estate, dengan kantor pemasaran di Jalan Yusuf Bauty, Gowa, Sulawesi Selatan. Di sektor yang bertumpu pada kepercayaan pembeli, kualitas orang di lapangan menentukan reputasi perusahaan.
Mengapa capacity building jadi pilihan
Capacity building bukan istilah baru di dunia korporasi. Isinya penguatan kapasitas: pengetahuan teknis, keterampilan melayani, kemampuan bekerja dalam tim, sampai cara mengambil keputusan saat menghadapi masalah di lapangan.
Bagi perusahaan properti dan konstruksi, kemampuan itu tidak bisa diasumsikan tumbuh sendiri. Seorang staf pemasaran perlu memahami produk yang dijualnya sampai detail, termasuk legalitas, spesifikasi bangunan, dan tahapan serah terima. Tim proyek perlu memahami standar mutu dan keselamatan kerja. Tim pengelola estate perlu tahu bagaimana merespons keluhan penghuni dengan cepat dan tepat.
Kesalahan kecil di salah satu titik itu bisa berujung pada kehilangan kepercayaan. Karena itu, pelatihan dua hari yang menyatukan seluruh jajaran bukan sekadar agenda rutin, melainkan investasi pada mutu layanan.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Orang sebagai ujung tombak
Ungkapan ujung tombak itu punya makna teknis. Dalam organisasi, ujung tombak adalah pihak yang paling depan berhadapan dengan pelanggan, mitra, dan persoalan nyata. Mereka yang menentukan apakah janji perusahaan terasa nyata atau hanya kalimat di brosur.
Pada praktiknya, ujung tombak tidak hanya berada di bagian penjualan. Ia juga ada di proyek yang menjaga jadwal pembangunan, di kantor yang mengurus dokumen, dan di lapangan yang memastikan kualitas pekerjaan sesuai rencana. Semua titik itu bertemu pada satu hal: pengalaman yang dirasakan pembeli.
Karena itu, memperkuat kapasitas orang berarti memperkuat seluruh rantai. Perusahaan yang hanya berinvestasi pada produk, tetapi mengabaikan kesiapan timnya, biasanya tertahan pada tahap penjualan pertama. Sebaliknya, tim yang terlatih dapat mengubah pembeli pertama menjadi rujukan bagi pembeli berikutnya.
Dua hari yang menyatukan cara kerja
Kegiatan dua hari memberi ruang yang cukup untuk hal yang jarang didapat dalam rapat harian: waktu untuk berhenti sejenak, meninjau cara kerja, lalu memperbaikinya bersama.
Format semacam ini biasanya menggabungkan sesi materi, diskusi kelompok, dan latihan penerapan. Tujuannya bukan menambah pengetahuan sebanyak mungkin, tetapi memastikan satu hal: apa yang dipelajari bisa langsung dipakai pada pekerjaan Senin pagi.
Yang juga penting adalah efek penyatuan. Ketika orang dari unit berbeda duduk dalam satu ruangan, mereka melihat bahwa persoalan yang selama ini terasa milik satu bagian ternyata bersinggungan dengan bagian lain. Dari situ muncul kesepahaman soal prioritas dan cara berkomunikasi.


