Lutim, SuaraLutim – Harga barang dan jasa di Luwu Timur naik pada September 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,62 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 113,05 pada Agustus menjadi 113,75 pada September. Kenaikan itu terjadi setelah Luwu Timur mencatat deflasi 0,43 persen pada bulan sebelumnya.
Meski secara bulanan naik, posisi Luwu Timur masih tergolong baik secara tahunan. Inflasi tahunan (year-on-year) tercatat 2,95 persen, menempatkan kabupaten ini dalam kelompok daerah dengan inflasi terendah di Sulawesi Selatan.
Angka Inflasi Luwu Timur dan Perbandingan Bulan Sebelumnya
Data tersebut bersumber dari rilis resmi BPS Kabupaten Luwu Timur untuk periode September 2026, sebagaimana dirangkum Ujungjari.com dan Inputrakyat.co.id. Selain inflasi bulanan dan tahunan, BPS juga mencatat inflasi tahun kalender (year-to-date) sebesar 3,12 persen.
| Indikator | Agustus 2026 | September 2026 |
|---|---|---|
| Indeks Harga Konsumen (IHK) | 113,05 | 113,75 |
| Inflasi bulanan (m-t-m) | −0,43% (deflasi) | 0,62% |
| Inflasi tahunan (y-on-y) | 2,34% | 2,95% |
| Inflasi tahun kalender | 2,48% | 3,12% |
Kenaikan indeks sebesar 0,70 poin itu setara dengan inflasi bulanan 0,62 persen. Bagi rumah tangga, angka tersebut menggambarkan bahwa secara rata-rata harga kebutuhan yang masuk penghitungan IHK bergerak naik dibanding Agustus.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Komoditas Penyumbang Inflasi dan Penahan Laju Harga
BPS mencatat sejumlah komoditas pangan sebagai penyumbang utama inflasi bulanan di Luwu Timur. Cabai rawit memberi andil terbesar, disusul daging ayam ras dan udang basah.
- Cabai rawit: andil inflasi 0,22 persen
- Daging ayam ras: andil 0,18 persen
- Udang basah: andil 0,07 persen
Sementara itu, sebagian komoditas justru menahan laju inflasi. Ikan layang (benggol) memberi andil deflasi 0,04 persen, disusul ikan teri dan semangka dengan andil masing-masing 0,03 persen. Pola ini menunjukkan harga pangan yang bergerak berlawanan arah, sehingga inflasi bulanan tidak melonjak lebih tinggi.
Menarik dicatat, dua komoditas hasil laut masuk daftar penahan inflasi. Ini mengindikasikan pasokan perikanan yang cukup pada periode tersebut. Sebaliknya, kenaikan harga cabai rawit dan daging ayam mengindikasikan tekanan pada dua kebutuhan yang paling sering dibeli rumah tangga.
Kelompok Pengeluaran: Makanan dan Restoran Paling Menekan
Jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, tekanan inflasi tahunan terbesar datang dari kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran. Kelompok ini mencatat inflasi 5,74 persen dengan andil 0,42 persen terhadap inflasi tahunan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mencatat inflasi 1,04 persen, sedangkan kelompok transportasi berada di angka 0,43 persen. Adapun kelompok kesehatan menjadi yang terendah dengan inflasi 0,55 persen dan andil hanya 0,01 persen.
Komposisi ini penting bagi pemerintah daerah. Kelompok makanan dan restoran yang menekan lebih tinggi menunjukkan bahwa permintaan jasa kuliner bergerak aktif — kabar baik bagi pelaku usaha, tetapi tetap perlu diimbangi pasokan bahan baku agar tidak memicu kenaikan harga berantai. Pemerintah daerah juga telah menjalankan sejumlah program yang menyentuh sisi pasokan, antara lain pemasaran pangan murah bagi warga. Kami pernah mengulas agenda tersebut dalam artikel pasar pangan murah Malili.
Luwu Timur di Antara Daerah dengan Inflasi Terendah di Sulsel
BPS Provinsi Sulawesi Selatan mencatat inflasi bulanan provinsi pada September 2026 sebesar 0,70 persen, dengan inflasi tahunan 3,75 persen, seperti diberitakan ANTARA News Makassar. Artinya, inflasi bulanan Luwu Timur (0,62 persen) berada sedikit di bawah angka provinsi.
Untuk inflasi tahunan, Luwu Timur berada tepat di bawah Kota Palopo (2,27 persen) dan Kabupaten Bulukumba (2,76 persen). Posisi ini menempatkan Luwu Timur dalam jajaran tiga daerah dengan inflasi terendah di Sulawesi Selatan.
Peringkat tersebut bukan prestasi yang datang tiba-tiba. Data BPS menunjukkan inflasi tahunan Luwu Timur sempat berada di level tinggi pada awal 2026: 4,30 persen pada Januari dan 5,86 persen pada Februari, sebelum berangsur turun menjadi 2,98 persen pada April, lalu 2,34 persen pada Agustus.
Kepala BPS Kabupaten Luwu Timur, Abdullah Pannu, menilai kondisi inflasi daerah masih relatif terjaga. Ia menyoroti tantangan cuaca, termasuk fenomena El Nino, yang berpotensi menekan produksi dan pasokan pangan.
“Kondisi inflasi Luwu Timur masih relatif terjaga di tengah tantangan El Nino dan potensi tekanan terhadap produksi serta pasokan pangan. Hal ini tentu perlu terus dipertahankan melalui penguatan program ketahanan pangan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, serta sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan seluruh stakeholder,” ujar Abdullah Pannu.


