MAKASSAR – UPT RSUD Labuang Baji menghadirkan bakti sosial berupa operasi katarak gratis bagi masyarakat. Kegiatan itu berkolaborasi dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia, Yayasan Kita Bisa, dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI).
Operasi dilaksanakan di fasilitas ruang operasi RSUD Labuang Baji dengan melibatkan dokter spesialis mata RSUD Labuang Baji dan RSUD Bhakti Pajajaran sebagai tenaga medis yang memberikan pelayanan kepada para peserta.
Rangkaian kegiatan diawali dengan proses pendaftaran dan penjaringan calon peserta di sejumlah wilayah sekitar Makassar. Penjaringan itu menjadi tahap penentu karena tidak semua pasien gangguan penglihatan memerlukan tindakan operasi.
Berita Lutim: Penjaringan hingga 50 Lansia Ikut Screening
Selain RSUD Labuang Baji selaku tuan rumah, penjaringan melibatkan beberapa unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Sosial, yaitu Sentra Wirajaya Makassar, Sentra Gau Mabaji Kabupaten Gowa, dan Sentra Pangurangi Kabupaten Takalar.
Dalam proses penjaringan, peserta diprioritaskan dari kelompok masyarakat desil 1 dan desil 2. Peserta yang lolos tahap awal selanjutnya menjalani pemeriksaan atau screening katarak oleh dokter spesialis mata pada poliklinik mata RSUD Labuang Baji.
Sebanyak 50 lansia dari berbagai wilayah mengikuti screening di Poliklinik Mata RSUD Labuang Baji. Peserta tersebut berasal dari Makassar, Gowa, Takalar, hingga Wajo dan Luwu.
Setelah menjalani pemeriksaan, sebanyak 23 peserta dinyatakan memerlukan tindakan operasi katarak. Peserta lainnya mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan pelayanan melalui rawat jalan sesuai kondisi masing-masing.
Dua Hari Screening, Operasi Digelar Akhir Pekan
Proses screening berlangsung selama dua hari, yaitu 10–11 September 2026, dan dilanjutkan dengan pelaksanaan operasi pada Sabtu, 12 September 2026. Seluruh rangkaian kegiatan dilaporkan berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Pembagian tahap semacam itu penting dalam layanan katarak. Pemeriksaan awal memastikan kondisi mata peserta benar-benar layak dioperasi, sementara hari pelaksanaan difokuskan pada tindakan medis sehingga tidak ada pasien yang menunggu terlalu lama.
Rangkaian kegiatan tersebut juga menjadi contoh bagaimana layanan kesehatan bisa menjangkau kelompok yang selama ini kesulitan mengakses operasi. Dengan penjaringan yang melibatkan beberapa UPT, jangkauan peserta tidak terbatas pada warga kota tempat rumah sakit berada.
Screening Katarak dan Kelompok Prioritas
Katarak adalah kondisi kekeruhan pada lensa mata yang membuat penglihatan berkurang secara bertahap. Pada banyak kasus, gangguan ini muncul seiring bertambahnya usia sehingga kelompok lansia menjadi sasaran utama layanan semacam ini.
Penentuan peserta dari kelompok desil 1 dan desil 2 menunjukkan orientasi bantuan. Kelompok tersebut dinilai paling rentan menunda pengobatan karena keterbatasan biaya, padahal gangguan penglihatan berdampak langsung pada kemampuan bekerja dan kemandirian sehari-hari.
Karena itu, tahap screening menjadi pintu penting. Melalui pemeriksaan mata, peserta tidak hanya mengetahui apakah mereka memerlukan operasi, tetapi juga mendapat arahan apakah kondisi matanya cukup ditangani lewat rawat jalan.
Fasilitas dan Tim Medis yang Disiapkan
Direktur UPT RSUD Labuang Baji, Suharnah, S.K.M., M.Tr.A.P., menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap pelaksanaan kegiatan. Ia didampingi Wakil Direktur Pelayanan Medik, Keperawatan, dan Diklit dr. Ade Chandra, M.Kes, Sp.THT-KL, serta ketua tim operasi dr. Dini Sitorus, Sp.M., M.Kes.
Menurut Suharnah, kolaborasi lintas lembaga merupakan bentuk nyata upaya menghadirkan pelayanan kesehatan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Tentu dalam kegiatan operasi katarak ini, kami sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini dengan menyiapkan fasilitas serta tenaga medis terbaik yang kami miliki,” ucap Suharnah melalui keterangannya, Rabu (16/9/2026).
“Kegiatan ini juga sejalan dengan program dan instruksi Bapak Gubernur Sulawesi Selatan untuk menyiapkan dan memaksimalkan seluruh fasilitas kesehatan yang dimiliki Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” lanjutnya.
Kontrol Pascaoperasi dan Pemulihan
Pelayanan tidak berhenti pada pelaksanaan operasi. Para peserta juga mendapatkan kontrol pascaoperasi untuk memantau kondisi mata dan mendukung proses pemulihan agar berjalan optimal.
Kontrol lanjutan itu krusial karena keberhasilan operasi katarak tidak hanya ditentukan oleh tindakan di ruang bedah. Kepatuhan pasien dalam penggunaan obat tetes, kebersihan mata, dan pemeriksaan berkala berpengaruh besar pada hasil akhir penglihatan.
Peserta yang tidak memerlukan operasi pun tetap mendapat arahan rawat jalan. Dengan begitu, setiap orang yang datang ke tahap screening memperoleh tindak lanjut yang jelas sesuai kondisi masing-masing.