SUARALUTIM.COM, MALILI — Berita Lutim dari sektor kesehatan: UPTD Puskesmas Bonepute menggelar pelatihan pelayanan prima atau service excellent bagi seluruh pegawai. Kegiatan itu berlangsung sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam melayani masyarakat.
Pelatihan ini tidak hanya diikuti tenaga medis. Pesertanya mencakup dokter, perawat, bidan, petugas promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, surveilans, petugas gizi, laboran, tenaga administrasi, customer service, sopir, hingga security. Menurut pengelola puskesmas, seluruh unsur yang berinteraksi dengan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan pelayanan yang ramah, nyaman, cepat, tepat, dan profesional.
Berita Lutim: Seluruh Pegawai Dilatih Pelayanan Prima
Kepala UPTD Puskesmas Bonepute menyatakan pelayanan prima merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya beban tenaga medis. Pendekatan itu diambil karena pengalaman pasien terbentuk dari banyak titik sentuh, mulai dari penerimaan di meja pendaftaran, pengaturan antrean, pemeriksaan di poliklinik, pengambilan obat, sampai proses administrasi.
“Tujuan kegiatan ini untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat,” ujarnya, dikutip Luwurayapos.com, Kamis (24/9/2026).
Melalui pelatihan tersebut, pegawai diharapkan menerapkan komunikasi yang baik, bersikap responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta mampu memberikan solusi atas berbagai keluhan dengan tetap mengedepankan etika dan profesionalisme. Materi sikap dan etika kerja dinilai sama pentingnya dengan kemampuan teknis di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Mengapa unsur nonmedis juga dilatih
Di puskesmas, sopir ambulans, petugas keamanan, dan petugas kebersihan turut berhubungan langsung dengan warga. Sikap mereka memengaruhi suasana layanan, terutama ketika pasien datang dalam kondisi mendesak. Karena itu, pelibatan seluruh pegawai menjadi langkah awal membangun budaya kerja yang konsisten.
Fokus pada Sikap, Etika, dan Komunikasi
Pelatihan ini menekankan tiga hal utama: sikap, etika, dan komunikasi. Dalam praktiknya, ketiga hal itu tampak pada cara petugas menyapa pasien, menjelaskan prosedur, mendengarkan keluhan, serta menjaga kerahasiaan informasi kesehatan.
Komunikasi yang baik membantu pasien memahami alur layanan, termasuk kapan harus dirujuk ke rumah sakit. Penjelasan singkat yang jelas dapat mengurangi kebingungan dan penumpukan antrean di jam sibuk.
Indikator yang biasanya diperhatikan
- Kecepatan waktu tunggu di pendaftaran dan poliklinik.
- Kejelasan informasi alur layanan dan syarat administrasi.
- Keramahan serta kesediaan petugas mendengarkan keluhan.
- Ketersediaan obat dan kesesuaian jadwal layanan dengan kebutuhan warga.
Konteks Penguatan Mutu Layanan Kesehatan Luwu Timur
Langkah Puskesmas Bonepute sejalan dengan dorongan peningkatan mutu layanan kesehatan di Kabupaten Luwu Timur. Pada 23 September 2026, proses Penilaian Opini Ombudsman menelusuri lingkungan rumah sakit, termasuk unit poliklinik dan pelayanan hemodialisis, serta mewawancarai sejumlah pasien untuk menggali pengalaman mereka.
Dalam proses itu, tim penilai tidak hanya melakukan observasi langsung, tetapi juga menelaah dokumen pendukung penyelenggaraan pelayanan. Tujuannya menilai kesesuaian pelaksanaan di lapangan dengan standar dan ketentuan pelayanan publik yang berlaku. Hasil telusur dan telaah dokumen disampaikan kepada pihak manajemen sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut.
Di jalur program, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur juga mematangkan persiapan menghadapi verifikasi lapangan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Award 2026 oleh tim Kementerian Kesehatan. Wakil Bupati Luwu Timur, Hj. Puspawati Husler, mendorong agar sanitasi tidak berhenti sebagai program, tetapi menjadi budaya hidup bersih di tengah masyarakat.
Dua agenda tersebut menunjukkan bahwa penilaian kinerja layanan dan pembinaan kapasitas pegawai berjalan beriringan. Bagi puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama, kemampuan merespons kebutuhan warga menjadi penentu utama kepuasan pasien.
Dampak yang Diharapkan bagi Warga
Apabila dijalankan konsisten, pelatihan pelayanan prima berpotensi memperbaiki pengalaman berobat warga. Pasien yang memahami alur layanan cenderung lebih tenang, sementara petugas yang terlatih berkomunikasi lebih mudah menangani keluhan di lapangan.
Peningkatan mutu juga berkaitan dengan kepatuhan berobat. Pasien yang merasa dihargai lebih mungkin kembali untuk kontrol rutin, mengikuti jadwal imunisasi, atau melanjutkan pengobatan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes. Dampak jangka panjangnya terlihat pada indikator kesehatan daerah.


