SUARALUTIM.COM, MALILI – Forum Kecamatan Sehat (FKS) Kecamatan Angkona menggelar rapat koordinasi persiapan penilaian Kabupaten/Kota Sehat (KKS) Tahun 2027. Rapat berlangsung di Baruga Kantor Kecamatan Angkona, Rabu (15/10/2026), dan dihadiri unsur pemerintah kecamatan, puskesmas, pemerintah desa, hingga tokoh masyarakat.
Bagi berita Luwu Timur, agenda ini penting karena menunjukkan bagaimana program kesehatan tidak hanya dijalankan dari kantor dinas, tetapi juga diuji di tingkat kecamatan. Penilaian Kabupaten/Kota Sehat menilai kesiapan wilayah dalam menata lingkungan, layanan, dan perilaku hidup sehat warganya.
Rapat itu dihadiri Camat Angkona, Putu Gede Sudarsana, Ketua dan pengurus FKS Angkona, perwakilan Puskesmas Angkona, para kepala desa se-Kecamatan Angkona, Ketua TP PKK tingkat kecamatan dan desa, Karang Taruna, serta tokoh masyarakat. Fokus pertemuan adalah memantapkan sembilan tatanan Kabupaten/Kota Sehat.
Berita Luwu Timur: Sembilan Tatanan yang Dinilai
Sembilan tatanan itu mencakup kehidupan masyarakat sehat mandiri, permukiman dan fasilitas umum, satuan pendidikan, pasar, perkantoran dan perindustrian, pariwisata, transportasi dan tertib lalu lintas, perlindungan sosial, serta penanggulangan bencana. Daftar tersebut memperlihatkan satu hal: penilaian KKS tidak berhenti pada urusan puskesmas dan posyandu.
Pasar, sekolah, kawasan wisata, dan terminal ikut dinilai. Artinya, keberhasilan sebuah kecamatan dalam kategori sehat bergantung pada kerja banyak pihak, mulai dari petugas kebersihan hingga pengelola pasar dan pengemudi angkutan.
Di Kecamatan Angkona, kesiapan itu disusun sejak jauh hari. Ketua FKS Angkona menyampaikan bahwa seluruh desa diminta mempersiapkan data dukung, dokumentasi lapangan, serta inovasi yang berkaitan dengan pelaksanaan program Kabupaten/Kota Sehat. Persiapan semacam ini penting karena penilaian biasanya menuntut bukti tertulis, bukan hanya klaim lisan.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Dari STBM ke Pasar Sehat
Sejumlah aspek menjadi perhatian dalam rapat tersebut. Pertama, keberhasilan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), khususnya Stop Buang Air Besar Sembarangan (ODF). Kedua, pengelolaan sampah. Ketiga, keaktifan Posyandu. Keempat, penerapan Sekolah Sehat. Kelima, pengembangan Pasar Sehat.
Kelima aspek itu saling terkait. Desa yang sudah ODF tetapi masih membuang sampah ke saluran air akan menghadapi masalah baru: genangan, bau, dan risiko penyakit. Posyandu yang aktif tetapi tidak didukung data gizi yang rapi akan sulit menunjukkan hasil pemantauan pertumbuhan anak. Sekolah yang bersih tetapi tanpa kantin sehat menghadapi persoalan lain lagi.
Karena itu, pendekatan KKS menekankan kerja lintas sektor. Di tingkat kecamatan, FKS berperan sebagai wadah koordinasi: menyamakan data, membagi tugas, dan memastikan setiap desa memahami indikator yang dinilai.
Kesehatan Lingkungan sebagai Tanggung Jawab Bersama
Camat Angkona, Putu Gede Sudarsana, menegaskan program Kecamatan Sehat tidak semata berorientasi pada penilaian. Menurutnya, program ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk membangun lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat.
“Kesehatan lingkungan adalah tanggung jawab kita semua. Dengan gotong royong, kita wujudkan Angkona yang bersih, sehat, dan mandiri untuk mendukung Luwu Timur meraih predikat Kabupaten Sehat,” ujarnya, seperti dilaporkan Luwurayapos.com.
Pernyataan itu selaras dengan pengalaman kabupaten ini. Pada September 2026, Luwu Timur mencatat capaian di bidang sanitasi melalui STBM Award, dan kesiapan verifikasi menjadi sorotan. Capaian tingkat kabupaten, bagaimanapun, bertumpu pada desa dan kecamatan. Tanpa praktik baik di tingkat bawah, dokumen di tingkat kabupaten hanya menjadi berkas.


