Apa Artinya bagi Warga dan Pelaku Wisata
Warga yang tinggal di sekitar kawasan tidak menunggu status keluar untuk merasakan dampaknya. Kampung budaya, seni tari, kuliner tradisional, hingga rumah adat di sejumlah desa disebut akan mendapat ruang ketika wisatawan bergerak mengikuti jalur geosite. Konsep seperti geotrail atau jalur tematik menghubungkan satu titik geologi dengan titik lain, sehingga kunjungan tidak menumpuk di satu lokasi saja.
Bagi pelaku usaha kecil, justru di situlah peluangnya. Homestay sederhana, warung makan, produk kuliner khas, penyewaan perahu, jasa pemandu lokal, sampai produk kerajinan bisa tumbuh jika alur kunjungan tertata. Sebaliknya, tanpa penataan, lonjakan kunjungan hanya menghasilkan sampah, kemacetan kecil di titik ramai, dan manfaat ekonomi yang tidak merata.
Karena itu, nilai penting proses geopark terletak pada perencanaannya. Peta deliniasi yang memuat puluhan titik di 11 kecamatan dan ratusan desa menunjukkan bahwa kawasan yang diusulkan sangat luas. Luas itu sekaligus menjadi tantangan: memastikan setiap titik punya cerita yang bisa dipahami pengunjung, bukan hanya koordinat di atas peta.
Tantangan yang Masih Menghadang
Ada beberapa pekerjaan rumah yang tidak selesai hanya dengan terbitnya sebuah SK. Pertama, kesiapan akses menuju sejumlah lokasi. Beberapa titik berada jauh dari jalan utama, sehingga waktu tempuh menjadi pertimbangan utama bagi wisatawan yang datang dari luar daerah. Kedua, kesiapan sumber daya manusia di tingkat desa untuk menerima tamu dengan standar pelayanan yang layak.
Ketiga, konservasi. Kawasan Sistem Danau Malili dikenal menyimpan ikan endemik dan ekosistem perairan yang rentan. Peningkatan kunjungan harus dibarengi aturan yang jelas soal aktivitas di perairan, pengelolaan sampah, dan pembatasan aktivitas yang merusak. Tanpa itu, status geopark bisa berbalik menjadi beban bagi lingkungan.
Keempat, pemasaran. Selama ini kawasan Matano lebih dikenal sebagai destinasi wisata alam, belum sebagai kawasan dengan nilai ilmiah. Padahal geopark punya cerita yang kuat: batuan purba, danau tektonik, dan masyarakat adat yang menjaga tradisi. Cerita itu yang perlu diterjemahkan menjadi narasi wisata yang mudah dipahami, termasuk untuk wisata edukasi sekolah dan perguruan tinggi.
Langkah yang Bisa Dipercepat Sambil Menunggu
Pemerintah daerah tidak perlu menunggu status nasional untuk mulai membenahi hal-hal dasar. Penataan titik informasi, pelatihan pemandu lokal, dan penyeragaman data setiap geosite bisa berjalan paralel dengan proses pengusulan. Begitu juga penataan akses dan fasilitas dasar di titik yang paling sering dikunjungi.
Untuk pelaku usaha, waktu menjelang penetapan bisa dipakai memperkuat produk dan pelayanan. Kualitas homestay, kebersihan, dan kesiapan menerima tamu kerap menjadi penentu pertama kesan wisatawan. Hal yang sama berlaku bagi layanan kuliner yang ingin mengambil manfaat dari arus kunjungan.
Sementara itu, warga dan kelompok masyarakat bisa terlibat dalam penjagaan kawasan. Dalam skema geopark, peran masyarakat bukan pelengkap, melainkan bagian dari pengelolaan. Pengalaman di banyak daerah menunjukkan bahwa kawasan wisata bertahan lama ketika warga merasa memiliki, bukan ketika warga hanya menjadi penonton.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah Geopark Matano sudah berstatus nasional?
Belum. Posisinya masih Geopark Lokal. Penetapan nasional menunggu SK Geoheritage dari Kementerian ESDM dan rekomendasi Bappenas, dengan pengusulan ditargetkan paling lambat September 2026.
Kawasan mana saja yang termasuk dalam usulan Geopark Matano?
Kawasan ini mencakup Danau Matano dan Sistem Danau Malili yang meliputi pula Danau Mahalona serta Danau Towuti. Peta deliniasi yang disusun memuat puluhan titik geosite, situs budaya, dan lokasi keanekaragaman hayati yang tersebar di banyak kecamatan.
Apakah status geopark akan membuka kunjungan wisata lebih besar?
Status geopark umumnya berdampak pada promosi dan penataan kawasan, termasuk minat wisata edukasi. Besaran kunjungan tetap bergantung pada akses, fasilitas, dan kesiapan pengelolaan di setiap titik.


