Senin, 21 September 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Destinasi Luwu Timur: Mangkasa Point dan Konservasi Malili

21 September 2026 • Admin
Penanaman mangrove di Mangkasa Point Malili, destinasi luwu timur berbasis konservasi pesisir
Gambar: PT Vale Indonesia via Luwuraya.com

Malili – Kawasan pesisir Mangkasa Point di Desa Harapan, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, menjadi lokasi rehabilitasi ekosistem pesisir pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Kegiatan itu menanam 50 bibit mangrove dan mentransplantasi 200 lamun, melibatkan sekitar 50 peserta dari berbagai latar belakang.

Rehabilitasi digelar dalam rangka Hari Konservasi Alam Nasional. PT Vale Indonesia bersama Universitas Hasanuddin, Sorowako Diving Club, aktivis lingkungan, dan relawan bergotong royong di titik pesisir tersebut. Tiga kegiatan dijalankan sekaligus: penanaman mangrove, transplantasi lamun, dan bersih pantai.

Bagi Luwu Timur, kegiatan ini menarik dibaca bukan hanya sebagai aksi lingkungan. Mangkasa Point memperlihatkan satu wajah lain daerah ini, yang lebih sering dikenal karena tambang nikel dan danau purbanya.

Destinasi Luwu Timur: Mengapa Mangkasa Point Dilirik

Kecamatan Malili adalah ibu kota Kabupaten Luwu Timur, terletak di ujung utara Teluk Bone, sekitar 565 kilometer dari Makassar. Posisi itu membuat Malili punya dua karakter sekaligus: pusat pemerintahan dan daerah pesisir.

Mangkasa Point berada di Desa Harapan, salah satu desa di Kecamatan Malili. Titik ini menarik perhatian karena menjadi lokasi konservasi pesisir yang melibatkan komunitas penyelam. Kehadiran Sorowako Diving Club dalam kegiatan tersebut menunjukkan kawasan ini dekat dengan aktivitas penyelaman lokal.

Perlu dicatat secara terbuka, sampai laporan ini ditulis belum ada informasi resmi mengenai tiket masuk, jam kunjungan, atau fasilitas pendukung di Mangkasa Point. Warga yang berminat berkunjung sebaiknya menanyakan langsung kepada pemerintah desa atau pengelola kegiatan setempat, bukan berpatokan pada informasi yang belum terverifikasi.

Mangrove Api-Api dan Lamun Enhalus acoroides

PT Vale menanam mangrove jenis Avicennia, yang dikenal warga dengan nama api-api. Menurut perusahaan, jenis ini memiliki perakaran kuat yang membantu menahan abrasi dan menyediakan habitat bagi beragam biota laut. Fungsi itu penting di garis pantai yang terbuka terhadap gelombang.

Selain mangrove, peserta mentransplantasi 200 lamun jenis Enhalus acoroides. Lamun adalah tumbuhan berbunga yang hidup di dasar laut dangkal. Padang lamun menjadi tempat ikan dan biota pesisir mencari makan, berlindung, serta berkembang biak.

Kombinasi mangrove dan lamun sering disebut sebagai benteng alami pesisir. Mangrove menahan sedimen dan meredam energi gelombang, sedangkan lamun menstabilkan dasar perairan dan menyerap karbon. Keduanya menopang perikanan pesisir yang menjadi sumber penghidupan warga.

Kajian Teknis Sebelum Penanaman

Tim Pusat Penelitian Sumberdaya Alam LPPM Universitas Hasanuddin terlibat dalam kajian teknis sebelum penanaman dan transplantasi. Menurut PT Vale, kajian itu membantu memastikan lokasi sesuai dan meningkatkan peluang keberhasilan rehabilitasi jangka panjang.

St. Firjatih Widhah dari tim LPPM Universitas Hasanuddin mengatakan lamun masih kurang mendapat perhatian dibandingkan ekosistem pesisir lain, padahal kemampuannya menyimpan karbon mendukung mitigasi perubahan iklim. Ia juga menyebut restorasi lamun bukan pekerjaan mudah, sehingga pertumbuhan lamun di Mangkasa Point perlu dipantau agar manfaatnya terasa lebih luas.

Wisata Bahari dan Peran Komunitas

Kabupaten Luwu Timur punya daya tarik bawah air yang sudah lama dikenal melalui kompleks danau purbanya. Danau Matano, Towuti, dan Mahalona berada dalam satu sistem perairan yang menjadi tujuan penyelam dari berbagai daerah. Di sisi pesisir, kawasan seperti Malili menghadap perairan Teluk Bone dengan karakter yang berbeda: air laut, mangrove, dan padang lamun.

Keberadaan komunitas penyelam menjadi modal penting bagi wisata bahari. Komunitas seperti itu biasanya terlibat dalam pemetaan lokasi, pemantauan kondisi bawah air, dan kegiatan konservasi. Kehadiran mereka di Mangkasa Point menandakan kawasan ini mulai dipandang sebagai bagian dari ruang penyelaman lokal.

Namun wisata bahari tidak hanya soal lokasi bagus. Diperlukan kesepakatan soal batas aman kunjungan, aturan berlabuh, serta kesiapan warga menerima tamu. Tanpa itu, kunjungan yang ramai berpotensi merusak ekosistem yang justru menjadi alasan orang datang.

Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga