Destinasi Luwu Timur tidak hanya berhenti di Sorowako dan Danau Matano. Di sisi tenggara kabupaten ini, Danau Towuti menyimpan pulau-pulau kecil yang jarang dibahas dalam rencana perjalanan wisatawan, salah satunya Pulau Loeha. Pulau itu disebut sebagai pulau terbesar di antara gugusan pulau yang berada di tengah danau purba tersebut, dan berada dalam kawasan Taman Wisata Alam Danau Towuti yang dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan.
Bagi warga Luwu Timur, nama Loeha bukan hal baru. Namun bagi pendatang, Pulau Loeha sering tertutup popularitas Danau Matano yang lebih dulu dikenal sebagai danau terdalam di Indonesia. Padahal, menggabungkan perjalanan ke Towuti dan pulau-pulaunya memberi pengalaman yang berbeda: hamparan air tawar yang luas, tepian bervegetasi rapat, serta keanekaragaman hayati yang tidak ditemukan di tempat lain.
Destinasi Luwu Timur: Pulau Loeha di Tengah Danau Towuti
Secara administratif, Danau Towuti berada di Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Luas permukaannya tercatat sekitar 561 kilometer persegi dengan kedalaman maksimal mencapai 203 meter dan berada di ketinggian sekitar 293 meter di atas permukaan laut. Airnya keluar melalui Salo Larona, sungai yang selama puluhan tahun dikenal karena pemanfaatannya untuk pembangkit listrik.
Di tengah danau, terdapat lima pulau. Tiga di antaranya paling sering disebut dalam catatan wisata: Pulau Loeha, Pulau Bolong, dan Pulau Kembar. Pulau Loeha menjadi yang terbesar dan kerap dijadikan titik pemberhentian utama perjalanan perahu. Untuk mencapainya, pengunjung biasanya menggunakan speedboat atau perahu dari sisi danau, dengan waktu tempuh sekitar satu hingga dua jam tergantung titik keberangkatan dan kondisi cuaca.
Perjalanan menuju pulau-pulau itu bukan perjalanan yang sepenuhnya instan. Cuaca di atas danau bisa berubah cepat, sehingga penjadwalan perjalanan sebaiknya dibicarakan dengan penyedia perahu setempat sebelum berangkat. Wisatawan juga disarankan membawa pelampung dan mematuhi arahan pemandu, terutama karena jalur perairan danau cukup luas.
Lima pulau dan keanekaragaman hayati danau purba
Danau Towuti merupakan bagian dari sistem Danau Malili, bersama Danau Matano, Danau Mahalona, Danau Lontoa, dan Danau Masapi. Sistem danau ini terbentuk dari aktivitas tektonik dan diperkirakan berumur jutaan tahun, menjadikannya salah satu danau purba yang penting bagi ilmu pengetahuan.
Kekhasan ekosistemnya membuat kawasan ini masuk dalam kategori Global Ecoregions versi World Wide Fund for Nature. Di sekitar danau, tumbuhan kantong semar (Nepenthes spp.) dapat dijumpai menggantung di tepian, bersama berbagai jenis anggrek epifit dan pohon Macadamia hildebrandii yang endemik Sulawesi.
Danau Towuti juga dikenal sebagai habitat sejumlah spesies ikan endemik. Kekayaan itu yang membuat banyak pihak menaruh perhatian pada upaya menjaga perairan dari penangkapan ikan yang merusak. Bagi wisatawan, kehadiran aturan konservasi ini penting dipahami: kawasan ini bukan sekadar tempat rekreasi, tetapi juga area perlindungan alam.
Taman Wisata Alam Danau Towuti dan dasar pengelolaannya
Status kawasan Danau Towuti sebagai taman wisata alam tidak muncul tiba-tiba. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 274/Kpts/Um/4/1979 tanggal 24 April 1979, kawasan Danau Towuti bersama Danau Mahalona ditetapkan sebagai kawasan konservasi taman wisata alam. Dengan status itu, pemanfaatan kawasan diarahkan untuk pariwisata, rekreasi alam, dan wisata bahari, dengan tetap menjaga fungsi pelestarian.
Konsekuensinya, wisatawan perlu memahami batasan. Aktivitas yang mengganggu vegetasi tepian, membuang sampah ke perairan, atau mengambil satwa dan tumbuhan dilindungi bertentangan dengan tujuan kawasan. Pengelolaan taman wisata alam berada di ranah BKSDA, sementara pemerintah daerah menangani sisi promosi dan penataan destinasi.


