SUARALUTIM.COM, MALILI — Destinasi luwu timur di kawasan Danau Matano bersiap mendapat fasilitas publik baru. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mengusulkan pembangunan Ruang Terbuka Publik (RTP) di Sumasang, Desa Sorowako, Kecamatan Nuha, dengan estimasi anggaran sekitar Rp24 miliar. Usulan itu telah dibahas bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan diharapkan masuk prioritas program tahun 2027.
Bagi kawasan yang selama ini dikenal lewat keindahan danau dan wisata perahu, kehadiran ruang publik bukan pelengkap. Fasilitas semacam ini menentukan apakah pengunjung bisa tinggal lebih lama, atau hanya singgah sebentar lalu bergerak ke tempat lain.
Destinasi Luwu Timur: Apa yang Diusulkan di Sumasang
Usulan itu disampaikan dalam audiensi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dengan Kementerian Pekerjaan Umum di Jakarta, Rabu (8/4/2026). Rombongan dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Andi Juana Fachruddin, dan diterima Kasubdit Wilayah III Direktorat Pengembangan Kawasan Strategis Ditjen Cipta Karya, Muhammad Rizat.
Dalam pertemuan itu, pemerintah daerah menyatakan telah menyiapkan dokumen readiness criteria sebagai bentuk keseriusan usulan. Harapannya, pembangunan RTP di Sumasang dapat menjadi prioritas program kerja Ditjen Cipta Karya tahun 2027.
“Pemerintah Kabupaten Luwu Timur telah menyiapkan dokumen readiness criteria sebagai bentuk keseriusan kami. Kami berharap usulan pembangunan Ruang Terbuka Publik di Sumasang, Desa Sorowako, dapat menjadi prioritas dalam program kerja Ditjen Cipta Karya tahun 2027,” tutur Andi Juana.
RTP itu dirancang sebagai ruang publik multifungsi. Isinya mencakup area taman, jogging track, ruang bermain anak, pusat kuliner, hingga fasilitas pendukung wisata air. Konsepnya bukan sekadar mempercantik kawasan, tetapi menjadikan tepi danau sebagai ruang interaksi sosial warga.
Menurut penjelasan pemerintah daerah, berdasarkan perencanaan Ditjen Cipta Karya, proyek tersebut telah masuk Sistem Informasi Perencanaan Anggaran dengan estimasi sekitar Rp24 miliar dan diproyeksikan menjadi prioritas pembangunan pada 2027. Angka itu masih berupa rencana, sehingga pelaksanaannya tetap bergantung pada penetapan anggaran.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Mengapa Ruang Publik Penting bagi Wisata Danau
Selama ini, pengalaman berwisata di Danau Matano sangat bergantung pada perahu. Pengunjung menyewa perahu, berkeliling, berhenti di beberapa titik, lalu kembali. Pola itu menarik, tetapi belum memberi banyak pilihan bagi keluarga yang ingin menikmati danau tanpa harus naik perahu.
Pada Kamis (08/10/2026), ketika menerima kontingen dari 23 kabupaten/kota dan satu kontingen provinsi, pemerintah daerah mengajak tamu jelajah danau. Beberapa titik yang disinggahi antara lain Gua Air, Kampung Tua Taipa, dan Pulau Empat. Perjalanan itu difasilitasi penuh, mulai dari transportasi, konsumsi, hingga pendampingan.
Yang juga disiapkan adalah unsur keselamatan. Tim rescue, tenaga medis, dan pemandu turut mendampingi rombongan. Sebelum perahu diberangkatkan, peserta diingatkan memakai pelampung sebagai prosedur utama. Detail semacam ini menunjukkan bahwa wisata danau menuntut pengelolaan serius, bukan hanya promosi.
Ruang publik di tepi danau melengkapi kebutuhan itu. Keluarga dengan anak kecil bisa menikmati kawasan tanpa harus berperahu. Pelaku kuliner mendapat tempat berjualan yang tertata. Warga lokal punya ruang berolahraga dan berkumpul. Kalau dirancang baik, satu kawasan bisa melayani tiga kelompok sekaligus: warga, wisatawan, dan pelaku usaha.
Matano dan Rencana Geopark
Danau Matano berada di Kecamatan Nuha. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu danau terdalam di Asia Tenggara, dengan air jernih kebiruan dan perbukitan hijau di sekelilingnya. Danau ini juga menjadi bagian dari kawasan yang tengah diusulkan sebagai Geopark Matano.
Status geopark bukan sekadar gelar. Di banyak daerah, status itu menuntut kesiapan pengelolaan kawasan, termasuk konservasi, edukasi, dan keterlibatan masyarakat. Karena itu, pembangunan fasilitas publik sebaiknya berjalan seiring dengan penataan kawasan, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Ada satu hal yang perlu dijaga. Pembangunan ruang publik di tepi danau berisiko menambah beban lingkungan bila tidak disertai pengelolaan sampah dan air limbah yang memadai. Untuk kawasan yang airnya menjadi daya tarik utama, kebersihan bukan pelengkap, melainkan syarat.


