SUARALUTIM.COM, MALILI — Wajah pariwisata Lutim tidak hanya ditentukan oleh danau-danau purba yang membentang di bagian utara kabupaten. Di tepi Danau Matano, sejumlah keluarga di Kecamatan Nuha perlahan mengubah rumah tinggal mereka menjadi homestay, sebuah model penginapan berbasis masyarakat yang membuat wisatawan bisa menginap, makan, dan beraktivitas bersama warga. Jalan itu tidak selalu mulus, tetapi ia menunjukkan bahwa ekonomi wisata bisa tumbuh dari halaman rumah sendiri.
Penelitian yang dilakukan Wayan Suardana pada 2024 di Politeknik Pariwisata Makassar mencatat setidaknya 11 unit usaha homestay masyarakat yang berkembang di kawasan Danau Matano, khususnya di Kecamatan Nuha. Jumlah itu terbilang kecil, tetapi secara simbolik menunjukkan bahwa warga mulai mengambil peran sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton arus kunjungan wisatawan.
Pariwisata Lutim dan Homestay Warga di Tepi Danau Matano
Kawasan Danau Matano berada di Kecamatan Nuha, sekitar 60 kilometer dari Kecamatan Malili, ibu kota Kabupaten Luwu Timur. Danau ini merupakan bagian dari sistem danau purba Malili bersama Danau Mahalona dan Danau Towuti, yang seluruhnya berada di Luwu Timur dan sekitarnya. Sistem danau tersebut terbentuk jutaan tahun lalu dan dikenal sebagai salah satu kawasan perairan tawar tertua di dunia.
Sepanjang tepian danau terdapat desa-desa dengan aktivitas harian yang khas: perahu nelayan, kebun warga, hingga warung kecil yang menjual ikan air tawar. Keragaman aktivitas itu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari pengalaman wisata alam tanpa harus memasuki kawasan resor besar.
Kawasan Danau Mahalona, yang berada di Kecamatan Towuti, bahkan ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam dengan luas 2.289,30 hektare melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK. 6590/Menhut-VII/KUH/2014. Penetapan itu menegaskan bahwa sebagian bentang danau di Luwu Timur dikelola sebagai kawasan konservasi sekaligus tujuan wisata alam, sebagaimana tercatat pada laman resmi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan.
Mengapa homestay cocok untuk Danau Matano
Gagasan homestay berangkat dari sesuatu yang sudah tersedia: rumah warga. Alih-alih membangun hotel atau resor yang menuntut investasi besar, sejumlah keluarga memilih membuka sebagian ruang rumah untuk tamu. Cara ini dinilai lebih dekat dengan pola wisata minat khusus, seperti peneliti ikan endemik, penggemar fotografi alam, atau wisatawan yang ingin tinggal lebih lama di satu tempat.
Bagi warga, homestay menawarkan sumber pendapatan tambahan yang tidak mengubah pekerjaan utama. Bagi wisatawan, homestay menjadi pintu masuk untuk mengenal kehidupan lokal secara lebih dekat: cara memasak ikan, hasil kebun, hingga cerita tentang danau yang diwariskan turun-temurun.
Tantangan yang Masih Dihadapi Warga
Penelitian tersebut juga mencatat sejumlah hambatan yang membuat perkembangan homestay belum secepat yang diharapkan. Di tingkat masyarakat, masih ada keraguan bahwa wisatawan akan lebih memilih hotel atau vila dibandingkan rumah tinggal. Sebagian warga pun merasa belum siap membuka ruang privat keluarga untuk orang asing.
Persoalan lokasi turut menjadi pertimbangan. Rumah warga kerap dinilai terlalu jauh dari pusat keramaian Sorowako, sementara wisatawan umumnya mencari penginapan yang dekat dengan fasilitas umum. Belum lagi anggapan bahwa membangun homestay memerlukan biaya besar, sehingga niat itu berhenti sebelum dimulai.
Hambatan paling struktural adalah keterampilan. Banyak warga belum memiliki pengetahuan tentang promosi, pelayanan tamu, hingga pengelolaan usaha secara berkelanjutan. Padahal homestay tidak harus mewah dan tidak harus dibangun dari nol; justru kesederhanaannya yang sering menjadi daya tarik.
Usulan yang muncul dari kajian tersebut
- Insentif fiskal bagi warga yang ingin mengembangkan homestay.
- Promosi wisata yang lebih terarah, terutama wisata bahari dan danau.
- Kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
- Penguatan infrastruktur dan aksesibilitas menuju kawasan wisata.
Usulan itu menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya jumlah kunjungan, melainkan kesiapan warga dan dukungan kebijakan yang berkelanjutan. Dukungan dari dinas terkait sebenarnya sudah ada, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, tetapi dinilai belum maksimal dan belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan pelaku usaha kecil.


