Sabtu, 24 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Wisata Luwu Timur: Air Terjun Mata Dewa di Desa Loeha

24 Oktober 2026 • Admin • 38 kali dibaca
Gambar: Dokumentasi SuaraLutim (rombongan kepala daerah menyusuri destinasi danau Luwu Timur, Oktober 2026).
ASM Group
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Wisata luwu timur tidak hanya soal hamparan danau yang sudah terkenal. Di Desa Loeha, Kecamatan Towuti, tercatat satu objek yang jarang masuk daftar perjalanan umum: Air Terjun Mata Dewa. Objek ini masuk dalam dataset Data Objek Wisata Kabupaten Luwu Timur di portal Satu Data, dengan keterangan pengelola Badan Konservasi Sumber Daya Alam bersama pemerintah desa dan akses utama melalui jalur perairan.

Keterangan itu penting bagi siapa pun yang berencana berkunjung. Artinya, perjalanan menuju Mata Dewa bukan perjalanan darat biasa yang bisa direncanakan hanya dengan melihat peta. Ada segmen air yang harus ditempuh, ada status kawasan konservasi yang mengikat, dan ada kesiapan yang perlu diperhitungkan sebelum berangkat.

Wisata Luwu Timur dan Titik yang Jarang Dibahas

Selama ini, pembicaraan tentang wisata luwu timur cenderung berpusat pada Danau Matano, Danau Towuti, dan sejumlah pantai di Burau. Padahal, data pemerintah daerah mencatat 39 objek wisata yang tersebar dari Nuha di utara sampai Kalaena di selatan. Sebagian di antaranya berupa air terjun, permandian, gua, dan kawasan yang dikelola bersama masyarakat desa.

Sebaran itu menunjukkan satu hal: potensi wisata Luwu Timur tidak berdiri di satu kawasan. Masalahnya, objek yang aksesnya sulit cenderung jarang terangkat dalam promosi, sehingga kunjungan menumpuk di tempat yang sudah ramai. Padahal, penyebaran kunjungan ke lebih banyak titik bisa membantu ekonomi warga di desa-desa lain.

Tata Atur
Iklan

Mata Dewa berada dalam kategori objek yang menuntut usaha lebih. Letaknya di Desa Loeha, kecamatan yang sama dengan sejumlah destinasi tepi Danau Towuti. Untuk mencapainya, pengunjung perlu kombinasi perjalanan darat menuju titik masuk dan perjalanan air menuju lokasi. Itu sebabnya artikel ini disusun sebagai panduan berbasis data, bukan janji pengalaman instan.

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Air Terjun Mata Dewa di Desa Loeha

Dalam dataset Satu Data Luwu Timur, objek ini tercatat dengan nama Air Terjun Mata Dewa, berlokasi di Desa Loeha, Kecamatan Towuti. Kolom pengelola menyebut Badan Konservasi Sumber Daya Alam bersama pemerintah desa, sementara kolom aksesibilitas mencatat jalur perairan sebagai cara utama menjangkau lokasi.

Keterangan itu sejalan dengan karakter kawasan Towuti. Sejumlah titik wisata di kecamatan ini memang berada di sisi danau atau di balik bukit yang tidak dilalui jalan raya. Perahu menjadi kendaraan yang lazim dipakai warga untuk berpindah antarpermukiman pesisir, sekaligus menjadi cara paling realistis bagi pengunjung yang ingin mencapai objek-objek tertentu.

Perlu dicatat, dataset itu tidak mencantumkan harga tiket, jam buka, atau nomor kontak pengelola. Sampai artikel ini disusun, tidak ada keterangan resmi yang dipublikasikan mengenai hal tersebut. Karena itu, calon pengunjung sebaiknya menanyakan langsung kepada pemerintah desa atau dinas pariwisata daerah, bukan berpegang pada informasi yang beredar tanpa sumber jelas.

Status Kawasan: Taman Wisata Alam Danau Towuti

Mata Dewa berada di kawasan yang sejak lama dilindungi. Berdasarkan catatan sejarah kawasan, Matano, Mahalona, dan Towuti ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 274/Kpts/Um/4/1979 pada 24 April 1979. Penetapan itu membuat kawasan dikelola sebagai kawasan konservasi, bukan sebagai objek wisata bebas.

Taman Wisata Alam Danau Towuti mencakup sekitar 621 kilometer persegi atau 62.133 hektare. Danau Towuti sendiri adalah danau terluas di Pulau Sulawesi dan danau alami terluas kedua di Indonesia setelah Danau Toba, dengan kedalaman rata-rata sekitar 120 meter dan kedalaman maksimum 203 meter pada elevasi 293 meter. Ibu kota kabupaten, Malili, berjarak sekitar 30 kilometer dari kawasan.

Status konservasi punya konsekuensi praktis. Kegiatan wisata diarahkan pada aktivitas yang tidak merusak ekosistem, seperti menjelajah dengan perahu, pengamatan alam, dan kunjungan ke desa tepi danau. Memetik tanaman, menangkap satwa, atau meninggalkan sampah di lokasi bukan hanya soal etika, tetapi menyangkut aturan kawasan.

Kawasan Matano dan sekitarnya juga sedang diusulkan menjadi bagian dari geopark, seperti diberitakan Luwuraya.com dalam artikel tentang 22 geosite Matano yang disiapkan sebagai ruang edukasi. Bagi Towuti, perkembangan itu relevan karena pengelolaan kawasan danau berjalan dalam satu kerangka konservasi yang sama.

Penjelasan lebih luas mengenai kawasan ini dapat dibaca pada entri Danau Towuti di Wikipedia dan ulasan SuaraLutim tentang panduan jelajah tiga danau Malili. Rincian 39 objek wisata beserta pengelolanya juga pernah diulas dalam artikel Destinasi Luwu Timur: 39 Objek Wisata Terdata di Satu Data.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga