LUWU TIMUR — Kabupaten Luwu Timur sedang mengejar satu status yang bisa mengubah wajah wisata Luwu Timur: Geopark Nasional. Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Parmudora) bersama tim percepatan mengusulkan kawasan Geopark Matano dan Sistem Danau Malili sebagai geopark tingkat nasional, dan salah satu syarat utamanya adalah penetapan warisan geologi (geoheritage) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, menyatakan pihaknya masih menunggu Surat Keputusan penetapan kawasan geologi tersebut. “Geopark Matano ini menunggu SK sebagai kawasan geologi yang diakui secara nasional,” katanya seperti dikutip ANTARA, Juni 2026. Setelah SK itu terbit, tahapan berikutnya adalah pengusulan resmi sebagai Geopark Nasional.
Bagi warga dan pelaku usaha wisata, proses ini bukan sekadar urusan dokumen. Status geopark menentukan bagaimana kawasan danau terbesar di Sulawesi Selatan ini dikelola, dipromosikan, sekaligus dilindungi.
Mengapa Status Geopark Penting bagi Wisata Luwu Timur
Geopark adalah wilayah yang dikelola secara terpadu dengan mengedepankan tiga hal: warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya masyarakat setempat. Konsep ini bukan taman wisata biasa, melainkan kawasan konservasi yang membuka ruang edukasi dan kunjungan terbatas.
Dalam sosialisasi pengusulan yang digelar di Aula Rumah Jabatan Bupati Luwu Timur, narasumber yang hadir antara lain Dedy Irfan Bachri, General Manager Badan Pengelola Maros Pangkep UNESCO Global Geopark periode 2018-2022, Yadi Mulyadi dari Arkeologi Universitas Hasanuddin, ahli biodiversitas dan etnobiologi Jumari, serta Ketua IKA Geologi Unhas yang menyajikan materi geoheritage diversity.
Kalau status itu terwujud, tiga manfaat praktis yang paling mungkin dirasakan masyarakat adalah:
- Promosi bertingkat. Kawasan geopark nasional masuk dalam peta promosi wisata resmi, bukan hanya jalur informasi daerah.
- Standar pengelolaan. Ada acuan baku soal konservasi, keselamatan pengunjung, dan keterlibatan warga.
- Pendanaan dan pendampingan. Kawasan berstatus biasanya lebih mudah memperoleh dukungan program dari pemerintah pusat dan mitra.
Pemkab Luwu Timur juga menyebut Geopark Matano diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pariwisata berbasis alam, budaya, dan edukasi. Pemerintah daerah membuka peluang kolaborasi dengan akademisi, komunitas, dan sektor swasta untuk menjaga kelestarian kawasan.
Tiga Danau Utama yang Menjadi Tulang Punggung Destinasi
Nama “Sistem Danau Malili” merujuk pada gugusan danau purba yang saling terhubung di ujung timur Sulawesi Selatan. Lima danau tercatat dalam sistem ini: Matano, Mahalona, Towuti, Tarapang Masapi, dan Lontoa. Tiga yang paling dikenal wisatawan adalah Matano, Towuti, dan Mahalona.
Danau Matano: danau terdalam di Indonesia
Danau Matano berada di Kecamatan Nuha, sekitar 50 kilometer dari ibu kota kabupaten di Malili. Kedalamannya mencapai sekitar 590 meter, menjadikannya danau terdalam di Indonesia dan salah satu yang terdalam di dunia. Usianya diperkirakan jutaan tahun dan terbentuk melalui proses tektonik, bukan letusan gunung.
Karena kedalamannya, suhu air di lapisan bawah berbeda dengan permukaan, dan kawasan ini menjadi habitat ikan-ikan endemik. Bagi wisatawan, Matano menawarkan panorama perbukitan hijau, aktivitas perahu, serta cerita geologi yang tidak ditemukan di danau lain di Sulawesi.
Danau Towuti: yang terbesar di Sulawesi
Danau Towuti menjadi danau terbesar di Sulawesi dan menjadi bagian penting dari lanskap Kecamatan Towuti. Di dalamnya terdapat Pulau Luha yang menjadi salah satu titik tujuan favorit. Kejernihan air Towuti kerap menjadi bahan perbandingan dengan danau-danau vulkanik di wilayah lain.
Beberapa kawasan di tepian Towuti juga dikenal sebagai sentra pertanian, termasuk tanaman merica yang membuat banyak petani setempat membangun rumah dari hasil kebun. Kombinasi lanskap danau dan pertanian ini sebenarnya bisa menjadi produk wisata tersendiri bila dikelola dengan baik.
Danau Mahalona: yang paling tenang
Di antara Matano dan Towuti terletak Danau Mahalona. Ukurannya lebih kecil, sekitar 25 kilometer persegi, dan relatif lebih tenang dari dua danau lainnya. Wilayah di sekitarnya merupakan salah satu kawasan pemukiman transmigrasi dengan warga dari beragam suku: Bugis, Makassar, Jawa, dan Bali.
Keragaman itu membuat Mahalona menarik untuk wisata budaya dan kuliner, bukan hanya wisata pemandangan.


