Menuju Satuan Pendidikan Aman Bencana
Pemerintah kabupaten berharap kolaborasi antara Save the Children Indonesia, Yayasan Celosia Marennu Indonesia, BPBD, dan PMI memperkuat penerapan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah-sekolah Luwu Timur. Program ini mendorong sekolah menyiapkan diri menghadapi bencana, mulai dari penilaian risiko bangunan hingga pelatihan bagi siswa dan tenaga pendidik.
Kabupaten Luwu Timur sebelumnya juga menjalankan pelatihan kesiapsiagaan untuk keluarga di wilayah lain. Upaya semacam ini menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada respons setelah kejadian, tetapi bergerak ke arah pencegahan dan pengurangan risiko.
Ke depan, penerapan SPAB di lingkungan SLB perlu diikuti langkah konkret: penilaian kerentanan bangunan sekolah, penyediaan jalur evakuasi yang bisa diakses siswa dengan hambatan mobilitas, serta jadwal simulasi berkala yang melibatkan orang tua dan pemerintah desa.
Peran Literasi Kebencanaan
Pelatihan seperti di Tomoni melengkapi laporan peristiwa yang kami himpun sebelumnya, termasuk catatan mengenai kesiapsiagaan keluarga tanggap bencana dan edukasi kesiapan darurat di sekolah. Semua itu memperlihatkan bahwa kapasitas menghadapi bencana bertumpu pada pengetahuan warga sehari-hari, bukan hanya pada peralatan lintas instansi.
Orang tua memegang peran ganda: sebagai peserta pelatihan dan sebagai pengajar ulang di rumah. Apa yang dilatihkan di sekolah perlu diulang dalam situasi santai di rumah agar anak terbiasa. Simulasi sederhana seperti menunjuk pintu keluar terdekat atau menyepakati tempat berkumpul bila terpisah dapat dilakukan kapan saja.
Untuk siswa SLB, pengulangan itu sebaiknya dilakukan dengan bahasa sederhana dan alat bantu visual. Alat bantu seperti gambar jalur evakuasi bisa membantu anak memahami urutan langkah, terutama bagi siswa yang mengandalkan penglihatan atau isyarat tertentu dalam belajar.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Kolaborasi Lembaga sebagai Kunci
Kegiatan ini memperlihatkan pola kerja yang melibatkan banyak pihak: pemerintah daerah melalui BPBD, organisasi kemanusiaan seperti PMI, lembaga masyarakat sipil, hingga sekolah dan orang tua. Kolaborasi semacam itu penting karena kapasitas satu lembaga sangat terbatas untuk menjangkau semua kelompok rentan di kabupaten seluas Luwu Timur.
Peran lembaga masyarakat sipil umumnya berada pada pendampingan dan penguatan kapasitas, sedangkan pemerintah memegang fungsi kebijakan, penganggaran, dan koordinasi lintas sektor. Ketika keduanya berjalan bersamaan, program kesiapsiagaan lebih mungkin berlanjut setelah kegiatan seremonial selesai.
Bagi warga, informasi soal potensi bencana dan langkah mitigasi paling tepat diperoleh dari sumber resmi seperti BPBD dan BMKG. Menyaring informasi sebelum menyebarkannya menjadi bagian dari literasi kebencanaan yang sama pentingnya dengan keterampilan evakuasi.
FAQ Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah
Apa itu Satuan Pendidikan Aman Bencana?
Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) adalah program yang mendorong sekolah menyiapkan diri terhadap ancaman bencana, mencakup penilaian risiko, jalur evakuasi, pelatihan siswa dan tenaga pendidik, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat sekitar.
Mengapa penyandang disabilitas perlu pelatihan khusus?
Karena kelompok ini menghadapi hambatan tambahan saat situasi darurat, seperti keterbatasan mobilitas dan komunikasi. Pelatihan yang disesuaikan kebutuhan mereka membuat proses evakuasi lebih mungkin berjalan mandiri dan aman.
Siapa yang terlibat dalam simulasi di SLB Tomoni?
Kegiatan digelar BPBD bersama PMI Kabupaten Luwu Timur, berkolaborasi dengan Yayasan Save the Children Indonesia dan Yayasan Celosia Marennu Indonesia, serta melibatkan orang tua dan siswa SLB Tunas Harapan Bangsa.
Langkah Lanjutan yang Bisa Ditunggu Warga
Setelah simulasi, hal yang layak ditunggu adalah kelanjutan program dalam bentuk yang lebih terukur. Misalnya jadwal simulasi rutin setiap tahun ajaran, penyediaan sarana evakuasi yang bisa diakses semua siswa, serta pelatihan lanjutan bagi guru dan tenaga kependidikan.
Warga yang ingin terlibat dapat mendukung dari lingkungan masing-masing, misalnya memastikan jalur menuju sekolah tidak tertutup saat keadaan darurat. Untuk kelompok disabilitas di luar sekolah, kebutuhan serupa juga perlu diperhatikan, termasuk di fasilitas publik dan permukiman.
Bencana tidak bisa dijadwalkan, tetapi kesiapan bisa dibangun sejak sekarang. Simulasi di SLB Tunas Harapan Bangsa Tomoni adalah contoh kecil yang menunjukkan bahwa upaya pengurangan risiko bencana harus menjangkau semua warga, termasuk mereka yang selama ini paling jarang dilibatkan.
Sumber rujukan artikel ini adalah pemberitaan resmi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui Warta Lutim mengenai simulasi kebencanaan di SLB Tunas Harapan Bangsa, laporan Patikala atas kegiatan yang sama, serta informasi program Satuan Pendidikan Aman Bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana.


