SUARALUTIM.COM, MALILI — Wahdah Islamiyah Luwu Timur bukan hanya dikenal sebagai organisasi dakwah. Di balik kegiatan keagamaan yang rutin, ada jaringan relawan yang bergerak ketika warga tertimpa musibah. Lewat Wahdah Peduli dan Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) Luwu Timur, kesiapsiagaan itu dirawat dari waktu ke waktu: mulai dari pelatihan manajemen bencana, pendataan korban, penyaluran bantuan darurat, sampai aksi membersihkan puing di lokasi kejadian.
Bagi warga Luwu Timur, kehadiran jaringan ini bukan hal baru. Ketika kebakaran melanda permukiman di Sorowako pada Rabu, 27 Agustus 2025, tercatat 49 unit rumah yang dihuni sekitar 200 kepala keluarga ludes terbakar. Tim Wahdah Peduli Wahdah Islamiyah Luwu Timur hadir di lokasi sejak hari pertama, melakukan pendataan, memberi dukungan moril, dan membantu mengevakuasi barang-barang warga yang masih bisa diselamatkan. Rekaman kegiatan itu masih tersimpan rapi di arsip resmi DPD Luwu Timur di situs Wahdah Islamiyah.
Wahdah Islamiyah Luwu Timur dan Rantai Kepedulian dari Zakat
Ada rantai yang menghubungkan muzaki di Sorowako dengan keluarga yang kehilangan rumah di Nuha. Rantai itu bernama lembaga amil. WIZ adalah Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) yang beroperasi berdasarkan SK Kementerian Agama RI No. 1209/2024, dengan kantor pusat di Makassar. Informasi resmi soal legalitas dan programnya bisa dibaca di situs WIZ.
Di tingkat lapangan, pelaksana program kemanusiaan WIZ adalah Wahdah Peduli. Dalam rilis resmi Wahdah Islamiyah, Wahdah Peduli disebut sebagai unit kebencanaan dari LAZNAS WIZ. Artinya, dana zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun tidak berhenti sebagai angka di laporan keuangan, tetapi bergerak menjadi relawan yang turun ke lokasi, sembako yang diserahkan ke posko, dan tenaga yang mengangkat puing.
Untuk Luwu Timur sendiri, jejaknya bisa ditelusuri. Penggalangan bantuan untuk korban kebakaran Sorowako dilakukan lewat WIZ Gerai Luwu Timur bersama Departemen Sosial DPD Wahdah Islamiyah Luwu Timur. Dua pintu itulah yang membuat bantuan dari warga Lutim bisa menyalur tanpa harus melewati jalur panjang ke ibu kota provinsi.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Pelajaran dari Sorowako: 49 Rumah, 200 Kepala Keluarga
Satu hal yang sering luput dari perhatian saat musibah datang: pekerjaan pertama relawan bukan menyalurkan bantuan, melainkan mendata. Tanpa data, bantuan mudah salah sasaran atau menumpuk di satu titik sementara lokasi lain terlewat.
Itulah yang dikerjakan Wahdah Peduli Luwu Timur pasca kebakaran Sorowako. Relawan hadir sejak hari pertama, mendata warga terdampak, memberi dukungan moril, sekaligus membantu evakuasi barang yang terselamatkan. Koordinator Wahdah Peduli Luwu Timur, Arifuddin, menyampaikan bahwa aksi itu merupakan wujud kepedulian dan solidaritas terhadap sesama.
“Kami berharap bantuan ini bisa sedikit meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa musibah,” ujarnya, sebagaimana dikutip dalam rilis resmi yang bisa dibaca di laporan Wahdah Islamiyah tentang relawan Lutim di Sorowako.
Tiga Bekal Wajib Seorang Relawan
Relawan yang hanya berbekal niat baik bisa jadi beban di lokasi bencana. Karena itu, Wahdah Peduli merawat kapasitas anggotanya lewat pelatihan berkala. Di tingkat nasional, Wahdah Peduli pernah menggelar pelatihan Dasar Manajemen Bencana dan pengendalian operasi pencarian dan pertolongan bagi puluhan relawan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada 2023. Pelatihan itu menggandeng BPBD Jawa Barat, Vertical Rescue Indonesia, Korps PBI, dan Waqaf Qur’an Adventure — contoh bahwa kerja kemanusiaan menuntut kolaborasi lintas lembaga.
Di Sulawesi Selatan, Wahdah Peduli Sulsel menyelenggarakan pelatihan kebencanaan bertema Kolaborasi Kemanusiaan di Pucak Tompobulu, Maros, pada 14 September 2024. Kegiatan itu diikuti 103 peserta dari 24 kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan, berkolaborasi dengan Disaster Management Center Ikatan Alumni Teknik Universitas Hasanuddin dan Mahasiswa Pecinta Alam STIBA Makassar.
Dalam forum itu, Ketua DPW Wahdah Islamiyah Sulawesi Selatan, Ustad Djusran Bachtiar, menyebut tiga aspek yang wajib ditingkatkan seorang relawan. Pertama, kekuatan fisik, karena relawan harus dalam kondisi prima saat turun ke lapangan. Kedua, mental, karena relawan perlu berempati kepada warga terdampak dan mampu menghadapi dinamika di lokasi. Ketiga, keterampilan, agar relawan bisa memberi solusi nyata — bukan sekadar hadir.


