ANGKONA, SUARALUTIM.COM — Zakat Luwu Timur tidak selalu berhenti di paket sembako. Di pelosok Desa Taripa, Kecamatan Angkona, sebuah pesantren berdiri di tanah menanjak, dikelilingi kebun kelapa sawit, dengan asrama yang dibangun berangsur dari donasi. Namanya Pondok Pesantren Darul Hijrah. Hampir seluruh santrinya anak yatim dan duafa, dan mereka tidak dipungut biaya untuk belajar. Sebagian biaya pembangunan asrama datang dari kanal zakat, infak, dan sedekah Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) bersama para muhsinin.
Zakat Luwu Timur dan Pesantren di Pelosok Angkona
Wahdah Inspirasi Zakat adalah lembaga amil zakat nasional (LAZNAS) di lingkungan Wahdah Islamiyah dengan izin Kementerian Agama RI Nomor 511/2019. Dana zakat, infak, sedekah, serta dana kemanusiaan yang dikelolanya disalurkan melalui program dakwah, tahfizh, pendidikan, kemandirian, dan kesehatan.
Bagi keluarga di Luwu Timur yang ingin anaknya menjadi penghafal Al-Qur’an tetapi terbentur biaya, kehadiran ponpes di Kecamatan Angkona ini menjadi alternatif. Letaknya jauh dari keramaian kota Malili, di wilayah pegunungan. Jalan menuju pondok terjal, berbatu, dan menanjak — kondisi yang membuat pengiriman material bangunan tidak bisa mengandalkan kendaraan biasa.
Darul Hijrah: Sekolah Gratis untuk Yatim dan Duafa
Dalam laporan WIZ pada Desember 2022, tercatat 57 santri belajar di ponpes ini dan sebagian besar adalah yatim duafa. Mereka tidak dipungut biaya alias gratis. Sebabnya, pengelolaan pondok memang berbasis donasi, sehingga pengasuh pondok hanya berharap pada uluran tangan para donatur untuk menutup kebutuhan harian dan pembangunan.
Setahun kemudian, laporan WIZ pada Maret 2023 menyebut ponpes telah menampung sekitar 100 santri. Menariknya, penerimaan santri baru tahun ajaran 2022/2023 berjalan tanpa menyebarkan brosur PPDB, namun calon santri yang memenuhi syarat sudah mendekati 50 orang.
Dari keterangan pengelola, kapasitas pondok memang sangat terbatas, baik dari sisi tempat tinggal maupun konsumsi sehari-hari. Di titik inilah zakat bekerja: bukan sekadar menutup kekurangan sesaat, tetapi menjaga sebuah lembaga pendidikan tetap hidup.
Relawan dan Santri Bergotong Royong di Jalan Terjal
Karena akses yang sulit, pekerjaan membangun asrama di Darul Hijrah menjadi ujian tersendiri. Relawan WIZ menempuh perjalanan sekitar satu jam memakai mobil hartop untuk mencapai lokasi. Material bangunan harus dipanggul ke atas — dan para santri ikut turun tangan mengangkat bahan bangunan. Cara itu, menurut laporan resmi WIZ, menjadi satu-satunya jalan agar material bisa sampai ke pondok mereka.
“Jalannya benar-benar menantang. Pantas saja pembangunannya sedikit lambat karena membawa material ke atas itu butuh kesabaran,” kata Muhammad Ilham, relawan Wahdah Inspirasi Zakat, seperti dikutip WIZ.
Pada Kamis (22/09/2022), relawan WIZ bersama para santri melakukan kerja bakti pembangunan asrama. “Alhamdulillah kerja bakti berjalan lancar dan para santri sangat antusias melakukan pengerjaan,” ujar Ilham berharap pembangunan asrama berjalan lancar agar santri mendapat tempat tinggal yang layak dan nyaman.
Pekerjaan itu berlanjut. Pada laporan akhir Desember 2022, penanggung jawab program menyebut pengerjaan tangga menuju lantai dua asrama putri sedang berlangsung, dibantu santri putra bersama tukang. Hingga Maret 2023, fasilitas yang sudah tuntas antara lain masjid ponpes, satu bangunan asrama putra, serta WC dan tempat wudhu untuk asrama putri. Sementara itu, tambahan asrama putra dan asrama putri masih dalam proses pengerjaan.
- Fasilitas yang sudah selesai: masjid ponpes, satu bangunan asrama putra, WC dan tempat wudhu asrama putri.
- Yang masih dibangun: satu bangunan asrama putra di lokasi baru dan asrama putri.
- Pihak yang terlibat: relawan WIZ, para santri, tukang, dan para donatur.
Mengapa Pendidikan Masuk Program Penyaluran Zakat
Zakat dipandang WIZ bukan hanya belanja sosial sesaat. Lewat pilar pendidikan, dana umat diarahkan menjadi bekal jangka panjang bagi anak-anak yang kehilangan penopang keluarga. Seorang santri yatim yang belajar menghafal Al-Qur’an, tinggal di asrama yang layak, dan tumbuh dengan pembinaan, diharapkan menjadi tenaga yang mandiri ketika kembali ke masyarakat Luwu Timur.
Karena itu, kerja pembangunan asrama di Taripa bernilai lebih dari urusan bangunan. Asrama yang layak menjaga ritme belajar santri, memisahkan urusan putra dan putri, dan memberi ruang belajar yang tenang — kebutuhan dasar yang, dalam keterangan pengelola, belum sepenuhnya terpenuhi.


