Sorowako dan Luwu Timur dalam Ujian Hilirisasi Nikel
Bagi daerah penghasil, perubahan formula HPM berbuah konsekuensi langsung. Berdasarkan laporan keuangan interim perseroan, kuota yang diajukan untuk Blok Sorowako disetujui penuh, sementara alokasi Blok Pomalaa dan Bahodopi jauh di bawah usulan. Vale lalu mengajukan revisi RKAB pada Juli 2026 dan hingga pertengahan September masih menunggu keputusan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan tambahan kuota tidak diberikan otomatis karena pemerintah menilai kepatuhan dan rekam jejak perusahaan. “Kami sudah kasih, tetapi dia minta tambah. Kami memberikan tambah itu sesuai amal perbuatan,” katanya, seperti dikutip pemberitaan ekonomi nasional.
Yang membuat HPM limonit relevan bagi Luwu Timur adalah rencana pengolahan bijih kadar rendah dari Sorowako. Presiden Direktur PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Selasa (15/9/2026), menyebut tantangan terbesar proyek hilirisasi justru nonteknis. “Ada permasalahan tumpang tindih lahan, ada permasalahan klaim lahan yang sepihak dilakukan oleh masyarakat, dan itu tentu saja membutuhkan koordinasi lintas instansi untuk menyelesaikannya,” ujarnya.
Progres tiga fasilitas HPAL perseroan berbeda-beda: Pomalaa di Sulawesi Tenggara sekitar 95%, Bahodopi di Sulawesi Tengah sekitar 41,5%, dan Morowali sekitar 41%. HPAL Sorowako paling belakang. Vale berencana memisahkan bijih limonit kadar rendah dari tambang Sorowako yang sudah beroperasi puluhan tahun, lalu memasoknya ke pabrik baru di Malili, sekitar 55 kilometer dari Sorowako. Pembangunan kawasan industri, perizinan, dan dokumen lingkungan masih berjalan, dengan target terealisasi akhir 2027. Agenda lanjutannya adalah Blok Tanamalia di Kecamatan Towuti, yang menurut Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, Budiawansyah, penambangannya paling cepat dimulai 2029 setelah studi kelayakan perinci rampung.
Dorongan revisi dari sisi perusahaan sudah terdengar sebelum aturan baru berlaku. Seperti diberitakan Kompas.com, manajemen Vale menyatakan formula lama membuat harga bijih nikel limonit bisa dua kali lipat, sehingga memberatkan penyerapan bijih dari pihak lain sebagai bahan baku HPAL. Persoalan Sorowako juga menyangkut ketenagakerjaan dan lahan, yang pernah kami bahas dalam laporan tentang PKB ke-22 PT Vale dan dialog pekerja serta desakan petani soal moratorium konsesi.
Tekanan Lain: Smelter Morowali Kurangi Produksi karena Kekeringan
Isu pertambangan nasional pekan ini tidak hanya soal formula harga. Sejumlah smelter pirometalurgi berbasis rotary kiln electric furnace (RKEF) di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, mulai menurunkan laju produksi pada Selasa (22/9/2026). Riset pasar Shanghai Metals Market mencatat beberapa lini beroperasi pada beban sekitar 30–40% dari kapasitas normal; jika berlangsung dua pekan, produksi nickel pig iron berpotensi berkurang 50.000–70.000 ton secara tonase fisik. Pengelola kawasan mengonfirmasi penurunan itu menyusul berkurangnya debit air sungai yang dikaitkan dengan fenomena El Nino, karena air dibutuhkan untuk pendinginan dan perlindungan peralatan, serta menyatakan belum ada penghentian operasional maupun pengurangan tenaga kerja.
Apa yang Perlu Diawasi Selanjutnya
APNI meminta pemerintah mengevaluasi dampak revisi HPM setelah aturan berjalan, dengan indikator HPM rata-rata menurut kadar nikel, volume transaksi bijih, volume limonit yang diserap industri, royalti per wet metric ton, hingga total PNBP. Asosiasi juga mengapresiasi penyesuaian sistem E-PNBP agar sejalan dengan formula baru.
“Indonesia harus memastikan setiap ton bijih nikel yang ditambang dan diperdagangkan memberikan nilai optimal bagi negara,” ujar Meidy. Bagi Luwu Timur, dua hal yang layak dipantau adalah kepastian kuota RKAB tambahan bagi blok selain Sorowako dan kesiapan proyek pengolahan di Malili, karena keduanya menentukan seberapa besar bijih kadar rendah dari Sorowako terserap di dalam negeri.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa itu HPM dan mengapa sering berubah?
HPM adalah harga patokan mineral yang ditetapkan pemerintah sebagai acuan penjualan komoditas mineral di dalam negeri. Formulasinya bisa disesuaikan lewat keputusan menteri ketika koefisien di dalamnya dinilai tidak lagi mencerminkan nilai kandungan bijih maupun kebutuhan industri hulu dan hilir. Sepanjang 2026, formula HPM bijih nikel sudah dua kali diubah, pada April dan September.
Apakah revisi ini menguntungkan penambang atau smelter?
Dampaknya berbeda menurut posisi usaha. Pengolahan yang menyerap limonit kadar rendah, terutama smelter HPAL, memperoleh bahan baku dengan harga acuan yang lebih dekat ke harga pasar. Sebaliknya, bagi penambang limonit, perhitungan nilai bijih berubah cukup besar. Pemerintah menyatakan revisi ini juga menyangkut penghitungan royalti dan PNBP, sehingga dampaknya tidak bisa dinilai dari satu sisi saja.
Apa kaitannya dengan Luwu Timur?
PT Vale Indonesia beroperasi di Sorowako, Luwu Timur, dan menyiapkan pengolahan bijih limonit kadar rendah dari tambang tersebut untuk pabrik yang direncanakan di Malili. Kuota produksi dalam RKAB dan formula HPM limonit sama-sama menentukan apakah rencana pengolahan di dalam daerah itu berjalan sesuai jadwal.
Catatan: artikel ini disusun dari pemberitaan Antara, Kompas, Petrominer, laporan Shanghai Metals Market, keterangan resmi APNI, serta paparan PT Vale Indonesia Tbk di Komisi XII DPR RI pada 15 September 2026.
Gambar: Mamansukirman06, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0 (pusat pembibitan kawasan tambang PT Vale, Sorowako).


