Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Tambang & Industri

Tambang Luwu Timur: Vale Siapkan Investasi USD7,2 Miliar

5 Oktober 2026 • Admin • 22 kali dibaca
Industri tambang nikel Luwu Timur dan rencana investasi hilirisasi PT Vale Indonesia
Gambar: Metrotvnews.com
ASM Group
Iklan

SUARALUTIM.COM, SOROWAKO — Industri nikel Luwu Timur memasuki fase baru. PT Vale Indonesia Tbk menyiapkan investasi sekitar USD7,2 miliar atau setara Rp127,17 triliun untuk mengembangkan tiga proyek hilirisasi nikel sekaligus. Salah satu proyek itu berada di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, dengan nilai investasi sekitar USD2,1 miliar.

Angka itu disampaikan Direktur Project Control Indonesia Growth Project (IGP) Vale Indonesia, Mateus Sigit Hari Sulistya, dalam diskusi MediaMIND 2026 di Jakarta, Senin (14/9/2026). Menurut dia, pengembangan tersebut menandai perubahan besar: dari yang semula berpusat pada satu lokasi operasi di Sorowako, perusahaan kini membangun platform pertumbuhan di beberapa wilayah.

Tambang Luwu Timur dan Tiga Proyek Hilirisasi Vale

Proyek pertama berada di Morowali, Sulawesi Tengah, dengan nilai investasi sekitar USD1,9 miliar. Di proyek ini Vale menggandeng GEM dan EcoPro. Penyelesaian mekanis tahap awal ditargetkan pada akhir 2026, sedangkan penyelesaian mekanis penuh diarahkan pada kuartal pertama 2027.

Proyek kedua berlokasi di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Nilainya mencapai sekitar USD3,2 miliar dengan mitra Huayou dan Ford. Mateus menyebut proyek Pomalaa sebagai yang paling maju. Pengujian dan commissioning akan dilakukan bertahap sebelum fasilitas memasuki tahap operasi penuh.

Tata Atur
Iklan

Proyek ketiga berada di Sorowako, Sulawesi Selatan — wilayah yang selama ini menjadi denyut utama industri nikel Luwu Timur. Vale menyiapkan investasi sekitar USD2,1 miliar dan menggandeng Huayou untuk mengembangkan fasilitas HPAL. Proyek ini masih berada pada tahap awal, dengan target fasilitas dapat beroperasi penuh sekitar 2028.

Perlu dicatat, kegiatan pertambangan pada ketiga proyek akan dilakukan sepenuhnya oleh Vale. Adapun fasilitas pengolahan akan dikembangkan melalui perusahaan patungan bersama para mitra, dengan Vale menempati posisi pemegang saham minoritas yang signifikan.

Teknologi HPAL dan Nasib Bijih Limonit

Inti dari ketiga proyek adalah teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL). Teknologi ini mengolah bijih nikel limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan antara yang dapat diolah lebih lanjut menjadi material baterai kendaraan listrik.

Perubahan yang dibawa HPAL cukup mendasar. Selama puluhan tahun, limonit dipandang sebagai material yang kurang dimanfaatkan dibanding bijih saprolit yang kaya nikel. Dengan HPAL, nilai ekonomi limonit terbuka lebar.

“Dulu limonite ore itu boleh dibilang menjadi material yang tidak dipakai. Kemudian, dengan adanya teknologi HPAL, ini sekarang bisa membuka jalan baru. Kita meng-unlock value dari limonite ore,” ujar Mateus.

Bagi Luwu Timur, pemanfaatan limonit punya arti strategis. Cadangan bijih kadar rendah yang sebelumnya tertahan kini punya jalur hilir. Artinya, aktivitas tambang tidak sekadar mengeruk dan mengirim bahan mentah, tetapi tumbuh menjadi rantai pengolahan dengan nilai tambah lebih tinggi.

Konsekuensi bagi Warga dan Daerah

Investasi sebesar ini membawa konsekuensi ganda. Di satu sisi, proyek hilirisasi berpotensi menyerap tenaga kerja, menambah penerimaan daerah, dan menumbuhkan usaha pendukung. Di sisi lain, ekspansi industri menuntut pengelolaan lingkungan yang benar-benar ketat.

Vale menyatakan fasilitas HPAL yang dikembangkan bersama mitra diminta memenuhi standar internasional sejak tahap perencanaan hingga operasi. Perhatian diarahkan pada penggunaan energi, emisi, serta pengelolaan residu. Perusahaan juga menyebut kerja sama dengan mitra sebagai sarana alih teknologi kepada tenaga kerja Indonesia.

Isu lingkungan bukan hal kecil di Luwu Timur. Kawasan Sorowako berdampingan langsung dengan Danau Matano, salah satu danau purba terdalam di dunia. Warga pun berulang kali menyoroti pentingnya pengelolaan limbah, air, dan kawasan sekitar agar industri tidak mengorbankan ekosistem danau.

Karena itu, transparansi menjadi kunci. Warga berhak mengetahui rencana pengolahan, titik pembuangan residu, hingga skema pemantauan. Pemerintah daerah juga dituntut memastikan setiap izin dan pengawasan berjalan sesuai aturan, bukan sekadar mengikuti kepentingan investasi.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga