Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
SUARALUTIM.COM, MALILI — Kabut asap kembali menjadi pemandangan yang akrab bagi warga Luwu Timur pada September 2026. Puncaknya terjadi pada Selasa (15/9/2026) ketika kebakaran lahan muncul di enam titik sekaligus di dua kecamatan, Towuti dan Malili, dengan total luas lahan terbakar diperkirakan mencapai 26 hektare dalam sehari. Peristiwa itu menambah daftar panjang kejadian kebakaran hutan dan lahan di kabupaten ini selama musim kemarau.
Empat hari kemudian, Sabtu (19/9/2026) pagi, asap yang diduga berasal dari kebakaran lahan di wilayah Towuti menutup pandangan ke arah Danau Matano dari kawasan Sorowako, Kecamatan Nuha. Seorang warga, Andi Fajar Wela, mengunggah kondisi itu sekitar pukul 10.29 Wita dan menuliskan bahwa Danau Matano sudah tidak terlihat karena tertutup asap kebakaran kebun di Kecamatan Towuti.
Peta Kebakaran: Enam Titik dalam Sehari
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari pemberitaan lokal, kebakaran pada 15 September 2026 tersebar di Towuti dan Malili. Tiga titik berada di wilayah Towuti, yakni lokasi di Desa Baruga dan satu lokasi di Desa Lioka, dengan perkiraan luas terbakar mencapai 12 hektare.
Tiga titik lainnya berada di Kecamatan Malili, yaitu di Desa Puncak Indah, Wawangeriu, dan Harapan, dengan total perkiraan luas mencapai 14 hektare. Penyebab kebakaran di sejumlah lokasi masih dalam penyelidikan.
| Wilayah | Titik | Perkiraan luas |
|---|---|---|
| Kecamatan Towuti | Desa Baruga (3 titik) dan Desa Lioka | Sekitar 12 hektare |
| Kecamatan Malili | Puncak Indah, Wawangeriu, Harapan | Sekitar 14 hektare |
| Total | 6 titik | Sekitar 26 hektare |
Sehari sebelumnya, rentang Minggu (13/9/2026) hingga Senin (14/9/2026) dini hari, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Luwu Timur tercatat menangani lima kebakaran lahan di Kecamatan Malili, Towuti, dan Wasuponda serta satu kebakaran rumah. Luas lahan yang terdampak dari lima kejadian itu diperkirakan sekitar 5,5 hektare.
Lima lokasi tersebut meliputi Puncak Indah Kilo 6 dan Wewangriu di Kecamatan Malili, Matompi serta One-One di Kecamatan Towuti, dan Ledu-Ledu di Kecamatan Wasuponda yang menjadi titik terluas dengan perkiraan dua hektare.
Viral Luwu Timur: Asap Tutupi Pemandangan Danau Matano
Yang membuat kejadian September ini banyak dibicarakan warga adalah dampaknya pada jarak pandang. Asap kebakaran yang terbawa angin membuat langit di sekitar Sorowako tampak buram, dan pemandangan ke arah Danau Matano nyaris tidak terlihat dari sebuah bangunan bertingkat di kawasan itu.
Dalam unggahan yang sama, warga menyebut perlunya pemantauan kualitas udara di wilayah tersebut agar tingkat kerawanannya bagi kesehatan warga dapat diketahui secara terukur. Usulan itu muncul karena data kualitas udara di kawasan Sorowako belum tersedia saat asap mulai menutup pandangan.
Hingga laporan itu dibuat, belum ada keterangan resmi yang memastikan apakah asap yang terlihat dari Sorowako berasal dari titik kebakaran yang telah dilaporkan sebelumnya atau dari titik baru. Kondisi inilah yang membuat warga menilai kehadiran alat pemantau udara menjadi penting, terutama saat musim kemarau panjang.
Kebakaran yang bertahan berhari-hari
Di Desa Tarabbi, Kecamatan Malili, kebakaran kawasan hutan dilaporkan berlangsung sekitar dua pekan dan merambat hingga bagian puncak gunung. Kondisi geografis yang curam, akses yang minim, dan jarak yang jauh menyulitkan proses pemadaman. Warga memperkirakan puluhan hektare kawasan terbakar, namun luas pasti masih memerlukan pendataan dan verifikasi instansi terkait.
Kasus Tarabbi memperlihatkan pola yang berulang di Luwu Timur: titik api berada di area yang sulit dijangkau personel dan peralatan. Diperlukan strategi penanganan yang sesuai dengan kondisi medan agar api tidak terus meluas.


