Minggu, 20 September 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Lutim

Viral Luwu Timur: Konsep Buku Bisa Berbicara di DPK Lutim

9 September 2026 • Admin
Suasana kegiatan The Human Library bertema buku bisa berbicara di DPK Lutim, viral luwu timur
Gambar: Pedomanrakyat.com

Peserta dari Pelajar hingga Komunitas Forum Anak

Hadir dalam kegiatan itu Duta Literasi Sekolah, para pelajar, pegiat literasi, komunitas Forum Anak, hingga tenaga pendidik. Kehadiran mereka membuat diskusi berlangsung dari beberapa sudut pandang. Ada peserta yang bertanya soal kebiasaan membaca, ada pula yang menanyakan cara memulai menulis.

Keterlibatan pelajar dinilai penting karena mereka berada di usia pembentukan kebiasaan. Pengalaman mengikuti human library bisa menjadi cerita yang mereka bagikan kepada teman sebaya. Cara itu dinilai lebih efektif dibanding imbauan satu arah. Selain itu, tenaga pendidik dapat mengadaptasi metode tersebut untuk kegiatan di sekolah.

Dampak bagi Budaya Literasi Daerah

Kegiatan semacam ini menambah ragam program literasi yang ada di Luwu Timur. Sebelumnya, penguatan literasi banyak dilakukan melalui perpustakaan sekolah dan taman baca. Human library menawarkan jalur lain yang menekankan interaksi sosial. Ragam pendekatan itu penting agar program tidak monoton.

SuaraLutim sebelumnya juga melaporkan berita Luwu Timur soal pembekalan aparatur desa sebagai bagian dari penguatan kapasitas warga. Untuk agenda literasi dan pendidikan, pembaca dapat menelusuri rubrik Pendidikan SuaraLutim. Informasi tentang kanal pemberitaan warga tersedia di portal berita warga Luwu Timur.

Human Library dan Momentum Hari Literasi Internasional

Hari Literasi Internasional diperingati setiap 8 September sesuai penetapan UNESCO. Momen itu dipakai DPK Lutim untuk menggelar kegiatan yang melibatkan warga secara langsung. Peringatan tahun ini pun tidak berbentuk upacara, melainkan perbincangan antargenerasi. Pilihan format itu dinilai lebih membumi.

Kepala DPK Lutim mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan perpustakaan sebagai ruang bertemu, ruang berbagi, ruang belajar, dan ruang tumbuh bersama. Ajakan itu menempatkan perpustakaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari warga. Harapannya, semakin banyak orang merasa memiliki ruang publik tersebut.

Ia menutup sambutannya dengan harapan agar kegiatan ini memberi dampak jangka panjang. “Semoga kegiatan Human Library ini menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar bagi tumbuhnya masyarakat Luwu Timur yang literat, berpengetahuan, kritis, kreatif dan berkarakter,” tutup Syukri.

Tips Mengikuti Sesi Human Library bagi Pemula

Bagi peserta yang baru pertama kali mengikuti format ini, ada beberapa hal yang bisa disiapkan. Menentukan tema yang paling ingin diketahui sejak awal membantu peserta memilih narasumber. Menyiapkan dua atau tiga pertanyaan dasar juga membuat sesi lebih terarah. Dengan begitu, waktu berbincang tidak habis untuk sekadar perkenalan.

Peserta sebaiknya mencatat hal-hal baru yang mereka dengar selama sesi. Catatan sederhana berguna agar pelajaran dari percakapan tidak cepat menguap. Setelah sesi selesai, peserta bisa merenungkan bagian mana yang paling relevan dengan kehidupannya. Cara ini membuat manfaat kegiatan terasa lebih lama.

Menghargai narasumber juga menjadi bagian penting dari etika kegiatan. Cerita yang dibagikan adalah pengalaman pribadi, sehingga peserta sebaiknya tidak memotong pembicaraan. Pertanyaan yang sensitif sebaiknya disampaikan dengan santun. Sikap itu menjaga suasana tetap nyaman bagi semua pihak.

Bedanya dengan Perpustakaan Konvensional

Perpustakaan konvensional menawarkan koleksi tertulis yang bisa dibaca berulang kali. Human library menawarkan pengalaman yang tidak bisa diputar ulang, karena bergantung pada dialog. Meski begitu, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memperluas pengetahuan pembaca. Perbedaan bentuk justru membuat keduanya saling melengkapi.

Koleksi buku tetap menjadi tulang punggung layanan perpustakaan daerah. Buku memungkinkan pembaca mendalami satu topik secara sistematis. Sementara human library membantu pembaca memahami konteks nyata dari sebuah profesi atau persoalan. Kombinasi keduanya dinilai memberi pengalaman belajar yang lebih utuh.

Antusiasme peserta malam itu menunjukkan minat terhadap format semacam ini cukup besar. DPK Lutim menyatakan akan terus mengembangkan program literasi yang melibatkan masyarakat langsung. Keterlibatan warga dinilai menjadi kunci agar program literasi bertahan. Dengan begitu, perpustakaan tetap relevan bagi berbagai kalangan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa kegiatan ini disebut buku bisa berbicara?

Sebutan itu menggambarkan manusia yang berperan sebagai buku hidup. Isi “buku” disampaikan melalui dialog langsung, bukan lewat halaman teks. Peserta bisa bertanya dan menggali cerita sesuai minatnya.

Apa bedanya dengan seminar biasa?

Seminar umumnya berjalan satu arah dengan pembicara di depan peserta. Human library menempatkan peserta dalam kelompok kecil yang berdialog langsung. Format ini mendorong keterlibatan aktif setiap peserta.

Apakah kegiatan serupa akan digelar lagi?

DPK Lutim menyatakan Human Library sebagai salah satu inovasi pengembangan literasi. Informasi kegiatan lanjutan biasanya diumumkan melalui kanal resmi dinas. Warga dapat memantau agenda tersebut agar tidak ketinggalan.

Untuk referensi, penjelasan mengenai Hari Literasi Internasional tersedia di laman UNESCO. Siaran kegiatan daerah dapat dilihat di Warta Luwu Timur, sedangkan laporan awal kegiatan ini diterbitkan Pedoman Rakyat.

Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga