Malili – Sebuah selebaran digital berlogo Kelurahan Magani, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, beredar di grup-grup WhatsApp warga Sorowako pada awal September 2026. Selebaran itu memuat imbauan waspada terhadap maraknya penculikan anak berusia 1 sampai 12 tahun, disertai ajakan agar pesannya disebarkan luas. Lurah Magani membantah membuat selebaran tersebut.
Bantahan itu disampaikan pada Senin (7/9/2026) setelah sejumlah kepala sekolah, guru taman kanak-kanak, guru sekolah dasar, hingga guru mengaji di Sorowako meneleponnya untuk mengonfirmasi kebenaran isi selebaran. Lurah juga menyatakan telah mengklarifikasi persoalan itu kepada aparat kepolisian sektor Nuha.
Kasus ini menjadi contoh bagaimana satu berkas gambar bisa memicu keresahan di sebuah kecamatan hanya dalam hitungan jam. Yang menyebarkannya bukan pihak tak dikenal, melainkan warga sendiri yang merasa sedang menolong tetangga. Persoalannya persis di situ: niat baik tidak otomatis membuat informasi menjadi benar.
Viral Luwu Timur: Isi Selebaran yang Beredar
Selebaran digital itu memakai logo kelurahan dan dilengkapi kalimat ajakan menjaga keamanan warga. Di bagian bawahnya tercantum peringatan agar orang tua berhati-hati, disusul keterangan mengenai penculikan anak-anak berumur 1 sampai 12 tahun. Bagian penutup memuat ajakan menyebarkan selebaran, terima kasih, disertai nama Lurah Magani.
Kombinasi itu membuat selebaran terlihat seperti produk resmi: ada logo instansi, ada nama pejabat, dan ada ajakan bertindak. Bagi warga yang menerimanya di grup keluarga atau grup rukun tetangga, tidak banyak alasan untuk meragukan. Selebaran lalu diteruskan berkali-kali, khususnya di Sorowako, Kecamatan Nuha.
Isi pesan yang menyangkut keselamatan anak memang paling cepat menarik perhatian. Ketika yang dipertaruhkan adalah anak-anak, orang tua cenderung memilih meneruskan pesan daripada menahan diri demi memastikan kebenarannya lebih dulu.
Bantahan Lurah Magani
Setelah menerima banyak telepon dari kalangan pendidik, lurah langsung melakukan penelusuran internal. Ia menanyakan kepada seluruh staf dan perangkat kelurahan, dan tidak ada satu pun yang mengakui membuat selebaran tersebut. Menurut lurah, selebaran itu justru membuat gaduh dan meresahkan masyarakat.
Pernyataan itu juga disampaikan kepada aparat kepolisian sektor Nuha sebagai bentuk klarifikasi resmi. Dengan demikian, informasi yang beredar tidak pernah berasal dari kanal kelurahan, dan nama lurah dicantumkan tanpa sepengetahuannya.
Sampai artikel ini disusun, SuaraLutim belum memperoleh keterangan resmi dari kepolisian mengenai laporan kasus penculikan anak di wilayah Nuha. Yang terkonfirmasi adalah bantahan lurah atas selebaran tersebut, bukan keberadaan kasus yang disebut di dalamnya. Perbedaan dua hal itu penting dan sebaiknya tidak dicampur.
Mengapa Informasi Semacam Ini Cepat Menyebar
Ada beberapa alasan mengapa selebaran berlogo instansi mudah dipercaya. Pertama, logo dan nama pejabat memberi kesan bahwa pesan telah melewati proses verifikasi. Kedua, desainnya menyerupai surat edaran, sehingga pembaca menganggapnya bagian dari prosedur resmi. Ketiga, ajakan menyebarkan pesan memindahkan tanggung jawab kebenaran dari pengirim pertama kepada penerima berikutnya.
Grup WhatsApp mempercepat ketiga hal itu sekaligus. Pesan masuk ke ruang yang isinya biasanya dipercaya, dari orang yang dikenal. Tidak ada mekanisme penyuntingan atau pemeriksaan fakta di dalamnya. Begitu satu orang meneruskan, penerima berikutnya menganggap pesan itu telah dikonfirmasi orang lain.
Respons warga yang justru benar
Yang menarik dari peristiwa ini adalah langkah sebagian warga. Kepala sekolah, guru, dan guru mengaji memilih menelepon lurah untuk bertanya sebelum meneruskan pesan ke lingkungan masing-masing. Mereka tidak langsung menyebarkan ke grup kelas atau grup orang tua murid, tetapi mengecek lebih dulu ke sumber yang seharusnya menerbitkan selebaran.
Kebiasaan semacam itu yang perlu diperkuat. Satu panggilan telepon ke kantor kelurahan sering kali cukup untuk memastikan apakah sebuah surat edaran benar diterbitkan atau tidak. Biaya waktunya kecil, tetapi manfaatnya besar: keresahan tidak menyebar ke ratusan keluarga.