Minggu, 1 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Indonesia: IHSG Anjlok 7,03 Persen dalam Sepekan

31 Oktober 2026 • zul • 25 kali dibaca
Gedung Bursa Efek Indonesia di kawasan Sudirman, Jakarta
Bursa Efek Indonesia, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Berita Indonesia dari pasar modal menutup pekan terakhir Oktober dengan warna merah. Indeks Harga Saham Gabungan anjlok 7,03 persen sepanjang periode 26 sampai 30 Oktober 2026, dari 5.439,258 menjadi 5.057,050 pada penutupan Jumat, 30 Oktober.

Penurunan itu setara 382 poin indeks dan membuat kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut sekitar Rp721 triliun dalam lima hari perdagangan. Data ini disampaikan BEI dan dikutip sejumlah media ekonomi pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Koreksi pekan ini bukan gerakan satu hari. Indeks melemah bertahap, dengan tekanan jual yang muncul kembali setiap kali indeks mencoba mendekati level 5.400. Pasar saham domestik kini berada di bawah level penutupan akhir pekan sebelumnya yang sempat memberi harapan pemulihan.

Angka penutupan pekan ini

Pada penutupan Jumat, IHSG berada di 5.057,050. Posisi itu turun dari 5.439,258 pada penutupan pekan sebelumnya. Dalam persentase, koreksinya 7,03 persen, salah satu penurunan mingguan terdalam pada kuartal keempat 2026.

Tata Atur
Iklan

Kapitalisasi pasar BEI tercatat Rp8.862 triliun, turun 7,52 persen dari Rp9.583 triliun sepekan sebelumnya. Selisihnya sekitar Rp721 triliun, angka yang setara dengan nilai pasar sejumlah emiten besar bila dijumlahkan.

Penurunan indeks dan kapitalisasi bergerak searah, seperti biasa terjadi ketika harga saham turun secara menyeluruh. Yang membedakan pekan ini adalah skala koreksinya, bukan hanya pada saham berkapitalisasi kecil, tetapi juga pada saham yang selama ini menjadi penopang indeks.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Berita Indonesia: kapitalisasi pasar susut Rp721 triliun

Angka Rp721 triliun menjadi sorotan karena menggambarkan kecepatan pengurangan nilai, bukan hanya besaran. Dalam sepekan, nilai pasar saham domestik turun lebih dari tujuh persen, sementara jumlah saham yang diperdagangkan tidak bertambah.

Bagi investor ritel, penurunan kapitalisasi berarti nilai portofolio ikut tertekan, terutama bila dana ditempatkan pada saham yang menjadi pemberat indeks. Bagi perusahaan, nilai pasar yang mengecil mempersulit aksi korporasi yang bergantung pada harga saham, termasuk right issue dan penawaran umum lanjutan.

Bursa menyatakan komitmennya memperkuat integritas, transparansi, dan tata kelola pasar modal di tengah tekanan ini. Langkah yang disebut mencakup penyempurnaan kebijakan, pengembangan infrastruktur perdagangan, serta inovasi produk dan layanan.

Pernyataan itu penting karena kepercayaan investor menjadi faktor utama dalam fase koreksi. Tanpa perbaikan tata kelola, tekanan jual cenderung berlanjut meski harga sudah turun cukup dalam.

Transaksi harian melambat

Selain indeks, aktivitas perdagangan ikut mengendur. Rata rata nilai transaksi harian merosot 29,49 persen menjadi Rp14,339 triliun, dari Rp20,34 triliun pada pekan sebelumnya.

Rata rata frekuensi transaksi harian turun 20,99 persen menjadi 1,54 juta kali, dari 1,95 juta kali. Rata rata volume transaksi harian juga menyusut 18,85 persen menjadi 32,428 miliar lembar saham, dari 39,959 miliar lembar.

Penurunan nilai transaksi lebih dalam daripada penurunan indeks. Pola ini biasanya menandakan investor menahan diri, bukan sekadar menjual. Mereka menunggu kejelasan arah kebijakan dan sentimen global sebelum menambah posisi.

Likuiditas yang menipis juga memperbesar ayunan harga. Dengan volume lebih kecil, satu order besar dapat menggerakkan harga lebih jauh dibanding kondisi pasar yang ramai.

Asing masih mencatat jual bersih

Pada perdagangan Jumat, investor asing membukukan jual bersih Rp138,71 miliar. Secara akumulatif sejak awal 2026, nilai jual bersih investor asing mencapai Rp97,921 triliun.

Angka itu menjelaskan mengapa koreksi berlangsung lama. Selama investor asing masih menjadi penjual neto, penguatan indeks lebih banyak bergantung pada dana domestik, yang kapasitasnya terbatas dibanding arus global.

Warta Ekonomi melaporkan hal serupa dengan menyoroti keluarnya dana asing sebesar Rp97,92 triliun sepanjang 2026. Perbedaan angka di belakang koma berasal dari pembulatan sumber, bukan dari perbedaan periode.

Bagi emiten dengan porsi kepemilikan asing tinggi, tekanan ini terasa lebih kuat. Harga saham mereka lebih sensitif terhadap perubahan alokasi dana global dibanding emiten yang dimiliki investor domestik.

Dampaknya tidak merata antar sektor. Saham yang berkaitan dengan komoditas dan energi cenderung lebih tahan ketika harga minyak naik, sementara saham teknologi dan konsumer yang bergantung pada daya beli lebih mudah tertekan.

Emiten dengan utang dalam dolar Amerika Serikat juga menghadapi beban tambahan. Pelemahan rupiah membuat kewajiban valas mereka membengkak saat dikonversi, dan itu tercermin pada harga sahamnya.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga