Minggu, 1 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Indonesia: Karhutla Ciremai Padam dalam Dua Hari

24 Oktober 2026 • zul • 26 kali dibaca
Gunung Ciremai di Jawa Barat terlihat pada sore hari
Apri DAV, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Berita Indonesia hari ini menyorot kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Api mulai terdeteksi pada Rabu malam, 21 Oktober 2026, dan merambat ke beberapa blok hutan. Setelah dua hari penanganan intensif, pemerintah provinsi menyatakan kebakaran relatif selesai dipadamkan. Luas area yang terbakar dilaporkan 30 hektare.

Berita Indonesia: Karhutla Ciremai dan Water Bombing

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memantau langsung proses pemadaman dari helikopter pada Jumat, 23 Oktober 2026. Ia meninjau titik prioritas dan menyatakan intensitas api sudah menurun. Pemerintah provinsi mengerahkan helikopter bantuan dari Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, Angkatan Udara, dan BNPB.

Metode water bombing dipilih karena medan sulit dijangkau petugas darat. Lereng Ciremai terjal dan berbatu, dengan vegetasi kering serta embusan angin yang mempercepat rambatan api. Sumber air di sekitar lokasi juga terbatas.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan Indra Bayu menyebut tim sudah melakukan dua kali penerbangan orientasi. Penerbangan itu memetakan titik pengambilan air dan lokasi titik api yang terlihat dari udara. ANTARA melaporkan persiapan water bombing sejak Jumat pagi, sementara CNN Indonesia mencatat operasi udara berjalan pada Jumat.

Tata Atur
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Kronologi Api Sejak Rabu Malam

Kebakaran pertama kali terdeteksi sekitar pukul 20.44 WIB di kawasan lereng Taman Nasional Gunung Ciremai wilayah Pasawahan. Api kemudian merambat ke beberapa blok, termasuk Bintangot, Panyusupan, Batu Arca, Karang Dinding, dan sekitar Bukit 1.000 Bintang.

Pada Kamis, petugas mencatat lima titik api. Jumlahnya berkurang menjadi tiga titik pada Jumat, yaitu di Blok Cipariuk, Karang Dinding, dan sekitar Bukit Seribu Bintang. Penurunan jumlah titik api menjadi indikator awal bahwa pemadaman mulai berhasil.

Tim gabungan terdiri dari TNI, Polri, BPBD, Perhutani, pemadam kebakaran, masyarakat peduli api, serta tambahan personel dari Majalengka dan Cirebon. Mereka dibagi berdasarkan koordinat titik kebakaran. Medan terjal membuat pergerakan personel memakan waktu.

Luas Terbakar 30 Hektare, Bukan 60 Hektare

Gubernur menyatakan luas area terbakar 30 hektare berdasarkan pemantauan udara. Angka itu meluruskan isu yang beredar sebelumnya bahwa kebakaran mencapai 60 hektare. Ia menyebut sekitar 20 persen titik api masih tersisa, tetapi tidak tergolong rawan.

Perbedaan angka sempat membuat publik bingung. Informasi awal dari lapangan menyebut area lebih luas karena api terlihat di beberapa blok sekaligus. Pemantauan udara kemudian memberi gambaran yang lebih akurat tentang batas kebakaran.

Republika menulis angka 30 hektare dengan penjelasan yang sama. Koran Jakarta mencatat BPBD Kuningan menyiapkan water bombing setelah dua kali penerbangan orientasi. Hingga berita ini disusun, belum ada rilis resmi Balai Taman Nasional Gunung Ciremai yang merinci luas per blok. Angka 30 hektare masih bersifat pernyataan gubernur.

Perbedaan metode penghitungan bisa menjelaskan selisih angka. Penghitungan darat sering memakai perkiraan visual petugas di titik terdekat. Pemantauan udara memberi batas area yang lebih luas dan biasanya dipakai sebagai angka resmi sementara.

Strategi Kanal Alami dan 500 Personel

Selain water bombing, pemerintah provinsi memakai pendekatan berbeda dari karhutla di Kalimantan. Di Ciremai api merambat ke atas, bukan menyebar ke samping. Karena itu strategi pemadaman diarahkan pada penyekatan lereng.

Gubernur mengerahkan 500 orang untuk membersihkan kanal alami di hutan. Kanal itu berupa aliran sungai lama yang tertutup sampah dan sedimen. Jika dibersihkan, air hujan bisa mengalir dan membasahi jalur sehingga api tidak menyeberang.

Menurut gubernur, cara itu lebih efektif daripada memotong jalur baru di lereng berbatu. Personel juga membuat sekat bakar di titik yang memungkinkan. Pekerjaan dilakukan siang dan malam selama dua hari terakhir.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga