Berita Indonesia hari ini menyorot proyeksi Dana Moneter Internasional atau IMF yang menempatkan produk domestik bruto (PDB) per kapita Vietnam di atas Indonesia pada 2026. IMF menaksir angka Vietnam mencapai 5.259 dolar Amerika Serikat, sedangkan Indonesia berada di 5.153 dolar Amerika Serikat. Selisihnya tipis, tetapi arah pergerakannya berbeda dan menjadi bahan perdebatan tentang daya saing ekonomi nasional.
Berita Indonesia: Angka Proyeksi IMF untuk Vietnam
Menurut laporan yang dikutip CNN Indonesia dari Nikkei Asia, PDB per kapita Vietnam tahun ini tumbuh 8,9 persen menjadi 5.259 dolar Amerika Serikat. Angka itu hampir dua kali lipat dibandingkan satu dekade lalu.
Proyeksi yang sama menempatkan PDB per kapita Indonesia di 5.153 dolar Amerika Serikat. Kompas.com menulis bahwa posisi Vietnam berpotensi menyalip Indonesia pada indikator nilai ekonomi nominal per penduduk tahun ini.
Dengan perkiraan itu, Vietnam berada di posisi kelima di antara negara anggota ASEAN. Media Vietnam Tuoi Tre menyebut posisi tersebut tepat di bawah Thailand, yang selama ini menjadi pembanding utama untuk kelas ekonomi menengah di kawasan.
Perlu dicatat bahwa angka ini adalah PDB nominal per kapita, bukan paritas daya beli. Perbedaan metode bisa mengubah urutan, sehingga kesimpulan tentang kesejahteraan tidak bisa ditarik hanya dari satu indikator.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Pendorong: Manufaktur dan Investasi Publik
Pertumbuhan Vietnam ditopang perannya sebagai alternatif China untuk manufaktur berteknologi tinggi. Sektor semikonduktor dan elektronik menjadi mesin utama, terutama setelah perusahaan China dan Taiwan memperluas kapasitas produksi di sana.
Peneliti Senior Institute for Developing Economies, Mai Fujita, seperti dikutip Nikkei Asia, menyebut investasi publik yang agresif turut menopang pertumbuhan. Pemerintah Vietnam memang menargetkan ekonomi tumbuh 10 persen tahun ini.
Untuk mengejar target itu, Vietnam mengalokasikan belanja infrastruktur besar pada jalan, bandara, dan proyek konektivitas lain. Belanja negara dipakai sebagai pemicu investasi swasta, bukan hanya sebagai pos pengeluaran rutin.
Kombinasi manufaktur berorientasi ekspor dan infrastruktur itu membuat pendapatan per penduduk naik lebih cepat. Efeknya terlihat pada angka nominal dalam dolar Amerika Serikat, yang juga dipengaruhi pergerakan kurs domestik.
Ekspor Vietnam dan Peran Perusahaan Asing
Ekspor Vietnam melonjak 25 persen secara tahunan menjadi 434,3 miliar dolar Amerika Serikat sampai kuartal III 2026. Angka itu memberi gambaran seberapa besar kontribusi sektor luar negeri terhadap pertumbuhan.
Foxconn Electronics Group asal Taiwan sedang memperluas kapasitas produksi di Vietnam. Perusahaan Korea seperti Samsung Electronics juga memiliki pabrik ponsel dan perangkat elektronik yang memasok pasar global dari sana.
Menurut Suara.com, ketertarikan pengusaha China pada Vietnam sebagai lokasi pabrik menjadi alasan utama proyeksi IMF tersebut. Relokasi rantai pasok mengalihkan nilai tambah dan lapangan kerja ke negara penerima investasi.
Bagi Indonesia, pola ini menjadi pembanding penting. Negara yang berhasil menaikkan nilai tambah di dalam negeri cenderung mencatat kenaikan pendapatan per kapita lebih cepat daripada negara yang masih bergantung pada ekspor bahan mentah.
Posisi Indonesia: Pertumbuhan 5 Persen dan Kurs
IMF memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen. Investasi baru yang masuk dinilai belum mampu mendongkrak lapangan kerja dan pendapatan secara memadai bagi penduduk.
Faktor lain yang menahan angka nominal adalah pelemahan kurs rupiah. Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, nilai PDB dalam mata uang tersebut ikut tertekan meski aktivitas riil di dalam negeri tidak berubah banyak.
Isu kurs ini bukan hal baru. Pada pertengahan Oktober 2026, rupiah sempat menembus level 18.021 per dolar Amerika Serikat dan memicu penghentian sementara perdagangan di bursa, seperti tercatat dalam artikel tentang rupiah dan IHSG.
Badan Pusat Statistik mencatat PDB per kapita Indonesia pada 2025 sebesar 83,7 juta rupiah atau 5.083,4 dolar Amerika Serikat. Angka itu menjadi basis pembanding sebelum proyeksi 2026 diumumkan.


