Selasa, 3 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Indonesia: Telkom Kantongi Pendapatan Rp113,5 T

3 November 2026 • zul • 7 kali dibaca
Ilustrasi menara telekomunikasi di Yogyakarta, bukan aset milik Telkom yang dilaporkan
Cccefalon, CC BY-SA 3.0, Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Berita indonesia hari ini datang dari laporan keuangan perusahaan telekomunikasi terbesar di Tanah Air. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk membukukan pendapatan konsolidasi Rp113,5 triliun pada sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 3,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka itu disampaikan perusahaan pada 2 November 2026, bersamaan dengan rilisnya laporan kinerja kuartal ketiga.

Berita Indonesia: Pendapatan Rp113,5 Triliun

Pertumbuhan pendapatan didorong oleh bisnis data, internet, dan layanan teknologi informasi. Lini itu mencatat pendapatan Rp71,5 triliun atau naik 8,3 persen secara tahunan, seperti dikutip dari siaran resmi Telkom.

Dari sisi profitabilitas, EBITDA tercatat Rp55,5 triliun atau tumbuh 2,0 persen. Margin EBITDA berada di 48,9 persen, angka yang menunjukkan biaya operasional masih terkendali meski pendapatan tumbuh moderat.

Laba bersih pada periode ini Rp14,4 triliun dengan margin 12,7 persen. Adapun laba bersih normalisasi, yang menyesuaikan pos tertentu, naik 3,9 persen menjadi Rp16,5 triliun dengan margin 14,6 persen.

Tata Atur
Iklan

Perbedaan dua angka itu penting bagi pembaca laporan keuangan. Laba normalisasi memberi gambaran operasi harian, sementara laba bersih mencakup seluruh pos yang memengaruhi hasil periode, termasuk yang sifatnya sementara.

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Empat Segmen yang Menopang Kinerja

Segmen konsumen atau B2C mencakup layanan seluler dan internet tetap. Pendapatannya Rp81,6 triliun, tumbuh 3,5 persen. Di dalamnya, Telkomsel mencatat pendapatan Rp82,9 triliun atau naik 1,8 persen.

Bisnis digital Telkomsel menjadi penopang utama dengan pendapatan Rp60,7 triliun, tumbuh 7,7 persen. Rata-rata pendapatan per pengguna atau ARPU naik 7,1 persen menjadi Rp45.400, sementara data yield tumbuh 6,5 persen.

Perlu dicatat, angka segmen dan angka entitas anak tidak selalu bisa dijumlahkan langsung. Laporan konsolidasi menghapus transaksi antarperusahaan, sehingga pembaca sebaiknya membandingkan tiap segmen dengan periode sebelumnya, bukan menjumlahkannya sendiri.

Kenaikan ARPU menunjukkan upaya perusahaan menaikkan nilai per pelanggan, bukan hanya menambah jumlah pengguna. Strategi itu relevan ketika pasar seluler sudah mendekati jenuh dan penambahan pelanggan baru semakin mahal.

Infrastruktur dan Menara Telekomunikasi

Segmen infrastruktur B2B membukukan pendapatan Rp7,1 triliun, tumbuh 5,5 persen. Pertumbuhan itu didukung layanan pusat data, konektivitas, dan penyewaan infrastruktur milik grup.

Mitratel sebagai anak usaha menara mencatat pendapatan Rp7,01 triliun atau naik 1,8 persen. EBITDA-nya Rp5,81 triliun dengan laba bersih Rp1,55 triliun, dan margin EBITDA 82,9 persen.

Margin setinggi itu lazim pada bisnis menara karena biaya operasional relatif tetap setelah menara berdiri. Namun pertumbuhan pendapatan menara melambat bila penyewa baru tidak bertambah secepat pembangunan menara.

Karena itu, tingkat hunian menara menjadi indikator penting. Menara yang dihuni lebih dari satu operator memberi pendapatan berulang tanpa perlu membangun aset baru di lokasi yang sama.

Layanan Teknologi Informasi dan Usaha Kecil

Segmen B2B ICT mencatat pendapatan Rp11,2 triliun, naik 3,1 persen. Segmen usaha kecil dan menengah menjadi penggerak dengan pertumbuhan 10,2 persen menjadi Rp3,3 triliun.

Jumlah pelanggan Indibiz naik 10,9 persen menjadi 771,1 ribu. Layanan internet kecepatan tinggi untuk korporasi juga tumbuh 6,2 persen pada periode yang sama.

Angka itu menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak hanya datang dari pelanggan perorangan. Segmen usaha kecil memberi margin lebih baik karena nilai kontrak per pelanggan lebih besar dan biaya akuisisi bisa ditekan.

Namun segmen ini juga paling sensitif terhadap kondisi ekonomi. Bila daya beli usaha kecil melemah, perpanjangan kontrak layanan digital bisa tertunda dan pertumbuhan pendapatan ikut melambat.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga