Berita politik dari Brasil menutup akhir pekan ini dengan hasil yang mengejutkan banyak pengamat. Presiden petahana Luiz Inacio Lula da Silva memenangi putaran kedua pemilihan presiden pada Minggu, 25 Oktober 2026, setelah membalikkan ketertinggalan pada putaran pertama. Kemenangan itu memberinya masa jabatan keempat, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi dalam sejarah pemilu langsung negara tersebut. Hasil itu menutup tiga pekan kampanye yang menegangkan setelah putaran pertama berjalan di luar perkiraan.
Berita Politik: Angka Penghitungan Putaran Kedua
Menurut laporan The Guardian, Lula meraih 51,75 persen suara berbanding 48,25 persen untuk Bolsonaro ketika hampir 99 persen suara sudah dihitung. Courthouse News mencatat angka 51,76 persen lawan 48,24 persen dengan 99,82 persen tempat pemungutan suara melapor, mengutip data Pengadilan Pemilu Tertinggi Brasil. Sementara MercoPress menulis 51,78 persen lawan 48,22 persen pada penghitungan 99,97 persen.
Perbedaan kecil pada angka akhir itu lazim terjadi ketika penghitungan belum tuntas. Yang tidak berbeda adalah arah hasilnya: selisih sekitar tiga poin persen cukup untuk menutup jarak dari putaran pertama. MercoPress menyebut Lula memperoleh sekitar 64,2 juta suara, sekitar 4,4 juta lebih banyak daripada Bolsonaro yang mendapat 59,8 juta suara. Pengadilan pemilu menyatakan Lula menang secara matematis tak lama setelah pukul 21.00 waktu Brasilia.
Hasil itu juga dikonfirmasi media nasional Indonesia. CNN Indonesia dan detikcom memberitakan Lula kembali memenangi kursi presiden pada putaran kedua yang digelar Minggu waktu setempat. Keduanya menempatkan peristiwa ini sebagai berita utama dunia, bukan sekadar catatan pinggir.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Jalan Lula dari Putaran Pertama
Pada putaran pertama 4 Oktober 2026, Bolsonaro justru unggul dengan 47,03 persen suara sah, sedangkan Lula hanya 45,16 persen. Angka itu menempatkan Lula di posisi kedua dan memicu gelombang keraguan di kalangan pendukungnya. Sebagian survei bahkan memperkirakan persaingan berakhir imbang pada putaran kedua.
Datafolha, lembaga survei yang dirujuk banyak media, memberi masing-masing kandidat 50 persen suara sah menjelang pemungutan. Artinya, hasil akhir di luar rentang yang diperkirakan lembaga survei. Pola ini sejalan dengan suasana pemilu di banyak negara tahun ini, ketika hasil resmi sering berbeda dari proyeksi lembaga jajak pendapat.
Penghitungan berjalan berlapis. Lula sempat tertinggal, lalu menyalip ketika sekitar separuh suara terhitung, dan tidak kehilangan keunggulan setelahnya. Bagi pendukungnya, urutan penghitungan itu menambah ketegangan yang sudah berlangsung tiga pekan sejak putaran pertama.
Mengapa Hasil Ini Disebut Bersejarah
Lula kini berusia 80 tahun. Menurut catatan Courthouse News, ia menjadi kandidat presiden pertama sejak Brasil kembali ke demokrasi yang memenangi putaran kedua setelah kalah di putaran pertama. Ia juga menjadi presiden pertama pada periode yang sama yang terpilih empat kali melalui pemilihan langsung.
Rekam jejaknya panjang. Lula memerintah pada 2003 sampai 2010, lalu kembali ke kursi presiden pada 2023 setelah mengalahkan Jair Bolsonaro dengan 50,90 persen suara. Kemenangan 2026 memberinya mandat untuk periode 2027 sampai 2030, dengan selisih yang lebih lebar daripada pemilu sebelumnya.
Pengamat menilai hasil ini menghentikan gelombang kemenangan politik kanan di Amerika Latin. Sejumlah negara di kawasan itu dalam dua tahun terakhir bergeser ke pemerintahan yang lebih konservatif. Brasil, sebagai ekonomi terbesar di kawasan, sering dijadikan penanda arah politik regional.
Tudingan soal Proses Pemilu
Hari pemungutan tidak berjalan mulus sepenuhnya. Bloomberg, yang dilansir sejumlah media, menyebut ada tudingan soal penekanan pemilih dan perpanjangan jam pemungutan suara pada menit terakhir. Tudingan itu belum disertai putusan resmi dari pengadilan pemilu.
Kubu Bolsonaro belum menyampaikan pernyataan tertulis yang dirilis resmi setelah kekalahan ini. Dalam tradisi pemilu Brasil, kandidat yang kalah biasanya menyampaikan pernyataan publik dalam hitungan jam setelah hasil resmi dibacakan. Sikap resmi tertulis masih ditunggu wartawan di Brasilia.
Yang jelas, pengadilan pemilu sudah menyatakan hasil akhir. Sertifikasi resmi menjadi dasar bagi transisi pemerintahan, termasuk penyusunan kabinet dan pembahasan anggaran tahun pertama. Tanpa sertifikasi, proses itu tidak bisa berjalan.


