Senin, 2 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Viral: CEO Apple Menolak Kirim AI demi AI Semata

2 November 2026 • zul • 13 kali dibaca
Ilustrasi kantor pusat Apple Park di Cupertino saat senja
Dicklyon, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0
ASM Group
Iklan

Berita viral dari dunia teknologi pekan ini datang dari pernyataan CEO Apple John Ternus soal kecerdasan buatan. Dalam wawancara dengan Wired, ia menegaskan Apple tidak ingin mengirim fitur AI hanya demi mengejar label AI. Menurutnya, pengguna tidak perlu tahu apakah sebuah fitur dibuat dengan AI atau perangkat lunak biasa, selama fitur itu berguna.

Berita Viral: CEO Apple Menolak Kirim AI demi AI Semata

Pernyataan itu disampaikan Ternus kepada jurnalis Wired, Steven Levy. Ia mengakui banyak pihak punya pendapat berbeda soal posisi Apple di bidang AI. Namun ia menyatakan puas dengan posisi perusahaan saat ini.

Kutipan lengkapnya berbunyi, Apple benar-benar akan memanfaatkan AI, tetapi tidak ingin mengirim AI demi AI. Ia menambahkan, bila dilakukan dengan benar, orang tidak perlu memikirkan apakah AI yang membuat sesuatu terjadi atau perangkat lunak biasa.

Pernyataan tersebut kemudian diliput TechCrunch dan Yahoo Finance. Keduanya menyoroti kalimat yang sama, yaitu soal tidak mengirim AI demi AI. Kutipan itu menjadi bahan perdebatan karena Apple selama ini dianggap tertinggal.

Tata Atur
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Apa yang Dikatakan Ternus kepada Wired

Dalam wawancara itu, Ternus membela pendekatan Apple yang dinilai lebih lambat dibanding pesaing. Ia menyebut perusahaan tetap akan memakai AI secara agresif di produk baru. Namun ia menolak menjadikan AI sebagai tujuan itu sendiri.

Ketika ditanya soal agen AI yang mungkin membuat aplikasi tidak lagi diperlukan, Ternus menjawab dengan hati-hati. Ia menilai hal itu bisa membuat hidup lebih mudah. Namun ia menegaskan penciptaan produk adalah hal yang sangat manusiawi dan personal.

Ia juga menyebut ukuran keberhasilan bukan jumlah fitur AI yang dipasang. Ukuran yang ia pakai adalah apakah Apple berhasil membuat sesuatu yang benar-benar disukai pengguna. Pernyataan itu ia sampaikan berulang dalam wawancara tersebut.

Konteks Keterlambatan Siri dan Tekanan Pesaing

Apple memang lama dikritik karena dianggap tertinggal dalam perlombaan AI. Perusahaan menunda peluncuran versi Siri yang lebih kuat. Versi baru itu akhirnya bergulir pada 2026 setelah melalui penundaan panjang.

Ternus sendiri baru menjabat CEO pada awal September 2026. Sebelumnya ia merupakan eksekutif lama di perusahaan tersebut. Karena itu, wawancara ini dibaca sebagai pernyataan arah kepemimpinan, bukan sekadar komentar teknis.

Tekanan pesaing juga nyata. Google, Microsoft, dan sejumlah perusahaan lain gencar memasang fitur AI di produk mereka. Sebagian di antaranya mengklaim kemampuan yang jauh melampaui asisten suara generasi sebelumnya.

Arti AI demi AI dalam Praktik Produk

Istilah AI demi AI merujuk pada praktik menambahkan fitur AI tanpa manfaat jelas bagi pengguna. Contohnya adalah tombol AI yang tidak menyelesaikan masalah nyata. Kritik terhadap praktik ini muncul di banyak industri, bukan hanya Apple.

Pendekatan Apple lebih menekankan integrasi senyap. Fitur AI bekerja di belakang layar untuk memperbaiki foto, menyusun kalimat, atau mengenali konteks. Pengguna mungkin tidak menyadari bahwa AI terlibat dalam proses tersebut.

Namun pendekatan ini punya risiko. Bila perusahaan terlalu sedikit berbicara, pasar bisa menilai Apple tidak berinovasi. Di sisi lain, bila terlalu banyak berjanji, perusahaan berisiko kecewa saat fitur belum siap.

Respons Pengamat dan Perdebatan di Media Sosial

Pernyataan Ternus memancing dua kubu di media sosial. Kubu pertama menilai Apple sedang membangun produk yang matang, bukan mengejar tren. Kubu kedua melihatnya sebagai pembenaran karena kalah cepat dari pesaing.

Sejumlah pengamat menilai kalimat itu cerdas secara komunikasi. Apple tidak perlu mengklaim unggul di benchmark, cukup meyakinkan pengguna bahwa produknya bekerja. Strategi itu sejalan dengan citra perusahaan yang menjual pengalaman, bukan spesifikasi.

Kritik yang muncul adalah soal transparansi. Bila AI dipakai secara senyap, pengguna sulit mengetahui kapan keputusan diambil oleh model. Isu ini menyangkut privasi dan akuntabilitas, dua hal yang sensitif bagi pengguna Apple.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga